Exchange Kripto Bitget Kena Retas Rp 6,3 Triliun
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – CEO Bitget Gracy Chen mengungkap sekitar US$351,6 juta atau setara Rp6,3 triliun (kurs Rp17.916 per dolar AS) dana terdampak transfer tidak sah dari sejumlah hot wallet bursa kripto tersebut pada Kamis (24/9/2026). Bitget adalah exchange kripto yang berbasis di Seychelles yang didirikan pada 2018 dengan lebih dari 20 juta pengguna di 100 negara.
Chen mengatakan, pelanggaran keamanan terdeteksi pada Jumat (25/9/2026) dini hari dan protokol darurat langsung diaktifkan. Bitget kemudian menangguhkan sementara penarikan dana untuk melakukan tinjauan keamanan, sementara layanan deposit dan perdagangan tetap berjalan.
Menurut Chen, insiden tersebut hanya berdampak pada sebagian lapisan hot wallet dan warm wallet. Sementara itu, cold wallet Bitget disebut tetap aman.
“Dana pengguna aman,” tulis Chen melalui akun X miliknya dilansir dari CoinMarketCap News, Jumat (25/9/2026).
Dia mengatakan seluruh kerugian yang terdampak telah dicakup oleh Dana Perlindungan Pengguna Bitget yang nilainya lebih dari US$464 juta atau sekitar Rp8,31 triliun.
Bitget berencana memberikan pembaruan terkait insiden tersebut setiap jam dan menerbitkan laporan lengkap, termasuk analisis akar masalah, dalam waktu 24 jam. Chen mengatakan perusahaan belum akan menyimpulkan metode serangan sebelum proses investigasi selesai.
Sebelum pernyataan resmi Bitget, analis on-chain telah mendeteksi arus keluar dana tidak wajar lebih dari US$170 juta atau sekitar Rp3,05 triliun dari sejumlah dompet yang terkait dengan bursa tersebut. Sejumlah pengguna juga melaporkan mengalami kendala dalam melakukan penarikan dana.
Baca Juga
Bitget Perluas Layanan ke Pasar Tradisional dan Institusional di Tahun Kesembilan
Jika estimasi kerugian US$351,6 juta atau sekitar Rp6,3 triliun tersebut terkonfirmasi, insiden Bitget akan menjadi salah satu pencurian aset kripto terbesar pada 2026. Nilainya melampaui sekitar US$319 juta atau sekitar Rp5,72 triliun Bitcoin yang dicuri dari Liquid Network milik Blockstream pada 6 September 2026.
Sebelumnya, TRM Labs menyebut insiden Liquid Network sebagai peretasan kripto terbesar pada 2026. Dalam insiden tersebut, sekitar US$319 juta atau sekitar Rp5,72 triliun Bitcoin dicuri setelah penyerang mengeksploitasi celah pada cache verifikasi rangeproof perangkat lunak Elements.
TRM Labs mencatat 207 aksi peretasan kripto pada paruh pertama 2026 dengan total kerugian sekitar US$972 juta atau sekitar Rp17,41 triliun. Jumlah serangan tersebut menjadi yang tertinggi yang pernah dicatat TRM Labs dalam periode enam bulan, meskipun nilai kerugiannya masih di bawah US$2,3 miliar atau sekitar Rp41,21 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Baca Juga
Daftar 10 Negara Paling Ramah Kripto, Singapura Jadi yang Teratas
Selain Liquid Network, sejumlah insiden besar lainnya terjadi sepanjang 2026. KelpDAO mengalami pencurian sekitar US$292 juta atau sekitar Rp5,23 triliun pada April, sedangkan Drift Protocol kehilangan sekitar US$285 juta atau sekitar Rp5,11 triliun dalam serangan terhadap bursa perpetual futures berbasis Solana.
Pada Agustus, protokol pinjaman Tectonic di jaringan Cronos juga mengalami eksploitasi dengan nilai sekitar US$120,4 juta atau sekitar Rp2,16 triliun. Validator Cronos kemudian melakukan rollback untuk membatalkan transaksi sekitar US$111,2 juta atau sekitar Rp1,99 triliun, sementara sekitar US$9,19 juta atau sekitar Rp164,65 miliar telah keluar dari jaringan sebelum aktivitas dihentikan.
