AUM Manajer Investasi Indonesia Rp 1.007 Triliun Bukan Garis Akhir, Baru Awal
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menunjukkan bahwa total dana kelolaan atau Asset Under Management (AUM) manajer investasi di Indonesia telah mencapai Rp 1.007,3 triliun pada Juli 2026. Dengan menembus angka Rp 1.000 triliun, industri manajemen investasi perlu menemukan lompatan untuk bergerak jauh lebih besar.
“AUM sekitar Rp 1.007 triliun seharusnya bukan garis finish. Ini baru awal menuju industri manajemen investasi yang jauh lebih besar,” kata Wakil Pemimpin Redaksi Investortrust.id, Abdul Aziz, saat Investment Manager Award, yang digelar di Habitate Glasshouse, Jakarta, Rabu (30/9/2026).
Aziz mencatat aset yang dikelola manajer investasi tumbuh sekitar 16,4% secara tahunan. Total pertumbuhan ini ditopang oleh reksadana yang mencapai Rp 652,6 triliun atau 64,8% dari keseluruhan AUM. Reksadana mengalami pertumbuhan hingga 21,9% secara tahunan.
Sementara itu, kontrak pengelolaan dana alias KPD mencapai Rp 318,8 triliun atau setara 31,7% dari total dana kelolaan. Angka KPD ini tumbuh 8% secara tahunan.
“Dua instrumen tersebut menguasai lebih dari 96% dana kelolaan industri,” kata dia.
Selain dua instrumen ini, Aziz mencatat terdapat pertumbuhan yang menarik dari Efek Beragun Aset (EBA) tercatat mengelola Rp 3,6 triliun dengan lonjakan mencapai 83,3% secara tahunan.
Baca Juga
AMII: Kepercayaan Investor Jadi Aset Terpenting Industri Manajer Investasi
“Ini memperlihatkan bahwa ruang inovasi dan diversifikasi produk investasi Indonesia masih sangat besar,” kata dia.
Angka Rp 1.000 triliun, kata Aziz, perlu dilihat dalam perspektif global. Saat ini, industri manajemen aset dunia mengelola dana lebih dari US$ 100 triliun, dengan Amerika Serikat sebagai pusat terbesar. Terdapat raksasa pengelola aset seperti BlackRock, Fidelity, State Street, dan JPMorgan masing-masing mengelola dana triliunan dolar AS.
Skala tersebut, kata dia, membantu menjelaskan besarnya pengaruh indeks global seperti MSCI terhadap arus modal internasional. Ia mengingatkan pada guncangan pasar saham domestik akibat isu MSCI belum lama ini, yang dampaknya disebut masih terasa hingga sekarang.
Ia menekankan bahwa pertumbuhan industri ini memerlukan integritas, transparansi, tata kelola, kompetensi, dan perlindungan investor. Dana yang dikelola manajer investasi, ujarnya, bukan sekadar angka di layar, melainkan mencerminkan tabungan masyarakat, dana pendidikan anak, persiapan hari tua, dan dana institusi.
Untuk itu, dengan berkembangnya dana kelolaan manajer investasi, dibutuhkan perluasan basis investor.
“Kita membutuhkan industri yang bukan hanya mampu menghasilkan return, tetapi juga mampu memperluas basis investor. Bukan hanya menjual produk, tetapi juga meningkatkan literasi. Bukan hanya mengejar pertumbuhan AUM, tetapi juga membangun kepercayaan jangka panjang,” ucap dia.
Aziz menyampaikan bahwa Indonesia memiliki ekonomi terbesar di Asia Tenggara. Dengan penduduk lebih dari 285 juta orang dan kelas menengah mencapai 50 juta orang, investor retail terus berkembang. Selain itu, Indonesia memerlukan pembiayaan pembangunan yang sangat besar.
Tak hanya itu, Aziz menilai bahwa digitalisasi mempermudah masyarakat berinvestasi lewat telepon genggam, sementara kecerdasan buatan (AI) akan semakin membantu analisis portofolio, personalisasi produk, manajemen risiko, dan layanan investor. Namun, kemudahan itu menghadirkan paradoks.
"Semakin mudah orang berinvestasi, semakin besar kebutuhan terhadap edukasi dan trust," ujar dia.
