Sinarmas AM Usul Pilot Project DIRE untuk Urai Kendala Pajak Berganda
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - PT Sinarmas Asset Management menyoroti tantangan pengembangan instrumen investasi berbasis riil dan infrastruktur di Indonesia, mulai dari isu perpajakan pada Dana Investasi Real Estat (DIRE) hingga kompleksitas produk seperti Efek Beragun Aset (EBA) dan Dana Investasi Infrastruktur (Dinfra).
Chief Investment Officer (CIO) PT Sinarmas Asset Management Genta Wira Anjalu mengungkapkan bahwa DIRE sejatinya memiliki potensi besar sebagai sumber pembiayaan alternatif bagi Pemerintah Daerah (Pemda), BUMD, maupun sektor swasta. Namun, penerapannya masih terganjal isu double taxation (pajak berganda) yang melibatkan pajak pusat dan daerah.
Untuk mengatasi kendala aturan yang memakan waktu lama secara birokrasi, Sinarmas Asset Management mengusulkan skema pilot project dalam forum diskusi bersama Pemda DKI Jakarta beberapa waktu lalu.
"Nah, dalam diskusi itu, sempat saya sampaikan bagaimana kalau kita membuat suatu DIRE sebagai pilot project dulu. Jadi kita tidak perlu merubah sebuah kebijakan pajak baik yang di Pemda maupun yang di pusat, tapi kita coba buat satu pilot project dan bagaimana multiplier effect yang dihasilkan," ujar Genta dalam acara diskusi dengan Manajer Investasi dengan tema “Reksa Dana 2.0: Menggali Potensi Investor Ritel dan Memperbesar Dana Kelolaan" di Kantor Investortrust.id, Gedung The Convergence Indonesia, Jakarta, Kamis (10/9/2026).
Baca Juga
Empat Produk Investasi Sektor Riil Mati Suri, Apa Akar Masalah Utamanya?
Menurutnya, jika skema ini berjalan, pemilik aset dapat memutar kembali modalnya (reclass) untuk membeli dan membangun aset baru. Hal ini dinilai mampu menggerakkan perekonomian daerah secara signifikan.
"Karena tujuannya ini adalah ketika dari satu Pemda, BUMD, atau mungkin swasta dia menjual suatu asetnya, dia bisa melakukan pembelian aset baru dan membangun aset baru. Dengan kata lain dia bisa mereklas terus," ungkap Genta.
Meski demikian, Genta mengakui tantangan DIRE tidak hanya pada sisi pajak, tetapi juga daya tarik yield. Tingginya yield obligasi pemerintah di Indonesia membuat imbal hasil DIRE terasa kurang kompetitif bagi investor. Karakteristik investor DIRE secara global umumnya adalah mereka yang memiliki cost of fund rendah dan berasal dari negara dengan yield obligasi yang tergolong kecil.
"Biasanya memang yang masuk ke DIRE itu rata-rata yang dengan cost of fund yang cukup rendah dengan yield negara yang cukup rendah, sehingga DIRE itu terlihat menarik," jelas Genta.
Baca Juga
Manajer Investasi Bahas Strategi Dongkrak AUM Industri Reksa Dana, Ada Konsep SIP hingga Literasi
Evaluasi Empat Produk Bersama OJK
Selain DIRE, Genta membeberkan bahwa instrumen Reksa Dana Penyertaan Terbatas (RDPT), EBA, dan DINFRA saat ini menjadi perhatian khusus dalam task force bersama Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Langkah ini diambil lantaran keempat produk investasi tersebut dinilai cenderung stagnan atau "diam di tempat".
"RDPT, DIRE, EBA, sama DINFRA, ini yang menjadi PR bersama kita ya dalam task force bersama OJK. OJK juga menanyakan kenapa empat produk ini kok cenderung diam di tempat? Kita analisa satu-satu seperti apa," beber Genta.
Beberapa poin evaluasi yang tengah dibahas salah satunya adalah penggunaan Medium Term Notes (MTN) dalam RDPT saat ini wajib dialokasikan langsung untuk pembiayaan proyek dan tidak diperbolehkan untuk refinancing. Padahal, banyak korporasi yang membutuhkan fleksibilitas refinancing.
"Tapi sementara beberapa dari company kadang membutuhkan MTN untuk refinancing. Nah, itu mungkin yang kayak juga dalam pembahasan ya, apakah itu nanti dirubah atau seperti apa. Kalau DIRE memang salah satunya permasalahan pajak tersebut. Mungkin kalau EBA dan DINFRA itu juga secara kompleksitas juga mungkin tidak mudah ya," tutur Genta.
Asal tahu saja, industri manajer investasi di Indonesia mencatatkan kinerja positif hingga pertengahan tahun ini. Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) per Juli 2026 yang diolah Investortrust.id, total dana kelolaan (asset under management/AUM) secara keseluruhan berhasil menembus angka Rp 1.007,3 triliun. Capaian ini mencerminkan pertumbuhan sebesar 16,4% secara tahunan (year on year/YoY).
Reksadana masih menjadi penopang utama industri dengan nilai kelolaan mencapai Rp 652,6 triliun atau menguasai 64,8% pangsa pasar. Produk ini mencatatkan lonjakan signifikan sebesar 21,9% YoY. Di posisi kedua, Kontrak Pengelolaan Dana (KPD) menyumbang nilai kelolaan sebesar Rp 318,8 triliun dengan pangsa pasar 31,7% serta pertumbuhan 8,0% YoY.
Sementara itu, produk investasi yang terhubung dengan sektor riil, seperti Efek Beragun Aset (EBA), Dana Investasi Infrastruktur (DINFRA), Dana Investasi Real Estat (DIRE), dan Reksadana Terproteksi/Dana Terbatas (RDPT) menunjukkan porsi yang jauh lebih kecil. EBA tercatat mengelola Rp 3,6 triliun meski melonjak 83,3% YoY, DINFRA sebesar Rp 2,0 triliun, dan DIRE senilai Rp 11,3 triliun. Sebaliknya, RDPT menjadi satu-satunya kategori yang terkoreksi tipis -2,0% YoY menjadi Rp 19,1 triliun.
