Penerbitan Obligasi Korporasi Turun, Sektor Pulp dan Kertas Jadi Motor Utama
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Penerbitan surat utang korporasi di Indonesia hingga September 2026 tercatat sebesar Rp 139,6 triliun, lebih rendah dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp 159 triliun.
Meski demikian, nilai penerbitan surat utang korporasi masih lebih tinggi dibandingkan nilai surat utang yang jatuh tempo, sehingga pasar obligasi korporasi masih mencatatkan pertumbuhan secara outstanding.
Head of Economic Research Division Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) Suhindarto mengatakan, outstanding surat utang korporasi per akhir September 2026 telah mencapai Rp 576,1 triliun. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan posisi akhir 2025.
“Artinya penerbitan surat utang korporasi masih cenderung positif secara outstanding, jadi pasar surat utang korporasinya masih tumbuh dibandingkan periode tahun sebelumnya,” ujar Darto dalam konferensi pers secara virtual, Rabu (14/10/2026).
Berdasarkan jenis instrumen, penerbitan obligasi dan sukuk hingga September 2026 mencapai Rp 132,4 triliun, turun sekitar 16,81% dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp 159 triliun.
Sebaliknya, penerbitan medium term notes (MTN) menunjukkan peningkatan. Jika pada periode yang sama tahun lalu penerbitan MTN hanya mencapai Rp 800 miliar, pada tahun ini nilainya meningkat menjadi Rp 7,1 triliun.
Adapun instrumen surat utang lainnya berasal dari penerbitan perpetual yang dilakukan pada kuartal III-2026, dengan nilai sekitar Rp 220 miliar.
Dominasi Emiten Swasta
Dari sisi kelompok penerbit, perusahaan swasta mendominasi penerbitan surat utang korporasi hingga September 2026. Nilai penerbitan dari kelompok swasta mencapai Rp 97,5 triliun, sedangkan penerbit dari kelompok BUMN, BUMD, dan entitas yang terafiliasi dengan pemerintah baru mencapai Rp 42,2 triliun.
Menurut Suhindarto, komposisi tersebut berbeda dibandingkan tahun lalu, ketika nilai penerbitan dari kelompok BUMN dan swasta relatif berdekatan.
Baca Juga
Pemprov DKI Rencanakan Penerbitan Obligasi Daerah Rp 4,23 Triliun pada 2027
Perbedaan komposisi penerbit juga terlihat dari tujuan penggunaan dana. Pada 2026, penerbitan surat utang untuk kebutuhan modal kerja mengalami penurunan cukup signifikan. Sebaliknya, penerbitan yang ditujukan untuk investasi mengalami peningkatan.
Sementara itu, penerbitan untuk kebutuhan refinancing atau pembiayaan kembali utang relatif stabil, dengan porsi di kisaran 28% hingga 30%.
Suhindarto menjelaskan, tingginya biaya dana membuat perusahaan lebih berhati-hati dalam menghimpun dana untuk kebutuhan modal kerja melalui pasar surat utang korporasi.
Dalam kondisi tersebut, perusahaan cenderung mempertimbangkan alternatif pembiayaan lain, seperti menggunakan kas internal maupun memperoleh pinjaman dari perusahaan induk.
Pulp dan Kertas Penerbit Terbesar
Berdasarkan sektor industri, pulp dan kertas menjadi sektor dengan penerbitan surat utang korporasi terbesar hingga September 2026, dengan nilai mencapai Rp 21,2 triliun. Penerbitan dari sektor ini terutama berasal dari instrumen obligasi dan sukuk.
Posisi berikutnya ditempati sektor pembiayaan konsumen otomotif atau multifinance dengan nilai penerbitan Rp 18,4 triliun. Selanjutnya, sektor entitas terkait pemerintah di bidang layanan publik mencatatkan penerbitan sebesar Rp 16,7 triliun.
Adapun sektor pertambangan membukukan penerbitan Rp 14,7 triliun, diikuti sektor perbankan sebesar Rp 14 triliun.
Secara keseluruhan, Pefindo telah memeringkat surat utang senilai sekitar Rp 116,8 triliun. Dengan demikian, lebih dari 80% penerbitan surat utang korporasi pada 2026 telah menggunakan pemeringkatan Pefindo.
Komposisi sektoral penerbitan surat utang yang diperingkat Pefindo relatif serupa dengan komposisi secara nasional. Sektor pulp dan kertas tetap menjadi kontributor terbesar, disusul entitas terkait pemerintah di bidang layanan publik, pertambangan, perbankan, serta pembiayaan konsumen otomotif.
Yield Naik
Tren yield surat utang korporasi sepanjang 2026 naik, namun premi risiko relatif terjaga. Kenaikan imbal hasil tercermin pada rata-rata kupon penerbitan surat utang dalam sembilan bulan tahun ini.
Untuk obligasi berperingkat triple A dengan tenor satu tahun, rata-rata kupon tercatat sekitar 6,5%. Angka ini meningkat dibandingkan rata-rata kupon pada 2025 yang masih sedikit di atas 6%.
Sementara itu, rata-rata kupon obligasi berperingkat double A dengan tenor satu tahun justru masih menunjukkan penurunan. Namun, Pefindo menilai kondisi tersebut lebih dipengaruhi oleh terbatasnya jumlah penerbitan yang menjadi observasi pada tahun ini.
Penerbitan obligasi double A tenor satu tahun masih didominasi transaksi pada awal tahun, sebelum kenaikan kupon terjadi secara lebih luas di pasar.
Sementara tenor tiga dan lima tahun, yang dinilai lebih representatif, rata-rata kupon obligasi berperingkat double A telah meningkat hingga di atas 7%.
Adapun obligasi berperingkat single A mengalami kenaikan kupon yang lebih tinggi. Pada tenor satu tahun, rata-rata kupon yang pada 2025 berada di kisaran 7%–7,5% kini telah melampaui 8%.
