Soal Demutualisasi BEI, Simpan Asset Management Sarankan Ambil Contoh Bursa Global yang Sukses
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id — Wacana demutualisasi Bursa Efek Indonesia (BEI) terus bergulir. Langkah transformasi struktur kepemilikan bursa ini dinilai berpotensi meningkatkan efisiensi tata kelola sekaligus mendorong pendalaman pasar modal di dalam negeri.
Direktur PT Simpan Asset Management Nicholas Hilman menilai, demutualisasi akan membawa dampak positif bagi masyarakat dan industri pasar modal Indonesia secara keseluruhan. Menurutnya, perubahan struktur ini dapat meminimalisasi benturan kepentingan serta mendorong manajemen bursa bekerja lebih efektif.
Hal itu diungkapkan Nicholas kepada investortrust.id usai acara diskusi dengan Manajer Investasi dengan tema “Reksa Dana 2.0: Menggali Potensi Investor Ritel dan Memperbesar Dana Kelolaan" di Kantor Investortrust.id, Gedung The Convergence Indonesia, Jakarta, Kamis (10/9/2026).
Baca Juga
Indikator Kinerja Demutualisasi Bursa Harus Terukur dan Dievaluasi Berkala
“Dari perspektif saya, demutualisasi BEI harapannya menimbulkan dampak yang positif bagi keseluruhan masyarakat, tapi pastinya terhadap pasar modal di Indonesia. Karena bursa efek kalau demutualisasi itu manajemennya akan lebih efisien. Menurut saya itu dampak yang sangat-sangat positif ya," ujar Nicholas.
Nicholas menambahkan bahwa transformasi ini akan membuat pengelolaan bursa lebih fokus pada kepuasan seluruh partisipan pasar.
Meski demikian, Nicholas mengingatkan agar Indonesia tidak mentah-mentah meniru model demutualisasi dari negara tetangga, seperti Singapura (SGX) atau Malaysia (Bursa Malaysia). Ia menilai setiap bursa memiliki karakteristik dan tingkat likuiditas yang berbeda.
Ia mencontohkan SGX yang dinilainya kurang sukses dalam menarik minat emiten dan menjaga likuiditas pasar, sehingga tidak semua kebijakannya relevan untuk diadaptasi oleh BEI. Menurutnya, perusahaan-perusahaan besar, seperti emiten sektor pertambangan emas lebih memilih melantai di bursa dengan likuiditas tinggi seperti Hong Kong dibanding Singapura.
“Apakah kita harus ikuti semua kebijakan dari Pemerintah Singapura atau SGX?. Ya tidak juga. Just see what works,” tegasnya.
Baca Juga
Menuju Bursa Modern dan Agile, BEI Siap Laksanakan Demutualisasi
Lebih lanjut, Nicholas menekankan pentingnya BEI mengambil tolok ukur dari bursa-bursa global yang terbukti paling sukses menggaet investor dan emiten, seraya tetap menyesuaikan kebijakan dengan kebutuhan serta karakteristik pasar modal Indonesia.
"Tapi kalau melihat benchmark di dunia gitu, bursa mana yang paling sukses mengundang paling banyak investor, paling banyak emiten untuk bukan melantai tapi untuk issue stock share mereka, itu perlu diikuti," tutur Nicholas.
