Dana Asing Masih Terbatas, Infovesta Dorong MI Perkuat Manajemen Risiko
JAKARTA, investortrust.id – Risiko yang tidak terlihat dinilai menjadi tantangan yang perlu diantisipasi manajer investasi (MI). Direktur PT Infovesta Utama Parto Kawito mendorong MI memperkuat pengelolaan risiko untuk menjaga kepercayaan investor di tengah masih terbatasnya aliran dana asing ke Indonesia.
Direktur PT Infovesta Utama Parto Kawito menilai bahwa manajer investasi (MI) perlu memperkuat pengelolaan risiko di tengah masih terbatasnya aliran dana asing ke pasar Indonesia. Pengelolaan dana secara hati-hati penting untuk menjaga kepercayaan investor. MI harus bisa memastikan kinerja produk investasi tidak hanya bertumpu pada satu reksa dana unggulan.
Hal tersebut disampaikan Parto saat membuka acara Investortrust–Infovesta Investment Manager Awards 2026 di Glass House - Habitate Jakarta, Oakwood Suites, Jakarta, Rabu (30/9/2026).
Baca Juga
AMII: Kepercayaan Investor Jadi Aset Terpenting Industri Manajer Investasi
Pada tahun ini, sebanyak 42 perusahaan manajer investasi meraih 70 penghargaan, termasuk dua penghargaan kategori khusus. Penilaian MI Gunakan Pendekatan Family of Fund
Parto menjelaskan, salah satu pendekatan yang digunakan dalam penilaian penghargaan tersebut adalah Family of Fund. Pendekatan ini melihat kinerja seluruh reksa dana yang dikelola sebuah manajer investasi secara agregat.
Dengan pendekatan tersebut, MI yang mengelola lima reksa dana saham, misalnya, akan dinilai berdasarkan keseluruhan produk yang dikelolanya, bukan hanya satu produk. “Nah, ini penilaiannya adalah tentang Family of Fund, ya. Mungkin ada yang belum tahu. Jadi kita menilainya secara agregat. Nah, jadi misalkan ada suatu MI yang mengelola lima reksa dana saham, ada yang tiga, gitu kan? Nah, itu kita nilai. Kelimanya itu dibandingkan dengan yang tiga, itu kita kayak kita rata-rata, kita kasih scoring gitu. Jadi, mana yang bagus,” kata Parto.
Menurut dia, pendekatan Family of Fund juga bertujuan mencegah adanya perlakuan berbeda terhadap produk dalam satu keluarga reksa dana. Dengan menilai kinerja secara agregat, kualitas pengelolaan MI dapat dilihat secara lebih menyeluruh.
“Gunanya apa? Untuk menghindari ada reksa dana tertentu yang dianakemaskan dan ada yang dianaktirikan. Wah, kalau kalah ya dijeblos-jeblosin ke yang jelek. Yang menang dijeblos-jeblosin yang bagus, gitu kan. Walaupun sudah banyak peraturan dari OJK ya, tentang tutup sendiri ya, enggak boleh, gitu kan. Tapi kan ternyata saya baca, kalau masih di bawah 10% masih bisa. Ya, kan?”
Risiko Yang Tak Terlihat
Parto menilai pengelolaan risiko semakin penting ketika investor menghadapi berbagai ketidakpastian yang tidak selalu terlihat secara langsung. Pandangan bahwa investor bukan hanya mengkhawatirkan risiko yang terlihat, tetapi juga risiko yang sulit diidentifikasi.
“Jadi I think manajer investasi perlu me-manage risiko ya, dengan dengan sebaik mungkin. Karena ya seperti kita ketahui, asing enggak masuk-masuk kan ke Indonesia, ya? Setelah upaya dari bursa, segala macam. Karena saya juga baca ya, antara lain, nah ini kita diskusi mungkin di sini yang hadir bisa ya. Saya baca di suatu majalah dari luar negeri itu, dia mengatakan begini, ya: 'Asing tidak takut dengan risiko yang terlihat. Investor itu takut dengan risiko yang tidak terlihat,’” sebutnya.
Di sisi lain, Parto menyoroti tantangan biaya investasi lintas mata uang yang dapat memengaruhi keputusan investor. Biaya transfer valuta asing yang tinggi berpotensi mengurangi daya tarik investasi apabila biaya masuk dan keluar dana cukup besar dibandingkan potensi keuntungan.
Baca Juga
Reksa Dana Cipta Saham Unggulan Cetak ‘Return’ Positif di Tengah Pelemahan IHSG, Ini Kuncinya
“Nah, tapi mungkin Anda berpikir kan, loh kita kan punya, Pak, USD. Ya cuman masalahnya kan kalau saya transfer saja, kalau lain bank bisa kena mungkin sampai Rp 500.000, Rp 700.000 kan? Itu tadi dihitung 2,5%. Nah kalau masuk kena 2,5% belum tentu cuan, nanti keluar kena 2,5% lagi kan boncos juga, kan gitu ya,” ucap dia.
Oleh karena itu, Parto mendorong pelaku industri untuk lebih kreatif dalam mengembangkan pasar, termasuk dengan memanfaatkan peran asosiasi. Dia berharap asosiasi industri memiliki peta jalan yang mencakup program jangka pendek, menengah, dan panjang, termasuk penguatan literasi investasi secara bersama-sama.
