IHSG Berpeluang ke 6.600, Simak 4 Saham Pilihan untuk Akhir 2026
JAKARTA, investortrust.id - Indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) masih memiliki peluang untuk bergerak menuju level 6.600 hingga akhir 2026. Di tengah peluang penguatan tersebut, investor dapat mencermati empat saham pilihan, yakni ANTM, TINS, SSIA, dan SRTG.
Analis pasar modal sekaligus Founder Republik Investor, Hendra Wardana memperkirakan IHSG masih memiliki peluang bergerak menuju area 6.300-6.600 apabila tekanan rupiah mereda, penjualan bersih saham (net sell) oleh asing mulai mengecil dan kinerja emiten kuartal III-2026 cukup solid.
"Dalam skenario yang lebih positif, apabila terjadi pembalikan arus modal asing dan sentimen global membaik, IHSG bisa menguji level 6.700-6.800," kata Hendra dalam pernyatan tertulis kepada media, Minggu (4/10/20260.
Baca Juga
IHSG Anjlok 3,28% Pekan Ini, Saham GOTO Jadi Penyumbang Terbesar Net Sell Asing
Sebaliknya, menurut Hendra, tekanan terhadap IHSG masih berpotensi berlanjut apabila rupiah menembus dan bertahan di atas Rp 18.000 per dolar AS, imbal hasil (yield) US Treasury tetap tinggi, harga minyak kembali meningkat, dan aksi jual asing terus terjadi.
"Apabila rupiah menembus dan bertahan di atas Rp18.000 per dolar AS, yield US Treasury tetap tinggi, harga minyak kembali meningkat, dan asing terus melakukan aksi jual agresif, IHSG berisiko kembali menguji area 5.800–6.000," terang Hendra.
Hendra memandang kondisi pasar saat ini belum cukup kuat untuk memastikan IHSG langsung kembali ke level tertinggi sebelumnya. Pasar perlu membangun kembali support dan kepercayaan investor.
"Jadi, saya belum melihat dasar yang cukup kuat untuk mengatakan IHSG akan langsung kembali ke level tertinggi sebelumnya pada akhir tahun. Fokus utama saat ini adalah membangun kembali support dan kepercayaan pasar terlebih dahulu," ujar dia.
Memasuki kuartal IV 2026, kata Hendra Wardana, IHSG masih menghadapi tekanan karena investor asing di pasar reguler telah mencatat net sell sekitar Rp108 triliun secara year to date (ytd). Rupiah yang berada di sekitar Rp17.888 per dolar AS juga semakin mendekati level psikologis Rp18.000.
Meski demikian, peluang technical rebound masih terbuka apabila tekanan terhadap rupiah mereda dan aksi jual asing mulai berkurang. "Artinya, secara kuartalan IHSG masih berpeluang mengalami technical rebound, tetapi untuk membentuk tren naik yang kuat dibutuhkan perubahan fundamental pada aliran dana asing dan sentimen terhadap Indonesia," tutur Hendra.
4 Saham Ini Layak Dicermati
Di tengah kondisi tersebut, Hendra menilai investor perlu lebih selektif dalam memilih saham. Sektor komoditas menjadi salah satu sektor yang masih menarik karena memiliki katalis dari harga komoditas dan sebagian pendapatannya berorientasi ekspor.
Salah satu saham yang menjadi pilihan adalah PT Aneka Tambang Tbk (ANTM). Hendra merekomendasikan ANTM dengan strategi speculative buy dan target harga Rp3.350. "Untuk pilihan saham akhir 2026, saya masih melihat ANTM menarik untuk strategi speculative buy dengan target harga Rp3.350," kata dia.
ANTM dinilai memiliki katalis dari emas yang masih menjadi aset lindung nilai ketika ketidakpastian global tinggi. Selain itu, prospek bisnis nikel dan hilirisasi menjadi faktor pendukung.
Selanjutnya, PT Timah Tbk (TINS) masuk daftar saham pilihan dengan strategi speculative buy dan target harga Rp4.900. "TINS juga masih menarik dengan strategi speculative buy dan target Rp4.900," kata Hendra.
Hendra Wardana mengungkapkan, prospek TINS akan dipengaruhi oleh pergerakan harga timah global, volume produksi, serta kemampuan perseroan meningkatkan kinerja operasional. Jika harga timah tetap kuat dan fundamental perusahaan membaik, ruang rerating saham masih terbuka.
Selain saham komoditas, Hendra merekomendasikan PT Surya Semesta Internusa Tbk (SSIA) lewat strategi buy on weakness di area Rp1.620 dengan target harga Rp1.800.
Hendra menjelaskan, SSIA memiliki daya tarik dari prospek kawasan industri dan kebutuhan investasi yang berkaitan dengan pembangunan serta aktivitas industri. Saham tersebut berpotensi kembali mendapat perhatian ketika sentimen pasar mulai pulih.
Baca Juga
Pasar Saham Mulai Pulih, Tapi Investor Masih Hadapi Sejumlah Risiko Ini
Pilihan berikutnya adalah PT Saratoga Investama Sedaya Tbk (SRTG). Hendra merekomendasikan strategi buy on weakness pada kisaran Rp1.680–Rp1.700 dengan target harga Rp2.000.
Menurut Hendra, SRTG memiliki eksposur terhadap sejumlah aset dan perusahaan portofolio sehingga berpotensi mendapat katalis apabila pasar mulai melakukan rerating. Saham tersebut lebih cocok dikoleksi secara bertahap ketika terjadi pelemahan.
Secara keseluruhan, Hendra menyarankan investor tidak terlalu agresif menghadapi perdagangan pada kuartal IV-2026. Potensi rebound IHSG perlu dikonfirmasi oleh sejumlah indikator, terutama stabilitas rupiah, penurunan yield US Treasury, dan berkurangnya tekanan jual asing.
"Secara keseluruhan, saya melihat kuartal IV-2026 bukan periode untuk terlalu agresif, tetapi justru periode seleksi. IHSG masih berpeluang melakukan rebound, tetapi rebound tersebut harus dikonfirmasi oleh tiga hal utama, yaitu rupiah yang kembali stabil, penurunan tekanan yield US Treasury, dan terutama berkurangnya net sell asing," papar Hendra.
