Momentum Lompatan Kinerja Keuangan Adaro Minerals (ADMR), Bagaimana Harga Sahamnya?
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id –Saham PT Adaro Minerals Indonesia Tbk (ADMR) menyimpan potensi penguatan pesat ke depan, seiring dengan outlook positif bisnis aluminium dan eksposur batu bara metalurgi (met coal). Apalagi dengan target perseroan untuk meningkatkan kapasitas produksi aluminium menjadi 500 ribu ton akhir tahun ini.
Hal ini mendorong KB Valbury Sekuritas dalam riset perdananya untuk merekomendasikan beli saham ADMR dengan target harga Rp 2.100 per saham. Target tersebut mengimplikasikan potensi kenaikan sebesar 25%, didukung prospek pertumbuhan bisnis aluminium dan eksposur batu bara metalurgi (met coal).
Analsi KB Valbury Sekuritas Logan Alexander Limanardja dan Atikah Tri Adriyanti mengatakan, ADMR dinilai sebagai emiten yang memiliki prospek re-rating struktural dalam jangka menengah hingga panjang, seiring transformasi bisnis dari perusahaan didominasi batu bara menjadi produsen logam terdiversifikasi.
Baca Juga
DSI Buka Peluang Perluas Pengawasan Ekspor Komoditas Strategis di Luar Batu Bara dan CPO
Katalis utama berasal dari pengembangan smelter aluminium yang dioperasikan anak usaha, Kalimantan Aluminium Industry (KAI). KAI mulai melakukan pengiriman komersial pada Juni 2026 dan kapasitas produksi ditaretkan meningkat menjadi 500 ribu ton per tahun (ktpa) pada akhir 2026.
Penjualan aluminium KAI diproyeksikan mencapai 300 ribu ton tahun ini, lebih rendah dari panduan manajemen sebesar 350 ribu ton. Asumsi tersebut mencerminkan proyeksi ramp-up yang lebih konservatif pada tahun pertama operasi smelter. Dengan demikian, bisnis aluminium diperkirakan berkontribusi US$ 900 juta terhadap pendapatan konsolidasi tahun ini. “Kontribusi aluminium kemudian diproyeksikan meningkat menjadi 50,7% dari total pendapatan pada 2030, dibandingkan perkiraan tahun ini sekitar 43,9%,” tulisnya.
Secara kinerja keuangan, KB Valbury Sekuritas memperkirakan, ADMR memasuki pertumbuhan kuat sepanjang 2025-2030. Rata-rata pertumbuhan tahunan (CAGR) pendapatan bisa mencapai 26,5%, EBITDA sebanyak 27,5%, dan CAGR laba bersih diperkirakan mencapai 24%. ”Pendapatan ADMR diproyeksikan mencapai US$ 3,153 miliar pada 2030 dengan laba bersih mencapai US$ 793,5 juta,” tulisnya.
Permintan Pasar
KB Valbury Sekuritas menyebutkan bahwa proyeksi lompatan kinerja keuangan ADMR tersebut ditopang atas ramp-up volume produksi KAI sejalan dengan seiring dengan kenaikan permintaan aluminium primer global. Permintaan aluminium primer global diperkirakan tetap berada di atas pasokan hingga tahun 2027.
Bloomberg Intelligence memperkirakan defisit aluminium global mencapai rekor 2,2 juta ton pada 2026. Kondisi tersebut dipengaruhi oleh penurunan pasokan dari Timur Tengah, dengan produksi turun 35% secara tahunan pada April 2026, serta penurunan pasokan di luar Timur Tengah dan China sebesar 4,2%.
Sedangkan dari sisi bisnis batu bara metalurgi, KB Valbury menyebutkan, China masih menjadi importir met coal terbesar secara absolut, tetapi kontribusinya terhadap permintaan impor global diperkirakan turun dari sekitar 29% pada 2026 menjadi sekitar 23% pada 2035.
Baca Juga
Sebaliknya, India diperkirakan mencatat pertumbuhan permintaan impor yang lebih cepat. Hal ini didukung target kapasitas produksi baja mentah India sebanyak 300 juta ton pada 2030 serta keterbatasan cadangan domestik. Selain itu, dari sisi pasokan dominasi Australia diperkirakan berangsur menurun, sementara Mongolia meningkatkan pangsa pasarnya di China.
“Kombinasi pertumbuhan permintaan impor India dan perubahan dinamika pasokan tersebut mendukung pandangan positif terhadap prospek met coal dalam jangka menengah. Harga jual rata-rata (ASP) met coal ADMR diproyeksikan berada di kisaran US$ 185-195 per ton pada 2026-2030,” tulisnya.
Dengan sejumlah factor tersebut, KB Valbury berani mempertahankan rekomendasi beli saham ADMR dengan target harga Rp 2.100 per saham berbasis Sum-of-the-Parts (SOTP). Target tersebut mengindikasikan peluang kenaikan 25%. Katalis pendorong kinerja dan valuasi ADMR datang dari ramp-up KAI yang lebih cepat, integrasi captive power berbiaya lebih rendah, kenaikan harga jual aluminium dan coking coal, serta ekspansi kapasitas smelter.
