Saham BLTA Disebut Menuju Level Rp 60, Tarif Kapal Tanker Melesat ke Rekor
JAKARTA, investortrust.id – Saham PT Berlian Laju Tanker Tbk (BLTA) berpotensi mendapat sentimen positif dari lonjakan tarif kapal tanker global yang menembus rekor pada 2026. Kenaikan tarif angkutan, terutama untuk kapal pengangkut minyak mentah berukuran sangat besar atau Very Large Crude Carrier (VLCC), membuka peluang bagi perusahaan pelayaran tanker untuk menikmati peningkatan pendapatan.
Sejumlah factor positif tersebut berpeluang mengerek harga saham BLTA menuju Rp 60, dibandingkan harga penutupan akhir pekan lalu Rp 43. Namun, realisasi potensi kenaikan saham tersebut tetap bergantung pada eksposur armada terhadap tarif pasar, tingkat utilisasi kapal, biaya operasional, dan kinerja keuangan perseroan.
Baca Juga
AS Klaim Iran Kehilangan Kendali Hormuz, Ancaman Kapal Tanker Membayangi
Data pasar menunjukkan tarif harian VLCC melonjak dari sekitar US$30.000 pada Januari 2026 menjadi US$1,035 juta pada 14 September 2026. Tarif tersebut kembali meningkat menjadi US$1,3 juta per hari pada 2 Oktober 2026, atau sekitar 43 kali lipat dibandingkan awal tahun. Lonjakan tarif ini mencerminkan ketatnya pasokan kapal dan meningkatnya risiko pelayaran di tengah konflik geopolitik. Kenaikan tarif tersebut berpotensi memperbaiki prospek industri tanker, meskipun dampaknya terhadap masing-masing emiten tidak selalu sama.
Kenaikan tarif kapal tanker terjadi seiring meningkatnya risiko pelayaran di kawasan Timur Tengah. Konflik Iran-Amerika Serikat sejak 28 Februari 2026, serangan di Selat Hormuz, serta gangguan di Bab el-Mandeb mendorong sebagian kapal mengambil rute alternatif melalui Afrika. Pengalihan rute tersebut dapat menambah waktu pelayaran hingga sekitar 30 hari. Kondisi ini mengurangi efisiensi perputaran armada dan memperketat ketersediaan kapal di pasar global.
Baca Juga
BLTA Terima Pengunduran Diri Direktur Ini, RUPS Akan Proses Persetujuan
BLTA memiliki armada 39 kapal tanker dengan total kapasitas sekitar 650.000 DWT. Hampir seluruh armadanya merupakan kapal dengan konstruksi double hull dan memenuhi klasifikasi IMO II/III. Kapasitas armada tersebut menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan dalam menilai peluang BLTA di tengah perubahan kondisi pasar tanker. Namun, data yang tersedia belum merinci berapa banyak kapal BLTA yang beroperasi pada segmen VLCC maupun berapa besar armada yang memperoleh tarif berdasarkan pasar spot.
Dengan demikian, peluang saham BLTA menuju Rp60 perlu dinilai bersama perkembangan tarif pada segmen kapal yang benar-benar dioperasikan perseroan serta kemampuan perusahaan mengonversi kenaikan tarif menjadi pertumbuhan pendapatan dan laba.
