Penerbitan Surat Utang Korporasi Terkontraksi 12,75%, Jadi Rp 139,65 Triliun
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Penerbitan surat utang korporasi pada Januari-September 2026 terkontraksi 12,75% menjadi Rp 139,65 triliun atau hampir Rp 140 triliun, dari Rp 160 triliun pada periode sama tahun lalu.
Head of Economic Research Division Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) Suhindarto menyebut, ada beberapa penyebab yang membuat penerbitan surat utang korporasi dalam sembilan bulan pertama tahun ini mengalami moderasi.
“Paling utama sebenarnya dari sisi biaya dana yang sepanjang tahun ini naik cukup signifikan, terutama sejak kuartal II-2026 kemarin atau April,” ujar Darto dalam konferensi pers secara virtual, Rabu (14/10/2026).
Biaya dana meningkat, seiring kenaikan yield benchmark di pasar surat utang, seperti Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) dan Surat Berharga Negara (SBN). Akibat kenaikan yield kedua instrumen ini maka kupon yang terbentuk di pasar ikut naik.
Pefindo mencatat, kupon yang terbentuk di pasar mulai mengalami kenaikan sejak April 2026, dengan puncaknya diperkirakan pada Juli 2026. Sementara pada Agustus dan September kupon telah relatif landai, mengikuti yield benchmark di periode sama yang juga relatif landai.
“Namun posisinya masih relatif lebih tinggi dibandingkan awal tahun ini dan periode sama tahun lalu. Sehingga seiring biaya bunga yang relatif lebih tinggi ini, penerbitan surat utang korporasi 2026 relatif mengalami moderasi,” simpulnya.
Secara profil, penerbitan surat utang korporasi sepanjang tiga kuartal tahun ini dari emiten berperingkat AAA relatif turun dengan porsi 41,29%, padahal sebelumnya hampir mencapai 60%. Tingginya proporsi penerbitan obligasi korporasi emiten berperingkat AAA tahun lalu disebabkan biaya dana yang lebih murah.
Sementara, porsi penerbitan surat utang korporasi dari perusahaan dengan peringkat (single) A naik menjadi 39,84%, disusul perusahaan berperingkat double A yang naik menjadi 18,7%.
Di sisi lain, penerbitan surat utang dengan tenor satu tahun hingga September 2026 cukup mendominasi dengan proporsi sekitar 34,77%, disusul tenor tiga tahun 30,97%, dan tenor lima tahun 23,66%. Darto menjelaskan, penerbitan surat utang bertenor pendek cenderung lebih banyak ketika suku bunga tinggi, sebagaimana terjadi tahun ini.
“Biasanya menjadi strategi ketika suku bunga tinggi dengan harapan ketika jatuh tempo satu tahun ke depan, emiten bisa membiayai kembali (refinancing) dengan surat utang saat suku bunga menjadi lebih rendah,” sambungnya.
Kondisi tersebut berbeda dengan 2025, ketika suku bunga relatif rendah dan membuat penerbitan obligasi tenor lima tahun cenderung lebih banyak. “Biasanya emiten ingin mengunci biaya murah tersebut untuk membiayai usahanya atau operasionalnya,” imbuh Darto.
Dia pun menyimpulkan, kupon obligasi korporasi untuk perusahaan dengan peringkat rendah yield atau biaya dana lebih tinggi dibandingkan kredit perbankan.
“Dengan kondisi seperti ini ke depan kami perhatikan akan lebih banyak emiten-emiten berperingkat AA ke atas yang menerbitkan surat utang karena biaya dana masih relatif lebih rendah dibandingkan rata-rata suku bunga pinjaman dari perbankan,” pungkasnya.
