Saham BBTN dari Berlanjutnya Kenaikan Harga hingga Diburu Investor Asing
JAKARTA, investortrust.id – Saham PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BBTN) konsisten melanjutkan kenaikan harga selama tiga pekan terakhir. Total penguatan sahamnya telah mencapai 7,74% pada periode tersebut.
Bahkan, pekan lalu saat indeks harga saham gabubungan (BEI) terkoreksi tipis -0,2%, saham BBTN berhasil mencatatkan penguatan 0,37% menjadi Rp 1.355 sepanjang perdagangan 15-19 Januari 2024. Saham BBTN juga outperformed terhadap peers emiten sektor keuangan (IDX Finance) yang turun -1,07%.
Baca Juga
Bersih-Bersih Kredit Macet, Analis Kerek Naik Target Saham BBTN
Tak hanya mencatatkan penguatan, saham BBTN terpantau tetap menjadi saham buruan pemodal asing. Perdagangan saham Jumat (19/1) mencatatkan, investor asing membukukan pembelian bersih (net buy) saham BBTN Rp 17,9 miliar. Sedangkan total net buy investor asing atas saham BBTN mencapai Rp 45,3 miliar dalam sepekan.
BEI mengungkap saham BBTN satu dari beberapa saham yang menyumbang terhadap net buy saham oleh pemodal asing. Pemodal asing membukukan net buy saham sepanjang Januari 2024 berjalan senilai Rp 6,31 triliun.
Terkait sentiment penopang saham BBTN pekan lalu berasal dari perkembangan akuisisi Bank Muamalat, dominasi kredit Himpunan Bank-Bank Milik Negara (Himbara), dan hampir berakhirnya restrukturisasi kredit Covid-19. Selain itu, investor mulai mengoleksi saham BBTN didukung sentiment dividen.
Akuisisi Muamalat
Dari sejumlah sentimen tersebut, isu aksi korporasi masih menjadi sorotan paling utama, terlebih karena adanya tarik-menarik yang cukup kuat di antara beberapa pihak, seperti Bank BTN, Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN), dan Badan Pengelola Keuangan Haji (BPKH) selaku pemegang saham utama Bank Muamalat.
“Dalam waktu dekat, BTN akan melakukan due diligence terhadap Muamalat. Jika proses uji tuntas ini berjalan lancar dan kedua pihak sepakat mengenai valuasi (harga), target akusisi bakal tuntas pada kuartal I 2024, mungkin bisa tercapai,” kata salah seorang eksekutif perusahaan sekuritas yang mengetahui transaksi ini.
Baca Juga
Sinarmas Sekuritas: IHSG Berpotensi Menuju Level 7.800-8.200 Tahun Ini
Staf Khusus Menteri BUMN, Arya Sinulingga, pada awal pekan lalu mengatakan akuisisi Bank Mumalat oleh BTN Syariah masih dalam proses negosiasi atau tawar-menawar. Menurut Arya, BTN masih membuka peluang adanya bank syariah lainnya yang memungkinkan untuk diakusisi.
Sebelumnya, manajemen BTN kembali menegaskan bahwa rencana pemisahan unit usaha syariah (UUS) akan selesai pada tahun ini. Direktur Utama BTN Nixon Napitupulu mengungkapkan spin-off UUS akan dilakukan setelah menuntaskan akuisisi terhadap bank syariah. Setidaknya, enam bulan pasca akuisisi.
Sementara itu, Direktur Keuangan Bank BTN Nofry Rony Poetra mengungkapkan, perseroan optimistis untuk mempertahankan rasio pembagian dividen sebesar 20% dari laba bersih kepada investor. Pada kuartal III-2023, BTN membukukan laba bersih sebesar Rp 2,31 triliun, naik 1,3%, dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp 2,28 triliun. Sebelumnya, Nixon mengatakan bahwa BTN memiliki ekspektasi pertumbuhan laba pada 2023 sebesar 8%.
Baca Juga
OJK Sebut BTN Syariah dan Bank Muamalat Belum Ajukan Izin Merger
Dari sisi makro, Bank Indonesia (BI) menahan suku bunga acuannya di level 6% pada Rapat Dewan Gubernur bulan Januari 2024 yang diadakan pekan lalu. Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan bahwa bank sentral masih mengamati kondisi dalam negeri dan global terkait kemungkinan pemangkasan bunga. Pasalnya, bank sentral Amerika Serikat, The Fed, diperkirakan akan mulai menurunkan bunga acuannya, Fed Fund Rate, mulai semester kedua 2024.
Berdasarkan estimasi, Bank BTN akan memiliki dorongan besar untuk meningkatkan bisnisnya di paruh kedua tahun ini seiring dengan mulainya era suku bunga rendah. BTN menargetkan pertumbuhan kredit sebesar 11% pada tahun ini, dengan salah satu pendorongnya tren suku bunga yang diperkirakan terun.

