Bitcoin Kembali Menguat, Pasar Kripto Menanti Sinyal The Fed
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id— Harga Bitcoin (BTC) kembali mendekati level psikologis US$ 80.000 setelah mengalami reli dalam beberapa hari terakhir. Dorongan dana institusi melalui produk spot Bitcoin exchange-traded fund (ETF) Amerika Serikat menjadi salah satu motor utama penguatan aset kripto terbesar dunia tersebut.
Bitcoin sempat diperdagangkan hingga sekitar US$80.808 pada Kamis (27/8), sebelum bergerak kembali di sekitar US$79.000-US$80.000. Penguatan terjadi ketika investor institusi terus menambah eksposur terhadap Bitcoin melalui ETF.
Data SoSoValue menunjukkan spot Bitcoin ETF AS membukukan arus dana masuk bersih sekitar US$242 juta pada 27 Agustus. Catatan tersebut sekaligus memperpanjang tren positif menjadi sembilan hari perdagangan berturut-turut. BlackRock IBIT menjadi penyumbang terbesar dengan arus masuk sekitar US$278 juta.
Sebelumnya, ETF Bitcoin AS juga mencatat arus masuk sekitar US$1,92 miliar dalam sepekan, menjadi performa mingguan terkuat dalam sekitar 10 bulan.
CEO dan Founder FLOQ, Yudhono Rawis, menilai konsistensi arus dana ETF menjadi sinyal penting karena reli Bitcoin kali ini tidak hanya digerakkan oleh investor ritel.
“Arus masuk ETF selama sembilan hari berturut-turut menunjukkan bahwa permintaan institusi masih cukup kuat di level harga sekarang. Selama aliran dana ini bertahan, tekanan beli bisa membantu Bitcoin menjaga momentum dan kembali menguji area resistance di atas US$80.000,” ujar Yudho dalam risetnya, Jumat (28/8/2026).
Baca Juga
Short Seller Ikut Dorong Bitcoin Terbang
Selain pembelian melalui ETF, pergerakan Bitcoin juga diperkuat oleh aksi short squeeze, yakni ketika trader yang bertaruh harga akan turun terpaksa menutup posisi karena pasar justru bergerak naik.
Data CoinGlass yang dikutip sejumlah media menunjukkan sekitar US$409 juta posisi derivatif kripto terlikuidasi dalam periode 24 jam ketika Bitcoin menembus US$80.000, dengan sekitar US$280 juta berasal dari posisi short.
Penutupan paksa posisi tersebut menciptakan tambahan permintaan di pasar dan mempercepat kenaikan harga Bitcoin. Menurut Yudho, kombinasi antara permintaan spot dari investor institusi dan likuidasi posisi short menjadi faktor yang membuat pergerakan Bitcoin berlangsung cepat.
“ETF memberikan permintaan yang lebih struktural, sedangkan short squeeze menjadi akselerator dalam jangka pendek. Kombinasi keduanya membuat Bitcoin bisa bergerak lebih agresif, tetapi investor juga perlu melihat apakah kenaikan ini tetap didukung volume spot setelah efek likuidasi mulai mereda,” jelasnya.
Baca Juga
Industri Kripto Makin Terhubung dengan Keuangan Tradisional, Regulasi Jadi Sorotan
US$80.000 Jadi Level Krusial
Kini perhatian pasar tertuju pada kemampuan Bitcoin mempertahankan area US$78.000-US$80.000. Secara teknikal, area sekitar US$81.000-US$83.000 menjadi resistance penting yang perlu ditembus untuk membuka ruang penguatan lebih lanjut.
Level tersebut bukan tanpa hambatan. Data UTXO Realized Price Distribution (URPD) menunjukkan terdapat pasokan Bitcoin dalam jumlah besar yang sebelumnya dibeli pada area US$83.000-US$84.500. Kondisi tersebut berpotensi memunculkan aksi ambil untung ketika harga mendekati area tersebut.
Yudho menilai Bitcoin masih mempunyai momentum positif, tetapi kenaikan yang cepat dalam beberapa hari terakhir juga membuat peluang konsolidasi tetap terbuka.
“Area US$80.000 sekarang menjadi titik psikologis yang penting. Jika Bitcoin mampu bertahan di atas US$78.000 dan kemudian menembus resistance US$81.000-US$83.000 dengan volume yang kuat, peluang melanjutkan tren naik akan semakin terbuka. Sebaliknya, kegagalan bertahan di area tersebut dapat memicu profit taking jangka pendek,” kata Yudho.
Pasar Tunggu Pidato Bos The Fed
Selain faktor teknikal dan arus ETF, pelaku pasar kini menunggu pidato Ketua Federal Reserve Kevin Warsh di Jackson Hole Economic Policy Symposium pada Jumat (28/8). Federal Reserve menjadwalkan pidato Warsh pada pukul 10.00 waktu AS.
Pernyataan Warsh menjadi penting karena pasar tengah mencari petunjuk mengenai arah kebijakan suku bunga dan pandangan bank sentral terhadap inflasi AS. Nada yang lebih ketat atau hawkish berpotensi menekan aset berisiko, termasuk kripto. Sebaliknya, sinyal kebijakan yang lebih akomodatif dapat memperkuat sentimen terhadap Bitcoin dan aset berisiko lainnya.
“Dalam jangka pendek, Jackson Hole menjadi katalis yang perlu diperhatikan. ETF saat ini memberikan fondasi permintaan yang positif, tetapi Bitcoin tetap sangat sensitif terhadap perubahan ekspektasi suku bunga dan likuiditas global,” ujar Yudho.
Menurutnya, selama arus masuk ETF tetap konsisten dan Bitcoin mampu menjaga support di sekitar US$78.000, peluang pengujian kembali US$81.000 masih terbuka.
