Target Saham MBMA Dipangkas Jadi Rp 710, Tapi Masih Berpotensi Naik 42%
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Target harga saham PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA) dipangkas menjadi Rp 710 per saham dari sebelumnya Rp 880 per saham. Meski target harga diturunkan, saham ini disebut tetap menarik dengan rekomendasi dipertahankan beli.
Di lantai bursa, saham MBMA pada penutupan perdagangan kemarin, Selasa (29/9/2026), ditutup level Rp 500. Dalam sepekan, saham MBMA telah turun 5,9%. Dengan harga tersebut terbuka penguatan lebih dari 43% untuk saham ini.
BRI Danareksa Sekuritas dalam riset terbuar yang dikutip Rabu (30/9/2026), menyebutkan pemangkasan target harga saham tersebut sejalan dengan penurunan target kinerja keuangan MBMA tahun ini. Pemangkasan kinerja target 2027-2028 akibat harga komoditas lebih rendah, sementara biaya operasional perusahaan meningkat.
Baca Juga
Penjualan Nikel Naik, Laba Merdeka Battery Materials (MBMA) Melonjak 830% pada Semester I
Untuk 2026, proyeksi EBITDA masih dinaikkan 3,2%. Namun, proyeksi EBITDA 2027 dan 2028 masing-masing dipangkas 38,9% dan 45,9%. Proyeksi laba bersih juga diturunkan masing-masing sebesar 34,2% untuk 2026, 63,9% untuk 2027, dan 68,6% untuk 2028.
“Tekanan terhadap kinerja MBMA terutama berasal dari bisnis hilir yang marginnya masih tertekan. Selain itu, kenaikan harga sulfur menjadi perhatian, karena dapat meningkatkan biaya produksi fasilitas HPAL. Saat ini, harga sulfur berada di kisaran US$900-US$1.100 per ton,” tulisnya.
BRI Danareksa Sekuritas juga melihat sejumlah risiko bagi MBMA, antara lain perubahan harga nikel, tekanan terhadap keuntungan bisnis hilir, keterbatasan kuota bijih nikel, serta kemungkinan produksi HPAL tidak berjalan sesuai rencana.
Baca Juga
Tambang Merdeka Battery (MBMA) Rampungkan Jalur Angkut Baru Sepanjang 60 Km
Meski demikian, BRI Danareksa Sekuritas menyebutkan, saham MBMA masih memiliki prospek pertumbuhan kuat dalam jangka panjang didukung peningkatan produksi dari proyek pengolahan nikel bertekanan tinggi atau high pressure acid leach (HPAL).
Keekonomian bisnis MBMA secara keseluruhan masih menarik karena perseroan mengintegrasikan rantai bisnis nikel mulai dari pertambangan hingga pengolahan. Prospek pertumbuhan MBMA juga akan semakin bergantung pada peningkatan produksi fasilitas HPAL. Proyek PT Sulawesi Nickel Cobalt (SLNC) milik MBMA telah memulai pemompaan bahan baku dan diperkirakan mulai meningkatkan produksinya pada kuartal IV-2026 hingga kuartal I-2027.
