Nasib Bitcoin di Tangan Data AS, Ini 5 Indikator yang Ditunggu Pasar
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Nasib Bitcoin (BTC) kembali berpotensi ditentukan oleh serangkaian data ekonomi Amerika Serikat (AS) yang akan dirilis pekan ini. Lima indikator tersebut akan menjadi perhatian pelaku pasar karena dapat memberikan petunjuk mengenai arah kebijakan suku bunga Federal Reserve (The Fed) pada pertemuan Oktober.
Melansir BeInCrytpo, Senin (28/9/2026), The Fed sebelumnya menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin pada 16 September lalu ke kisaran 3,75%-4%. Dalam pernyataannya, bank sentral AS menyebut inflasi masih berada pada level tinggi.
Namun, Ketua The Fed Kevin Warsh tidak memberikan sinyal tegas mengenai kemungkinan kenaikan suku bunga berikutnya. Menurut dia, tren ekonomi lebih penting dibandingkan satu angka dari sebuah rilis data.
“Tren itu penting. Titik data itu bising. Ketergantungan pada titik data adalah obsesi yang berbahaya,” ujarnya.
Baca Juga
Bitcoin Relatif Stabil di Akhir Pekan Ini, Altcoin Menguat dan Bitget Mulai Pulihkan Penarikan
Meski The Fed belum memberikan kepastian, pasar tetap memperkirakan adanya peluang kenaikan suku bunga pada pertemuan 27-28 Oktober. Kondisi tersebut membuat data ekonomi yang dirilis pekan ini menjadi semakin penting bagi aset berisiko, termasuk Bitcoin. Bitcoin saat ini diperdagangkan di kisaran US$ 83.400.
1.Inflasi PCE
Salah satu data yang paling ditunggu adalah indeks Personal Consumption Expenditures (PCE), yang menjadi salah satu ukuran inflasi utama yang digunakan The Fed dalam menentukan kebijakan moneter.
Core PCE, yang tidak memasukkan komponen makanan dan energi yang volatil, tercatat tumbuh 3,3% secara tahunan hingga Juli. Untuk Agustus, pasar memperkirakan angka tersebut meningkat menjadi 3,4%. Angka tersebut masih jauh di atas target inflasi The Fed sebesar 2%.
Selain inflasi, data PCE juga akan menunjukkan perkembangan konsumsi masyarakat AS. Belanja konsumen diperkirakan meningkat 0,5% pada Agustus, yang akan menjadi kenaikan bulanan terbesar dalam lebih dari satu tahun apabila terealisasi.
Bagi Bitcoin, data inflasi yang lebih tinggi dari perkiraan dapat meningkatkan ekspektasi suku bunga tinggi lebih lama. Kondisi tersebut berpotensi memberikan tekanan terhadap aset berisiko. Sebaliknya, perlambatan inflasi dapat memperkuat ekspektasi pelonggaran kebijakan moneter dan menjadi sentimen yang lebih mendukung bagi aset seperti Bitcoin.
2.Pertumbuhan Ekonomi AS
Biro Analisis Ekonomi AS (BEA) akan merilis estimasi ketiga sekaligus final pertumbuhan ekonomi kuartal II 2026. Estimasi kedua menunjukkan ekonomi AS tumbuh 1,5% secara tahunan pada kuartal II, melambat dibandingkan pertumbuhan 2,1% pada kuartal I.
Pasar akan memperhatikan apakah angka tersebut mengalami revisi. Jika pertumbuhan direvisi lebih tinggi, kondisi tersebut dapat menunjukkan ekonomi AS masih cukup kuat untuk menghadapi tingkat suku bunga tinggi. Hal ini dapat memberikan ruang bagi The Fed untuk mempertahankan kebijakan moneter ketat.
Sebaliknya, revisi pertumbuhan yang lebih rendah dapat meningkatkan kekhawatiran terhadap perlambatan ekonomi dan kembali memunculkan ekspektasi pelonggaran kebijakan.
3.ISM Manufacturing
Indikator berikutnya adalah ISM Manufacturing Index yang mengukur aktivitas sektor manufaktur AS. Pada Agustus, indeks tersebut berada di level 54,6, turun dari 55,6 pada Juli. Meski menurun, angka di atas 50 masih menunjukkan sektor manufaktur berada dalam fase ekspansi.
