Injourney Ungkap Alasan Lepas Bandara Dhoho Kediri ke Gudang Garam
JAKARTA, investortrust.id – PT Angkasa Pura Indonesia (Persero) atau Injourney Airports mengungkap alasan tidak lagi mengoperasikan Bandara Dhoho Kediri, Jawa Timur (DHX). Pengakhiran kerja sama operasi (KSO) dengan PT Surya Dhoho Investama, anak usaha PT Gudang Garam Tbk (GGRM), dilakukan atas permintaan pihak pengelola bandara tersebut.
Direktur Operasi Injourney Airports, Agus Hariyadi, mengatakan PT Surya Dhoho Investama ingin mengembangkan Bandara Dhoho secara mandiri. "Ini permintaan dari mereka (karena) mungkin (ingin) mengembangkan sendiri," kata Agus kepada awak media saat ditemui di sela-sela acara Lokakarya Forum Wartawan Perhubungan di Bandung, Jumat (2/10/2026).
Agus menegaskan, pengakhiran KSO tersebut bukan disebabkan adanya wanprestasi antara Injourney Airports dan PT Surya Dhoho Investama. Menurut dia, tidak ada pihak yang gagal memenuhi isi perjanjian awal.
Baca Juga
IHSG Sesi I Naik Tipis, Sebaliknya 6 Saham Dipimpin AKKU Cetak ARA
Di sisi lain, Agus mengakui operasional Bandara Dhoho Kediri masih menghadapi tantangan karena volume lalu lintas penerbangan atau traffic belum maksimal. "Kalau boleh dikatakan, jujur memang secara trafik belum maksimal, apalagi dalam situasi terakhir setelah kondisi penerbangan ini sedang terdepresiasi karena berbagai faktor yang paling berpengaruh adalah kondisi geopolitik," ujar dia.
Menurut Agus, kondisi geopolitik turut memicu kenaikan harga bahan bakar pesawat atau avtur. Kenaikan harga avtur kemudian memengaruhi biaya operasional maskapai dan berdampak terhadap tingkat lalu lintas penerbangan.
Injourney Kini Kelola 36 Bandara
Dengan berakhirnya KSO tersebut, Injourney Airports kini mengelola 36 bandara di Indonesia per 1 Oktober 2026. Perjanjian Pengakhiran KSO antara PT Angkasa Pura Indonesia dan PT Surya Dhoho Investama telah ditandatangani pada 31 Agustus 2026. Perjanjian tersebut mengatur penyelesaian hak dan kewajiban para pihak, masa transisi, penyerahan dokumen dan aset, serta peralihan tanggung jawab operasional.
PT Surya Dhoho Investama merupakan anak usaha PT Gudang Garam Tbk (GGRM). Perusahaan tersebut ditetapkan sebagai pengelola Bandara Dhoho Kediri setelah berakhirnya KSO dengan Injourney Airports.
Direktur Jenderal Perhubungan Udara (Dirjen Hubud) Kementerian Perhubungan (Kemenhub), Lukman F Laisa, menekankan bahwa pengakhiran KSO tidak berarti operasional Bandara Dhoho Kediri dihentikan. "Pengakhiran Perjanjian Kerja Sama Operasi antara PT Surya Dhoho Investama dengan PT Angkasa Pura Indonesia disepakati untuk diakhiri berdasarkan itikad baik kedua belah pihak," kata Lukman beberapa waktu lalu.
Baca Juga
DJP Kejar Target Pendapatan Pajak Rp 2.593,35 Triliun pada 2027
Kemenhub kemudian menetapkan pengelolaan Bandara Dhoho Kediri kepada PT Surya Dhoho Investama melalui Keputusan Direktur Jenderal Perhubungan Udara Nomor KP-DJPU 216 Tahun 2026 pada 25 September 2026.
Ditjen Perhubungan Udara bertindak sebagai regulator sekaligus Penanggung Jawab Proyek Kerja Sama (PJPK) untuk memastikan proses transisi pengelolaan berjalan sesuai ketentuan. "Proses transisi pengelolaan dilaksanakan secara bertahap dengan memperhatikan kesinambungan tanggung jawab operasional serta pemenuhan persyaratan keselamatan, keamanan, pelayanan, dan sertifikasi," tandas Lukman.
Tahapan pengalihan pengelolaan meliputi penyelesaian kewajiban para pihak, serah terima dokumen, aset, dan informasi operasional, pemenuhan persyaratan sertifikasi, hingga peralihan tanggung jawab operasional kepada PT Surya Dhoho Investama.
PT Surya Dhoho Investama juga telah mengajukan permohonan penerbitan Sertifikat Standar Badan Usaha Bandar Udara (SS BUBU) kepada Menteri Perhubungan melalui Direktur Jenderal Perhubungan Udara.
Selain itu, perusahaan telah mengajukan permohonan rekomendasi penerbitan Sertifikat Bandar Udara Internasional Dhoho Kediri. Dokumen pendukung yang disampaikan meliputi Aerodrome Manual, Airport Security Programme, dan Standar Pelayanan Jasa Kebandarudaraan.
Baca Juga
Injourney Airports Rugi Rp 40 M Buntut Penutupan Sejumlah Bandara Imbas Erupsi Anak Krakatau
Kemenhub menegaskan, perubahan mekanisme pengelolaan tidak mengubah prinsip utama penyelenggaraan penerbangan, yakni keselamatan dan keamanan penerbangan.
"Kami ingin menegaskan kepada masyarakat bahwa pengakhiran KSO antara PT Surya Dhoho Investama dan PT Angkasa Pura Indonesia bukan berarti Bandar Udara Dhoho Kediri ditutup atau dihentikan operasionalnya. Yang berakhir adalah mekanisme kerja sama operasionalnya," kata Lukman.
Spesifikasi Bandara Dhoho Kediri
Bandara Dhoho Kediri memiliki runway sepanjang 3.300 meter dengan lebar 45 meter. Bandara tersebut memiliki klasifikasi 4E dengan critical aircraft Boeing 777-300ER. Sementara kategori Pertolongan Kecelakaan Penerbangan dan Pemadam Kebakaran (PKP-PK) Bandara Dhoho berada pada kategori 8.
Baca Juga
BI, Kemenkeu, dan Danantara Bisa Jadi Pemegang Saham Bursa Efek
Bandara Dhoho juga memiliki apron komersial berukuran 548 x 141 meter serta apron lainnya berukuran 221 x 97 meter. Taxiway tercatat memiliki dimensi 355 x 23 meter, 637 x 23 meter, dan 248,5 x 18 meter.
Untuk terminal, luas Gedung Terminal Bandara Dhoho tercatat mencapai 25.764 meter persegi. Bandara tersebut berstatus sebagai bandar udara umum dengan penggunaan internasional.
Sebelumnya, pembangunan Bandara Dhoho dilakukan Gudang Garam melalui PT Surya Dhoho Investama dengan skema Kerja Sama Pemerintah dengan Badan Usaha (KPBU). Bandara Dhoho mulai melayani penerbangan komersial pada April 2024.
