Bukit Asam (PTBA) Kejar Hilirisasi, Batu Bara Jadi Gas hingga Bahan Baterai
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id — PT Bukit Asam (Persero) Tbk (PTBA) mempercepat hilirisasi batu bara untuk memperluas sumber pendapatan dan memperkuat ketahanan energi nasional. Perseroan menyiapkan pengolahan batu bara menjadi gas alam sintetis, metanol dan dimetil eter sebagai alternatif pengganti sebagian penggunaan elpiji, pembenah tanah, hingga material untuk industri baterai.
Untuk mendukung transformasi tersebut, Bukit Asam mengalokasikan cadangan batu bara sebesar 1,145 miliar ton bagi pengembangan industri kimia berbasis batu bara dan bisnis pembangkitan listrik. Alokasi itu terdiri atas 842 juta ton untuk coal to chemicals atau pengolahan batu bara menjadi produk kimia serta 303 juta ton untuk pembangkit. Cadangan tersebut disiapkan untuk menopang pengembangan usaha jangka panjang.
Baca Juga
Empat proyek utama dalam peta jalan perusahaan, meliputi pengolahan batu bara menjadi metanol/dimetil eter (DME), gas alam sintetis atau synthetic natural gas (SNG), kalium humat, serta pembangkit listrik bagi smelter aluminium. Proyek-proyek tersebut ditempatkan dalam rentang target operasi komersial atau commercial operation date (COD) 2028–2031.
Melalui hilirisasi, Bukit Asam ingin meningkatkan nilai ekonomi cadangan batu bara sekaligus membangun pasar yang lebih terencana. Namun, realisasinya masih membutuhkan penyelesaian sejumlah aspek penting, terutama kesepakatan harga jual, kepastian penyerapan produk, pemilihan mitra, serta pembiayaan pembangunan.
Dalam paparan manajemen kepada media, Jumat (02/10/2026), Direktur Utama Bukit Asam Bambang Ismawan menekankan pentingnya mempercepat transformasi perusahaan. Menurut dia, batu bara perlu dimanfaatkan untuk menghasilkan produk bernilai lebih tinggi agar manfaat sumber daya alam bagi perekonomian dan masyarakat semakin besar.
Bambang menilai Indonesia perlu mengejar ketertinggalan dari negara yang telah lebih dahulu membangun industri pengolahan batu bara, terutama Tiongkok. Pengalaman negara tersebut menjadi salah satu rujukan perseroan untuk memperluas pemanfaatan batu bara di luar penjualan sebagai bahan bakar.
Direktur Hilirisasi dan Diversifikasi Produk Bukit Asam Turino Yulianto pada kesempatan yang sama menjelaskan bahwa perusahaan menyiapkan beberapa jalur pengembangan dengan tingkat kesiapan dan kebutuhan investasi yang berbeda. Sebagian masih dalam tahap riset, sedangkan proyek lainnya telah melalui kajian kelayakan dan sedang dipersiapkan menuju pembangunan.
Bagi manajemen, pengembangan produk turunan dan industri pengguna memiliki manfaat ganda. Selain membuka sumber pendapatan baru, langkah tersebut diharapkan menciptakan permintaan batu bara jangka panjang. Turino menyebut keberlanjutan usaha dalam horizon 20–30 tahun sebagai salah satu pertimbangan utama.
Salah satu proyek andalan ialah pengolahan batu bara menjadi metanol dan DME. Dalam skema yang dipaparkan, Bukit Asam akan memasok sekitar 7,33 juta ton batu bara per tahun untuk diolah menjadi gas sintesis atau syngas, kemudian menjadi metanol berkapasitas 2 juta ton per tahun.
Pertamina Group ditempatkan sebagai calon pembeli metanol, yang selanjutnya diarahkan untuk bahan baku DME dan industri hilir. Dengan demikian, kapasitas 2 juta ton per tahun dalam skema tersebut mengacu pada produksi metanol, sedangkan pengolahannya menjadi DME merupakan tahap lanjutan.
Pengembangan DME diarahkan untuk mendukung pengurangan ketergantungan Indonesia terhadap impor elpiji. Pada saat yang sama, metanol membuka peluang pemanfaatan lebih luas dalam industri kimia dan berbagai produk turunannya.
