CZ Prediksi IPO Masa Depan Sepenuhnya Berbasis Blockchain
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Pendiri Binance, Changpeng Zhao (CZ) memprediksi model penawaran umum perdana saham atau initial public offering (IPO) tradisional pada akhirnya akan beralih sepenuhnya ke teknologi blockchain.
Menurut CZ, tokenisasi penawaran umum saham akan mengubah struktur pasar modal dengan memberikan likuiditas sepanjang waktu bagi perusahaan, interoperabilitas dengan protokol decentralized finance (DeFi), serta akses langsung kepada investor ritel global.
Perkembangan tersebut mulai terlihat dari meningkatnya aktivitas perdagangan aset yang merepresentasikan saham perusahaan di jaringan blockchain. Salah satu contoh terbaru berasal dari sektor kecerdasan buatan (AI), yakni Anthropic, pengembang chatbot Claude.
Derivatif yang terkait dengan saham Anthropic telah diperdagangkan secara on chain sejak Juni 2026, atau beberapa bulan sebelum perusahaan dijadwalkan memasuki pasar saham Amerika Serikat.
Roadshow resmi Anthropic disebut dijadwalkan berlangsung pada pertengahan Oktober 2026. Minat terhadap perusahaan AI tersebut turut mendorong peningkatan aktivitas perdagangan kontrak pra-IPO di sejumlah platform aset digital.
Baca Juga
7 Perusahaan Antre IPO Saham di BEI, Sektor Kesehatan Mendominasi
Di Binance melalui produk TradFi Perps, kontrak ANTHROPICUSDT diperdagangkan di kisaran 2.012,50 USDT dengan volume harian mencapai sekitar US$21,1 juta. Harga kontrak tersebut juga telah pulih dari level sekitar 1.300 USDT pada Juli 2026 dan mencatatkan level tertinggi baru.
Sementara itu, di bursa terdesentralisasi Hyperliquid, kontrak ANTH-USDC berada di sekitar US$2.157,3 atau naik 7,78% dalam 24 jam. Open interest tercatat sekitar US$22,5 juta dengan volume perdagangan harian mencapai US$15,9 juta.
Melansir TradingView, Rabu (9/9/2026) berdasarkan aktivitas perdagangan pada kedua platform tersebut, estimasi valuasi Anthropic di pasar derivatif pra-IPO berada di kisaran US$2 triliun.
Namun, instrumen tersebut bukan merupakan kepemilikan saham Anthropic secara langsung. Binance dan platform terkait menjelaskan bahwa derivatif pra-IPO merupakan kontrak sintetis yang nilainya mengacu pada ekspektasi harga saham.
Investor dalam kontrak tersebut juga tidak memperoleh hak suara maupun kepemilikan langsung atas saham perusahaan. Kontrak akan berakhir secara otomatis ketika saham perusahaan mulai diperdagangkan di bursa dan penyelesaiannya mengacu pada harga pembukaan saham di pasar tradisional.
Baca Juga
"Bear Market" Jadi Momentum, MDI Ventures Tetap Incar Startup Web3 Blockchain. Ini Syaratnya....
Pasar Saham Tokenisasi Tembus US$3 Miliar
Perkembangan perdagangan saham berbasis blockchain tersebut menjadi bagian dari pertumbuhan pasar real world assets (RWA) yang ditokenisasi.
Total kapitalisasi pasar infrastruktur RWA on chain saat ini mencapai sekitar US$33,6 miliar. Dari jumlah tersebut, saham dan exchange-traded fund (ETF) yang ditokenisasi menyumbang sekitar US$3 miliar.
Platform bStocks milik Binance menguasai sekitar 21% dari segmen tersebut dengan nilai sekitar US$627,5 juta dan mencatat 981.215 pemegang.
Sementara itu, token yang merepresentasikan Circle Internet Group dan SpaceX masing-masing mencatat nilai sekitar US$103,6 juta dan US$63,4 juta.
Meski mengalami pertumbuhan, skala pasar saham tokenisasi masih sangat kecil dibandingkan pasar saham Amerika Serikat. Kapitalisasi pasar saham AS telah melampaui US$55 triliun, sedangkan nilai transaksi harian di New York Stock Exchange (NYSE) rata-rata mencapai sekitar US$100 miliar hingga US$150 miliar.
Perbedaan skala tersebut menunjukkan bahwa perdagangan saham berbasis blockchain masih berada pada tahap awal. Namun, peningkatan volume perdagangan pra-IPO seperti Anthropic menunjukkan adanya permintaan terhadap instrumen yang memungkinkan investor memperoleh eksposur terhadap perusahaan sebelum sahamnya resmi tercatat di bursa.
Perkembangan ini sekaligus memperlihatkan semakin tipisnya batas antara pasar modal tradisional dan ekosistem blockchain, meskipun struktur hukum, hak kepemilikan, serta mekanisme penyelesaian instrumen digital tersebut masih berbeda dari saham yang diperdagangkan di bursa konvensional.