Pasar juga akan memperhatikan komponen harga dalam survei tersebut. Indeks harga pada Agustus berada di 71,1, menunjukkan tekanan biaya produksi masih relatif tinggi. Kombinasi aktivitas ekonomi yang kuat dan tekanan harga yang persisten dapat menjadi pertimbangan bagi The Fed untuk mempertahankan suku bunga pada level tinggi. Perubahan ekspektasi suku bunga tersebut kemudian dapat merambat ke pasar obligasi, dolar AS, saham, hingga Bitcoin.
4.Data Ketenagakerjaan AS.
Data pekerjaan akan menjadi penutup rangkaian indikator ekonomi penting pekan ini. Laporan ketenagakerjaan September diperkirakan menunjukkan penambahan sekitar 90.000 pekerjaan baru, turun cukup signifikan dari 162.000 pekerjaan pada Agustus. Tingkat pengangguran diperkirakan tetap berada di 4,1%.
Sementara itu, upah per jam meningkat 0,3% pada Agustus. Pasar akan mencermati apakah perlambatan penciptaan lapangan kerja benar-benar menunjukkan pelemahan pasar tenaga kerja atau hanya bersifat sementara.
Data pekerjaan yang lebih kuat dari perkiraan dapat memperkuat ekspektasi bahwa The Fed memiliki ruang untuk mempertahankan atau bahkan menaikkan suku bunga. Sebaliknya, data yang menunjukkan pelemahan pasar tenaga kerja dapat meningkatkan spekulasi mengenai perubahan arah kebijakan moneter.
Bitcoin sendiri sebelumnya sempat mengalami kenaikan setelah rilis data pekerjaan AS yang lemah pada Juni. Hal tersebut menunjukkan bagaimana data ketenagakerjaan dapat mempengaruhi ekspektasi suku bunga dan kemudian merambat ke pasar kripto.
5.Risalah Bank Sentral Jepang
Selain data AS, pasar juga akan mencermati risalah rapat Bank of Japan (BOJ) pada awal pekan. Risalah tersebut mencatat perdebatan para pejabat BOJ dalam rapat 30-31 Juli. Perkembangan kebijakan moneter Jepang penting bagi pasar global karena perubahan suku bunga Jepang dapat mempengaruhi imbal hasil obligasi, nilai tukar yen, dan arus modal internasional.
BOJ sebelumnya menaikkan suku bunga hingga sekitar 1,25% pada September. Dalam pernyataan terbarunya, bank sentral Jepang juga menyatakan akan terus menaikkan suku bunga kebijakan.
Perbedaan suku bunga antara Jepang dan AS menjadi salah satu faktor yang diperhatikan investor. Perubahan ekspektasi kebijakan BOJ dapat mempengaruhi pasar obligasi global dan pada akhirnya ikut mempengaruhi aset berisiko seperti Bitcoin.
Baca Juga
Bitcoin Turun ke US$ 84.000-an, Bitcoin Cash dan Bitcoin SV Justru Menguat Tajam
Bitcoin Tunggu Sinyal dari The Fed
Kelima indikator tersebut pada akhirnya bermuara pada satu pertanyaan utama, seberapa besar tekanan yang masih dihadapi The Fed untuk mempertahankan suku bunga tinggi? Inflasi, pertumbuhan ekonomi, aktivitas manufaktur, dan kondisi pasar tenaga kerja akan menjadi bagian dari informasi yang digunakan pasar untuk membaca arah kebijakan The Fed menjelang pertemuan 27-28 Oktober.
Bagi Bitcoin, persoalannya bukan sekadar apakah suku bunga naik atau turun. Perubahan ekspektasi terhadap kebijakan moneter dapat mempengaruhi imbal hasil Treasury dan dolar AS, yang kemudian ikut menentukan daya tarik aset berisiko. Dengan Bitcoin berada di sekitar US$84.728, setiap kejutan dari data ekonomi pekan ini berpotensi meningkatkan volatilitas di pasar kripto.
Jika melirik data CoinMarketCap, Senin (28/9/2026), harga Bitcoin berada pada level US$ 83.430,22 pada pukul 11.35 WIB atau menurun 1,06% dalam 24 jam terakhir dan naik 2,60% dalam sepekan belakangan.