Dalam paparan publik sebelumnya, perseroan menargetkan konstruksi proyek DME dan SNG dapat dimulai pada 2027. Adapun materi peta jalan perusahaan mencantumkan target operasi komersial proyek coal to methanol/DME pada kuartal IV-2030. Pengembangannya berada dalam koordinasi Danantara/DDM, MIND ID, Bukit Asam, dan Pertamina Group.
Persiapan lahan menjadi salah satu kemajuan proyek metanol/DME. Perseroan menyebut lahan pabrik seluas 197 hektare telah disiapkan dengan tingkat pembebasan mencapai 97,08%. Selain itu, terdapat pembahasan draf rancangan peraturan presiden terkait harga metanol/DME.
Turino menempatkan dukungan Danantara sebagai unsur penting untuk mempertemukan kepentingan perusahaan tambang, pengolah, pembeli produk, dan penyedia pembiayaan. Menurut dia, proyek strategis berskala besar membutuhkan koordinasi lintas perusahaan dan dukungan pemerintah agar dapat berlanjut dari perencanaan ke pelaksanaan.
Dalam skema penyerapan produk yang pernah disampaikan perusahaan, Pertamina Patra Niaga disiapkan sebagai calon pembeli DME. Kepastian penyerapan tersebut perlu diikuti kesepakatan harga dan struktur bisnis yang mendukung kelangsungan operasi.
Bukit Asam mencantumkan potensi peningkatan nilai tambah sekitar 3,4 kali untuk jalur metanol/DME. Angka tersebut merupakan indikasi nilai tambah produk dalam paparan perusahaan, sehingga tidak dapat langsung diartikan sebagai kenaikan laba bersih atau tingkat pengembalian investasi.
Proyek energi lainnya ialah pengolahan batu bara menjadi SNG. Perseroan mengarahkan proyek ini untuk menyediakan alternatif pasokan gas bagi Sumatra Selatan dan Jawa bagian barat, dengan kapasitas yang ditampilkan sebesar 237,5 BBTUD.
Dalam skema proyek, Bukit Asam menyiapkan pasokan batu bara sekitar 9,78 juta ton per tahun. Pengolahan direncanakan melibatkan Bukit Asam, PGN, dan mitra, sedangkan PGN ditempatkan sebagai pembeli SNG untuk selanjutnya disalurkan kepada pelanggan.
Turino menjelaskan bahwa gas hasil pengolahan batu bara tersebut diarahkan untuk memenuhi kebutuhan industri melalui jaringan perpipaan. Proyek ini diharapkan membantu menjawab keterbatasan pasokan gas di sejumlah wilayah industri, termasuk Jawa Barat.
Menurut dia, ketersediaan cadangan batu bara memberikan landasan bagi kesinambungan pasokan bahan baku. Namun, pembahasan komersial masih harus dituntaskan, terutama untuk mempertemukan harga yang dibutuhkan pengembang proyek dengan harga yang dapat diterima pembeli.
Dari sisi kemajuan, materi perusahaan mencatat kajian internal bersama PGN telah selesai. Bukit Asam dan PGN juga telah menandatangani head of agreement untuk kerja sama studi kelayakan gasifikasi batu bara menjadi SNG. Studi kelayakan bersama proyek tersebut dinyatakan selesai.
Tahap berikutnya mencakup penentuan keputusan keberlanjutan proyek, koordinasi dengan kementerian atau lembaga terkait, serta penjajakan calon mitra teknologi, investor, dan pelaksana rekayasa, pengadaan, serta konstruksi atau EPC.
Dalam paparan perusahaan, potensi peningkatan nilai tambah jalur SNG dicantumkan sekitar 5,7 kali. Meski demikian, kemampuan menghasilkan produk secara teknologi tetap perlu diikuti kelayakan usaha, termasuk biaya produksi dan kepastian pasar.
Di luar kedua proyek energi tersebut, Bukit Asam mengembangkan kalium humat untuk mendukung sektor pertanian. Produk hasil pengolahan batubara ini dimanfaatkan sebagai pembenah tanah dan diarahkan untuk mendukung ketahanan pangan nasional.
Baca Juga
Kapasitas pengembangan yang tercantum dalam materi perusahaan mencapai 10.000 ton kalium humat per tahun, dengan Universitas Gadjah Mada sebagai mitra. Perseroan menyebut pembangunan dan produksi pabrik fase pertama serta pendaftaran merek BAGrow sebagai bagian dari kemajuan proyek. Target operasi komersial pengembangan dalam peta jalan dicantumkan pada kuartal IV-2028.
