Masuk HSC dengan Kepemilikan Terkonsentrasi 95,58%, Saham Mitratel (MTEL) Masih Menarik?
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Saham PT Dayamitra Telekomunikasi Tbk (MTEL) atau Mitratel tetap menarik untuk dilirik didukung empat katalis utama. Meski saham anak usaha PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) ini resmu masuk dalam daftar daftar kepemilikan saham terkonsentrasi tinggi (high shareholding concentration/HSC).
Bursa Efek Indonesia (BEI) sebelumnya memasukkan saham Mitratel (MTEL) dalam daftar kepemilikan saham terkonsentrasi tinggi (high shareholding concentration/HSC). Berdasarkan data sebanyak 95,58% kepemilikan saham MTEL dimiliki sejumlah tertentu.
MNC Sekuritas dalam riset terbarunya mempertahankan rekomendasi beli saham MTEL dengan target harga Rp 650. Dengan harga penutupan Rp 456, saham MTEL menunjukkan potensi penguatan lebih dari 42%. Target tersebut mencerminkan perkiraan EV/EBITDA tahun fiskal 2026 sebesar 9,2 kali. Transformasi bisnis MTEL menuju penyediaan layanan terintegrasi menara, fiber optik, dan energi dinilai belum sepenuhnya tercermin dalam valuasi sahamnya.
Baca Juga
Merger Mitratel (MTEL)-Tower Bersama (TBIG) Mencuat, Begini Respons Danatara
Analis MNC Sekuritas Christian Sitorus mengatakan, ada empat katalis penopang penguatan harga saham dan kinerja keuangan MTEL. Pertama, percepatan adopsi paket layanan menara, fiber optik, dan energi. Kedua, ekspansi FWA termasuk kesepakatan dengan pelanggan kedua, ketiga percepatan konsolidasi industri yang membuka potensi penghematan biaya O&M sekitar 20%, dan keempat peningkatan kolokasi di luar Jawa oleh operator selain Telkomsel.
“Wilayah di luar Jawa tetap menjadi mesin pertumbuhan utama MTEL. Hingga semester I-2026, sebanyak 59% menara perseroan berada di luar Jawa. Dengan tingkat kolokasi atau tenancy ratio sekitar 1,5 kali, MTEL masih memiliki ruang untuk meningkatkan pendapatan melalui penambahan penyewa pada menara yang sudah tersedia,” tulisnya dalam riset tersebut.
Terkait empat katalis utama tersebut, Christian mengatakan, percepatan layanan terintegrasi menara, fiber optik, dan energi yang berpeluang mendongkrak pendapatan MTEL per lokasi. Integrasi ketiga layanan tersebut berpotensi meningkatkan pendapatan per lokasi sekitar 15–16% dibandingkan penyewaan menara saja. “Katalis ini bergantung pada kecepatan adopsi paket layanan oleh pelanggan,” tulisnya.
Selain bisnis menara dan fiber optik, Mitratel (MTEL) diuntungkan pengembangan layanan energi melalui model Power-as-a-Service (PaaS) melalui optimalisasi panel surya, baterai, dan pasokan listrik dari PLN. Layanan ini terutama dikembangkan di luar Jawa. Sekitar 300 lokasi yang dilengkapi panel surya telah terpasang. Pada sejumlah lokasi, panel surya dipasang di atap rumah warga di sekitar menara.
Baca Juga
IMF Perkirakan Ekonomi Dunia Tumbuh 3,1% pada 2026, Ingatkan Sejumlah Risiko Ini
Katalis kedua adalah percepatan ekspansi fixed wireless access (FWA). Menurut Christian, MTEL berpeluang memperoleh pendapatan tambahan dengan memanfaatkan aset menara yang sudah dimiliki untuk mendukung layanan FWA. Salah satu pelanggan telah menandatangani perjanjian yang mencakup sekitar 1.400 pesanan dengan skema sewa tetap. Sementara itu, kerja sama dengan pelanggan kedua masih dalam tahap kajian karena belum ada kesepakatan mengenai skema bisnis.
Percepatan implementasi FWA, termasuk tercapainya kesepakatan dengan pelanggan kedua, menjadi katalis pertumbuhan. Penggunaan bagian bawah menara untuk perangkat FWA juga memungkinkan bagian atas menara tetap digunakan operator seluler. Mitratel (MTEL) juga didukung rencana pengembangan pusat data mikro berkapasitas di bawah 5 MW pada lokasi dengan luas minimal 10 x 10 meter untuk mendukung edge computing. Namun, realisasi rencana tersebut menunggu hingga siklus pembangunan pusat data oleh hyperscaler lebih matang.
Konsolidasi Industri
Katalis ketiga adalah percepatan konsolidasi industri menara telekomunikasi. Menurut dia, MTEL menargetkan konsolidasi industri menara selesai pada akhir 2026 dan ingin mengambil peran utama dalam proses tersebut. Konsolidasi berpotensi mengurangi jumlah pemain dan meredakan persaingan harga yang selama ini menekan industri. “Sebagai perusahaan menara terbesar yang didukung Telkom Group, MTEL dinilai memiliki posisi yang baik untuk mengakuisisi portofolio menara,” tulisnya.
Dampak terbesar dari konsolidasi adalah potensi penghematan biaya operasional dan pemeliharaan (O&M) sekitar 20% pada portofolio yang diakuisisi. Biaya O&M MTEL berkisar Rp700.000–750.000 per lokasi per bulan, lebih rendah dibandingkan Rp 900.000–Rp1 juta pada operator lain. Namun, akuisisi dapat menekan laba pada tahap awal akibat penutupan menara yang tumpang tindih. Keunggulan tersebut berpotensi menghasilkan penghematan biaya sekitar 20% pada portofolio menara yang diakuisisi.
Katalis keempat adalah wilayah di luar Jawa menjadi mesin pertumbuhan penting bagi MTEL karena kebutuhan konektivitas digital terus meningkat. Hingga semester I-2026, sebanyak 59% menara MTEL berada di luar Jawa. Pertumbuhan jumlah menara di wilayah tersebut mencapai 2,9% secara tahunan, dibandingkan 1,3% di Jawa.
Baca Juga
Dengan tingkat kolokasi sekitar 1,5 kali, MTEL masih memiliki ruang untuk menambah penyewa pada menara yang sudah tersedia. Saat ini, sekitar 55% basis penyewanya didominasi Telkomsel, sehingga penambahan pelanggan dari operator lain dapat menjadi sumber pertumbuhan tambahan. Katalis ini semakin relevan seiring kebutuhan densifikasi jaringan 5G. Jaringan 5G membutuhkan jarak antarsitus sekitar 2 kilometer, dibandingkan sekitar 4 kilometer saat ini. Ekspansi XLSmart pascamerger juga diperkirakan menyumbang sekitar 2.000 lokasi tambahan.
Dengan demikian, prospek MTEL tidak hanya bergantung pada pertumbuhan jumlah menara, tetapi juga pada kemampuan perseroan meningkatkan pendapatan per lokasi, memperluas basis penyewa, mengintegrasikan layanan pendukung jaringan, dan merealisasikan konsolidasi industri. Target harga Rp650 per saham mencerminkan pandangan positif terhadap transformasi bisnis tersebut, meskipun realisasi katalis dan perkembangan persaingan industri akan menjadi faktor penting bagi kinerja saham MTEL ke depan.
