Tempo Scan (TSPC) Raih Best Stock Awards 2024, Kinerja Solid Berkat Strategi Ini
JAKARTA, investortrust.id – Emiten farmasi dan barang konsumsi, PT Tempo Scan Pacific Tbk (TSPC) membocorkan strategi kesuksesan Perseroan dalam memopa kinerjanya di tengah pandemi Covid-19. Strategi tersebut menjadi kunci keberhasilan TSPC sampai saat ini.
Presiden Direktur TSPC, I Made Dharma Wijaya mengatakan, strategi yang ditempuh adalah melakukan investasi yang konsisten secara terus-menerus, serta membangun brand equity terutama di bidang consumer health, consumer product dan kosmetik.
Made menyebut consumer good merupakan industri yang sangat fast moving, yang artinya produk sangat kompetitif.
“Jadi investasi di bidang pengembangan brand itu penting sekali, kita terus melakukan investasi dalam periklanan/advertising dan promotion tentunya,” ujar Made disela saat acara Best Stock Awards 2024 yang digelar oleh Investortrust dan Infovesta, di Jakarta, Kamis (25/1/2024).
Presiden Direktur PT Tempo Scan Pacific Tbk, I Made Dharma Wijaya melayani wawancara dengan awak media di sela acara Investortrust Best Stock Awards 2024 di Artotel Mangkuluhur Jakarta, Kamis (25/01/2024). Foto: Investortrust/Elsid Arendra.
Baca Juga
Pyridam Farma (PYFA) Terbitkan Obligasi Rp 400 Miliar, Tawarkan Kupon 9,50%
Diketahui, TSPC menjadi pengiklan terbesar nomor ke-8 di Indonesia dan menjadi perusahaan dengan investasi terbesar di bidangnya.
Strategi berikutnya kata Made, pihaknya melakukan investasi di bidang kapabilitas kemampuan dalam melakukan operation business. “Jadi kita selama pandemi Covid-19 itu membangun pabriknya,” imbuhnya.
Pada tahun 2021 lalu, TSPC meresmikan dua pabrik pada masa pandemi Covid-19. Made menyebut hal itu merupakan kesempatan dan peluang untuk menjadi perusahaan yang terdepan dan berkembang hingga kini.
Sebagai informasi, PT Tempo Scan Pasific Tbk (TSPC) berhasil meraih penghargaan Best Stock Awards 2024 kategori sektor kesehatan middle cap yang diselanggarakan oleh investortrust.id di Hotel Artotel Mangkuluhur, Jakarta, Kamis (25/1/2024).
Sebagai catatan, penilaian Best Stock Awards 2024 dilakukan terhadap 903 saham emiten yang tercatat di Bursa Efek Indonesia hingga akhir Desember 2023. Pertumbuhan harga saham periode Januari hingga desember 2023 menjadi basis perhitungan, selain itu tingkat likuditas saham dan kinerja fundamental emiten juga menjadi poin penting dalam menentukan pemenang Best Stock Awards 2024.
Baca Juga
AAJI Sebut 10 Perusahaan Asuransi Jiwa Belum Penuhi Modal Minimum Rp 250 Miliar
Direktur PT Infovesta Utama Parto Kawito membeberkan, sebelum melakukan perhitungan saham yang layak menjadi juara, pihaknya mengawali penilaian dengan menerapkan seleksi awal yang mencakup 5 kriteria.
‘’Seleksi awal ini penting, agar saham yang menjadi jawara merupakan saham berkualitas terbaik yang bisa menjadi acuan investor,’’ kata Parto.
Adapun kriteria seleksi awal dalam pemeringkatan Best Stock Awards yakni: Emiten tercatat di IDX minimal 5 tahun, Rata-rata nilai transaksi harian dalam 1 tahun terakhir minimal Rp 1 miliar.
Selanjutnya tidak mengikutsertakan emiten yang mempunyai notasi khusus dari IDX sampai batas waktu pengolahan data yang ditentukan kemudian.
Selanjutnya emiten tidak pernah atau tidak sedang memilikimengalami masalah gagal bayar atau hukum berdasarkan keputusan resmi dalam 3 tahun terakhir, serta dalam rangka mendukung program ESG, emiten yang tidak memiliki Laporan Keberlanjutan periode tahun buku 2022 akan mendapat pengurangan nilai alias penalty.
Setelah lolos seleksi awal, emiten yang lolos akan dihitung dengan menggunakan sejumlah indikator meliputi:
Aspek Kinerja Keuangan diberi bobot 40% dan menggunakan 5 indikator penilaian yakni:
- Tren pertumbuhan top line (pendapatan) dan bottom line (laba bersih) selama 5 tahun.
- Pertumbuhan gross profit margin selama 5 tahun.
- Pertumbuhan laba operasi selama 5 tahun.
- Pertumbuhan arus kas dari operasi selama 5 tahun.
- Pertumbuhan ROE dan ROA selama 5 tahun.
Aspek Valuasi diberi bobot 20% dan menggunakan 2 indikator penilaian yakni:
1. Price to Earning Ratio: rasio yang membandingkan antara harga saham dengan laba per saham dari setiap saham. Semakin rendah nilai PER (namun tidak negatif) dinilai valuasinya akan lebih murah dibandingkan saham lain
2. Price to Book Value Ratio: rasio yang membandingkan antara harga saham dengan nilai buku per saham. Semakin rendah nilai PBV maka dinilai valuasinya akan lebih murah dibandingkan saham lain.
Sementara Aspek Volatilitas diberi bobot 20% dan menggunakan indikator BETA. BETA merupakan indikator untuk mengukur sensitivitas suatu saham terhadap pergerakan IHSG sebagai benchmark-nya. Semakin low sensitivity atau BETA yang rendah maka diindikasikan dapat lebih stabil.
Terkait Likuiditas diberi bobot 20% dan menggunakan 2 indikator yakni: Rata-rata nilai transaksi harian dan Rata-rata nilai frekuensi harian dalam setahun terakhir.