Pengembangan tersebut telah memiliki pijakan berupa fasilitas percontohan. Dalam paparan publik September 2026, Bukit Asam menyebut kapasitas fasilitas percontohan kalium humat sekitar 171 ton per tahun, sebelum dikembangkan menuju skala yang lebih besar.
Penerapannya juga telah diuji di sektor pertanian. Pada Maret 2026, perseroan menggelar panen raya di lahan yang menggunakan kalium humat di Desa Tanjung Karangan, Kabupaten Muara Enim. Program itu menjadi bagian dari upaya menghubungkan hilirisasi batubara dengan peningkatan produktivitas pertanian dan pendapatan masyarakat sekitar tambang.
Turino juga menyinggung penjajakan pengembangan amonia bersama industri pupuk. Peluang tersebut membuka kemungkinan pemanfaatan batu bara sebagai bahan baku bagi sektor lain, meskipun masih perlu dibedakan dari proyek yang telah memiliki kepastian pembangunan dan penyerapan produk.
Selain energi dan pertanian, Bukit Asam menjajaki pengolahan batu bara menjadi grafit sintetis dan lembaran anoda untuk industri baterai. Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dicantumkan sebagai mitra pengembangan.
Skala pengembangan yang ditampilkan dalam materi perusahaan mencapai 460 ton grafit per tahun dan 3,6 ton lembaran anoda per tahun. Turino menyampaikan bahwa jalur tersebut masih terkait kegiatan riset dan pengembangan teknologi, sehingga kesiapan komersialisasinya masih harus dibuktikan.
Peluang produk turunan yang lebih luas tergambar dalam pohon industri batu bara pada materi perusahaan. Melalui berbagai jalur pengolahan, batu bara dapat diarahkan menjadi gas sintesis, metanol, DME, amonia, bahan bakar cair, material karbon, hingga bahan baku industri kimia lanjutan. Peta tersebut menggambarkan kemungkinan rantai pengolahan, sementara pelaksanaan setiap proyek tetap memerlukan kajian dan keputusan investasi tersendiri.
Bukit Asam juga menempatkan penyediaan energi untuk industri pengolahan mineral sebagai bagian dari transformasi bisnis. Perseroan menyiapkan proyek PLTU Smelter Mempawah berkapasitas 1.250 megawatt untuk mendukung kebutuhan listrik smelter aluminium Inalum di Mempawah, Kalimantan Barat.
Proyek bersama PT Inalum tersebut ditargetkan mencapai operasi komersial pada kuartal III-2029. Materi perusahaan mencatat pelaksanaan peletakan batu pertama integrasi bauksit, alumina, dan aluminium serta penandatanganan head of agreement sebagai bagian dari perkembangannya.
Melalui proyek pembangkit ini, batu bara menjadi sumber energi bagi pengolahan mineral menjadi produk bernilai lebih tinggi di dalam negeri. Peran Bukit Asam sekaligus memperkuat keterkaitan usaha dalam Grup MIND ID.
Terkait lingkungan, Turino mengemukakan bahwa perusahaan mempelajari teknologi pembangkit yang lebih efisien untuk menekan emisi, dengan pengembangan di Tiongkok sebagai salah satu rujukan. Namun, paparan tersebut belum menyertakan data teknis yang memungkinkan perbandingan terukur atas emisi proyek-proyek yang direncanakan.
Baca Juga
Bukit Asam (PTBA) Raup Laba Rp 2,65 Triliun, Kinerja Operasional dan Ekspor Membaik
Di tengah persiapan hilirisasi, Bambang menegaskan bahwa pembenahan operasional pertambangan tetap menjadi prioritas. Perseroan berupaya memperbaiki perencanaan penambangan, meningkatkan efisiensi, serta menjaga kualitas dan kelancaran produksi.
Salah satu perhatian utama ialah biaya bahan bakar minyak. Menurut Bambang, kenaikan biaya BBM menekan ongkos operasional sehingga perusahaan perlu mempercepat pemanfaatan kendaraan listrik di area tambang.
Penerapannya direncanakan bertahap melalui uji coba pada lokasi dengan kondisi yang sesuai, termasuk lintasan relatif datar. Perseroan ingin memperoleh pengalaman operasional sebelum memperluas penggunaannya.
