IHSG Dibayangi Outflow Asing, Rupiah dan Yield SUN Jadi Alarm
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Aksi jual investor asing di pasar saham Indonesia masih menjadi perhatian pelaku pasar. Aksi ini dipicu kenaikan imbal hasil US Treasury dan penguatan dolar Amerika Serikat (AS) dan berpotensi memperbesar arus keluar dana asing atau outflow dari pasar domestik.
Head of Research Kiwoom Sekuritas Liza Camelia Suryanata mengatakan, kenaikan suku bunga The Federal Reserve (The Fed) dapat mempercepat outflow, terutama ketika yield US Treasury 10 tahun (US10Y) berada di sekitar 5%.
Namun, menurut Liza, deras atau tidaknya arus dana asing keluar dari Indonesia tidak hanya ditentukan oleh kebijakan The Fed. “Yang paling menentukan tetap kombinasi US10Y, DXY, rupiah, yield SBN dan laba emiten domestik,” jawab Liza yang dipublikasi melalui saluran aplikasi pesan, dikutip Jumat (18/9/2026).
Baca Juga
Net Sell Melesat Rp 1,79 Triliun, BBCA, BMRI, hingga AMMN Jadi Penyumbang Utama
Menurut Liza, tekanan terhadap aset Indonesia akan menjadi lebih serius, apabila nilai tukar rupiah menembus level Rp 17.700 per dolar AS, bersamaan dengan yield Surat Utang Negara (SUN) tenor 10 tahun menembus 7,3%. Jika outflow berlanjut, saham berkapitalisasi besar (big caps) dan likuid yang memiliki porsi kepemilikan asing jumlab besar berpotensi menjadi kelompok yang paling terdampak.
Sektor perbankan dan saham-saham dengan bobot besar terhadap indeks (index heavyweights) menjadi perhatian utama. Data perdagangan 16 September juga menunjukkan adanya net sell asing dalam jumlah besar pada sejumlah saham perbankan dan telekomunikasi, seperti PT Bank Mandiri Tbk (BMRI), PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI), serta PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM).
Di sisi lain, saham-saham sektor metals masih relatif memperoleh aliran dana masuk.
Level Aman IHSG
Dari sisi indeks, level teknikal IHSG juga menjadi indikator penting. Area 6.400-6.370 dinilai sebagai level yang perlu dipertahankan agar koreksi masih berada dalam batas normal. “Kalau breakdown disertai foreign sell membesar, risiko (IHSG) bisa lanjut ke 6.280-6.180,” jelasnya.
Selain pergerakan IHSG, Liza menyebut investor perlu mencermati rupiah dan yield SUN 10 tahun sebagai indikator peringatan dini. Pasalnya, menjelang akhir tahun, kebutuhan dolar AS cenderung meningkat, baik untuk pembayaran utang perusahaan maupun kebutuhan valuta asing masyarakat, termasuk perjalanan ke luar negeri.
Baca Juga
Realisasi Penarikan Utang Pemerintah Sentuh Rp 506 Triliun per 31 Agustus 2026
Meski demikian, investor domestik saat ini dinilai memiliki kemampuan yang lebih besar dalam menyerap aksi jual asing dibandingkan periode sebelumnya. Pada fase ini, likuiditas domestik dipercaya dapat membantu meredam tekanan.
Namun, Liza tak memungkiri bahwa daya serap tersebut belum tentu sepenuhnya mampu menahan tekanan terhadap IHSG apabila aksi jual asing terkonsentrasi pada saham-saham berkapitalisasi besar. “Domestic liquidity membantu meredam tekanan, tetapi belum tentu bisa menggantikan foreign flow secara penuh di index heavyweights,” tandasnya.
Katalis Inflow Asing
Di tengah tekanan tersebut, Kiwoom Sekuritas memaparkan sejumlah katalis yang berpotensi memperbaiki arus dana asing. Dari eksternal, kondisi yang mendukung antara lain penurunan US10Y dan pelemahan indeks dolar AS (DXY).
Sementara dari sisi domestik, stabilitas rupiah, valuasi saham yang menarik, serta pertumbuhan laba perusahaan (earnings growth) menjadi faktor penting. Kepercayaan investor terhadap kebijakan Bank Indonesia (BI) dan arah kebijakan fiskal pemerintah juga diperkirakan menjadi perhatian.
Kejelasan mengenai rencana setoran Rp120 triliun dari Danantara ke APBN maupun alternatif kebijakan fiskal yang dapat mengurangi kebutuhan pembiayaan tanpa meningkatkan kekhawatiran terhadap defisit dinilai dapat memengaruhi persepsi investor asing.
Kiwoom Sekuritas menyimpulkan, jika arah kebijakan fiskal dinilai lebih kredibel dan dapat diprediksi, sentimen terhadap aset Indonesia berpotensi membaik. Sementara itu, kenaikan harga komoditas diharapkan masih dapat menjadi katalis tambahan, meski dampaknya lebih banyak dirasakan secara sektoral.
Baca Juga
Setelah Kantor Summarecon, KPK Geledah Rumah Anak Buah Nusron Wahid
Di sisi lain, Liza mengingatkan bahwa persaingan Indonesia dalam menarik dana global tidak hanya berasal dari aset AS. Pasar saham Indonesia juga harus bersaing dengan negara-negara Asia lain yang menawarkan pertumbuhan earnings maupun eksposur terhadap tema investasi global yang dinilai menarik oleh investor.
Oleh karena itu, apabila selisih spread yield obligasi Indonesia terhadap AS semakin menyempit, daya saing aset Indonesia dalam memperebutkan dana global dapat ikut berkurang.
Kondisi tersebut berpotensi mendorong Indonesia menawarkan yield lebih tinggi yang pada akhirnya dapat meningkatkan beban fiskal. “Risiko akhirnya adalah tekanan terhadap defisit dan persepsi credit rating, apalagi kalau outlook negatif bertahan terlalu lama,” ungkapnya.
