IHSG Berpeluang Balik Arah, Level 6.184 Jadi Kunci. Intip 3 Saham Pilihan
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mulai menunjukkan tanda-tanda perbaikan setelah kembali menguji level psikologis 6.000. Namun, perubahan tren belum terkonfirmasi sebelum indeks mampu menembus dan bertahan di atas level 6.184.
Equity Analyst Indo Premier Sekuritas (IPOT) Imam Gunadi mengatakan, jika berhasil melewati level tersebut, struktur jangka pendek, indeks berpotensi membaik karena mampu mengambil kembali area breakdown sebelumnya. “Resistance pertama yang menurut saya paling penting adalah 6.184-6.200. Level 6.184 pada chart merupakan resistance pertama dan secara teknikal menjadi semacam confirmation level,” tegas Imam, Senin (5/10/2026).
Selama IHSG berada di bawah area tersebut, dia mengatakan, kenaikan dari level 6.000 masih lebih tepat dianggap sebagai technical rebound, bukan perubahan tren. Secara struktur, tren jangka pendek IHSG masih dinilai bearish. Kondisi tersebut terjadi setelah IHSG gagal mempertahankan area 6.700-an dan membentuk rangkaian lower high serta lower low hingga kembali menguji level psikologis 6.000.
Baca Juga
OJK: 29 Penawaran Umum Antre di Pipeline, Nilainya Capai Rp 26,47 Triliun
Pada Jumat pekan lalu, pasar mendapat kejutan dari data tenaga kerja Amerika Serikat (AS) yang jauh lebih lemah dari ekspektasi. Imam memprediksi perhatian pasar saham pekan ini akan beralih ke FOMC Minutes dan rangkaian komentar pejabat The Fed. Payrolls AS September hanya bertambah 29 ribu, jauh di bawah konsensus sekitar 90 ribu. Sementara itu, tingkat pengangguran naik menjadi 4,2% dari 4,1% dan pertumbuhan upah tahunan melambat menjadi 3%.
“Data ini langsung menurunkan ekspektasi kenaikan suku bunga Fed pada Oktober. Namun, pasar belum bisa sepenuhnya bernapas lega karena pada saat yang sama yield US Treasury 10 tahun sempat menembus 5,34%, level tertinggi sejak 2002,” tegasnya.
Perhatian utama pasar pekan ini diprediksi tertuju pada rilis FOMC Minutes pada Rabu (7/10/2026). Agenda tersebut akan membeberkan perdebatan internal The Fed saat menaikkan suku bunga 25 basis poin menjadi 3,75%-4,00% pada September lalu.
Selain FOMC Minutes, sinyal penting juga akan datang dari rincian pandangan dan pidato pejabat The Fed seperti Williams, Bowman, dan Logan sepanjang pekan ini. Menurut Imam, pasar perlu mencermati apakah para pejabat tersebut menganggap pelemahan data tenaga kerja sebagai alasan untuk menghentikan kenaikan suku bunga atau tetap menempatkan inflasi sebagai ancaman utama yang dapat mempertahankan narasi suku bunga tinggi lebih lama (higher for longer).
Baca Juga
IHSG Berpeluang ke 6.600, Simak 4 Saham Pilihan untuk Akhir 2026
Dari domestik, foreign exchange reserves menjadi salah satu data penting yang perlu dipantau. Kondisi eksternal Indonesia sedang menghadapi kombinasi yang tidak mudah, yakni yield US Treasury tinggi, dolar AS kuat, dan ketidakpastian geopolitik yang masih tinggi.
Saat ini, posisi cadangan devisa Indonesia setara dengan 5,4 bulan impor, jauh di atas standar kecukupan internasional sekitar tiga bulan impor. “Ini merupakan buffer yang cukup kuat. Namun, yang akan menjadi perhatian investor adalah apakah cadangan devisa September tetap terjaga ketika BI melakukan stabilisasi Rupiah di tengah tingginya volatilitas global,” tandas Imam.
Ia menambahkan, konteks Rupiah juga penting. JISDOR terakhir pada 2 Oktober berada di kisaran Rp17.898 per dolar AS, setelah beberapa hari sebelumnya bergerak di kisaran Rp 17.800-18.000. Jika cadangan devisa meningkat atau tetap solid, pasar dapat melihat ruang BI untuk mempertahankan stabilitas Rupiah. Sebaliknya, penurunan yang cukup besar dapat membuat investor lebih sensitif terhadap risiko eksternal dan kemampuan BI melakukan intervensi.