Manajemen berharap elektrifikasi dapat menekan ketergantungan terhadap BBM sekaligus memanfaatkan ketersediaan listrik perusahaan. Langkah tersebut diarahkan untuk memperbaiki struktur biaya pertambangan.
Dari sisi produksi, Bambang menyampaikan sasaran sekitar 50 juta ton hingga akhir 2026. Ia mengakui bahwa cuaca, khususnya hujan, dapat memengaruhi kegiatan penambangan. Karena itu, perseroan berupaya memaksimalkan periode operasional yang memungkinkan agar target tahunan dapat dikejar.
Kelancaran angkutan turut menjadi perhatian. Manajemen menekankan pentingnya jalur kereta api yang menghubungkan wilayah tambang dengan fasilitas pengiriman di Sumatra Selatan dan Lampung. Kapasitas logistik dibutuhkan agar peningkatan produksi dapat diikuti kelancaran penyaluran kepada pelanggan.
Baca Juga
Bukit Asam (PTBA) Kembangkan Hilirisasi Batu Bara hingga PLTS untuk Diversifikasi Bisnis
Bambang juga menyampaikan optimisme terhadap kinerja keuangan. Ia menyebut laba semester pertama 2026 meningkat tajam dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, dengan perkembangan usaha pada Juli dan Agustus yang dinilai tetap baik. PTBA mencatat laba bersih semester I-2026 sebesar Rp2,65 triliun, tumbuh sekitar 280%.
Di sisi lain, manajemen menyoroti perlunya pembagian tanggung jawab yang lebih adil dalam pemenuhan kebutuhan batu bara domestik. Bambang menyampaikan bahwa porsi pasokan dalam negeri Bukit Asam cukup besar dan meminta agar kewajiban menjaga ketahanan energi menjadi tanggung jawab bersama seluruh produsen.
Ia menegaskan bahwa perseroan tetap memprioritaskan kebutuhan nasional, termasuk pasokan kepada PLN. Komitmen tersebut, menurut dia, perlu diikuti pembenahan perencanaan, pengadaan, dan distribusi agar kebutuhan pembangkit dapat dipenuhi secara konsisten.
Bambang mempertanyakan bagaimana kekurangan pasokan pembangkit masih dapat terjadi ketika produksi batu bara nasional sangat besar. Ia menilai koordinasi dan tata kelola perlu diperbaiki agar masyarakat tidak menghadapi gangguan listrik akibat persoalan pasokan yang seharusnya dapat diantisipasi.
Dari sisi pasar, Bambang menilai harga batu bara turut dipengaruhi gangguan logistik dan geopolitik. Penyusutan permukaan sungai di Kalimantan, menurut dia, dapat menghambat pengiriman, sedangkan konflik di Timur Tengah memengaruhi dinamika kebutuhan energi. Kedua faktor tersebut dinilainya ikut menopang harga jual batubara.
Dalam kesempatan yang sama, Bambang memperkenalkan jajaran pengurus perusahaan hasil rapat pemegang saham Juni 2026 dan menekankan keterbukaan terhadap masukan. Ia menyampaikan bahwa pembenahan perusahaan membutuhkan kesediaan mengakui kekurangan serta memperbaiki tata kelola.
Baca Juga
Bukit Asam (PTBA) Siapkan Produksi 2027, Fokus Pasokan Domestik dan Ekspor
Transformasi yang kini disiapkan melanjutkan diversifikasi usaha Bukit Asam dari pertambangan ke industri briket dan pembangkitan listrik. Dalam materi perusahaan, pengembangan industri briket ditampilkan sejak 1996, sementara portofolio pembangkit mencakup PLTU dengan total kapasitas 1,6 gigawatt serta PLTS sebesar 1,02 megawatt-peak.
Untuk periode setelah 2030, perseroan membidik pengembangan usaha yang mencakup pertambangan, briket, pembangkit listrik, kalium humat, energi alternatif berbasis batu bara, grafit sintetis, lembaran anoda, serta peluang pemanfaatan logam tanah jarang.
Bagi Bukit Asam, keberhasilan transformasi akan ditentukan oleh kemampuan mengubah cadangan dan hasil kajian menjadi fasilitas industri yang beroperasi serta menghasilkan pendapatan. Kepastian harga, pembeli, pembiayaan, dan pelaksanaan pembangunan menjadi kunci agar hilirisasi dapat memperbesar manfaat batubara bagi perusahaan, masyarakat, dan perekonomian nasional.