Saham Pilihan Sepekan
Merespons dinamika pasar tersebut, Indo Premier Sekuritas merekomendasikan tiga saham, yakni PTRO, MDKA, dan PTBA.
1. PTRO
Indo Premier Sekuritas memberikan target harga PTRO sebesar Rp5.775, dengan stop loss di bawah Rp4.800. Imam menilai ekspansi bisnis logistik memperkuat integrasi rantai nilai PT Petrosea Tbk (PTRO). Baru-baru ini, PTRO mengakuisisi 100% PT Sejahtera Terminal Logistik (STL) senilai Rp880 juta melalui dua anak usahanya.
STL bergerak di bidang jasa kepelabuhanan dan rencananya akan diintegrasikan ke lini logistics & support services Petrosea. Manajemen berharap transaksi tersebut memberikan dampak positif terhadap kinerja operasional sekaligus mendukung ekspansi bisnis melalui penguatan sinergi dan integrasi rantai nilai.
Menurut Imam, katalis tersebut menarik karena ekspansi logistik dapat memperluas ekosistem bisnis PTRO di luar jasa kontraktor tambang sekaligus mendukung strategi diversifikasi perusahaan.
Sebelumnya, PTRO juga telah memiliki portofolio kontrak pertambangan dan EPC bernilai besar, termasuk kontrak dengan Kideco, Vale Indonesia, dan proyek lainnya.
Baca Juga
OJK Tegaskan Sektor Jasa Keuangan Indonesia Stabil di Tengah Gejolak Global
2. MDKA
Untuk saham MDKA, Indo Premier Sekuritas memberikan target harga Rp3.070, dengan stop loss di bawah Rp2.740. Imam menyebut Pani Gold Mine mulai masuk fase produksi dan memberikan tambahan growth driver. Salah satu katalis positif terbesar MDKA berasal dari Pani Gold Mine yang berhasil melakukan first gold pour pada 14 Februari 2026, lebih cepat dari target awal akhir kuartal pertama.
Pada tahun pertama, produksi Pani ditargetkan sekitar 110.000-115.000 ounces emas, lebih tinggi dari target awal 80.000 ounces. Dalam jangka panjang, Pani diproyeksikan mampu memproduksi sekitar 500.000 ounces emas per tahun ketika beroperasi pada kapasitas penuh.
Selain itu, MDKA bersama EMAS telah menandatangani perjanjian penjualan emas dengan ANTAM hingga 3 ton per tahun yang memberikan kepastian offtake bagi produksi emas Grup Merdeka. “Artinya, Pani berpotensi menjadi sumber pertumbuhan produksi sekaligus memperkuat eksposur MDKA terhadap harga emas yang masih tinggi,” terang Imam.
3. PTBA
Sementara itu, Indo Premier Sekuritas memberikan target harga PTBA sebesar Rp3.390, dengan stop loss di bawah Rp3.120. Rekomendasi tersebut dilatarbelakangi pemulihan operasional dan lonjakan laba yang menjadi katalis fundamental utama.
PT Bukit Asam Tbk (PTBA) membukukan pendapatan Rp22,03 triliun pada semester I-2026, naik 8% secara tahunan (year on year/yoy). Sementara itu, laba bersih melonjak 218% menjadi Rp2,65 triliun.
Perbaikan tersebut ditopang pemulihan produksi pada kuartal kedua, penguatan penjualan ekspor, serta kenaikan harga jual rata-rata batu bara. Secara kuartalan, produksi bahkan melonjak 94% (quarter on quarter/qoq), sementara ASP meningkat 14% secara kuartalan dan 10% secara tahunan. Penjualan yang dicatat perseroan mencapai 21,1 juta ton, dengan ekspor menyumbang sekitar 49% atau 10,33 juta ton dan tumbuh sekitar 5% secara tahunan.
PTBA juga tetap optimistis mengejar target produksi 49,55 juta ton pada 2026, didukung perbaikan stripping ratio dan efisiensi tambang. “Kombinasi pemulihan volume, harga jual, ekspor, dan efisiensi menjadi katalis positif terhadap prospek laba PTBA,” terang Imam.
