IHSG Ditutup Anjlok 1,48% Jelang Demo 27 Agustus, Ini Kata Analis
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) ditutup anjlok 95,98 poin (1,48%) ke level 6.405, Rabu (26/8/2026). Pelemahan ini dipicu aksi ambil untung (profit taking) setelah IHSG menguat dalam beberapa pekan terakhir.
Penurunan juga dipicu atas sikap investor yang cenderung wait and see menjelang rencana aksi demonstrasi di Jakarta, Kamis (27/8/2026).
Senior Technical Analyst PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia Muhammad Nafan Aji mengatakan, sentimen menjelang aksi demonstrasi pada 27 Agustus berpotensi menjadi salah satu faktor yang memicu aksi profit taking dan risk-off jangka pendek.
Baca Juga
IHSG Ditutup Jatuh 1,48%, Sebaliknya 5 Saham Ini Raup ARA Dipimpin TMPO hingga LIFE
"Menurut saya, sentimen jelang aksi demonstrasi besok, 27 Agustus, memang berpotensi menjadi salah satu faktor yang memicu aksi profit taking dan risk-off jangka pendek, terutama setelah IHSG sebelumnya mengalami penguatan dan investor cenderung mengamankan keuntungan menjelang potensi meningkatnya volatilitas," kata Nafan saat dihubungi investortrust.id Rabu, (26/8/2026).
Menurut Nafan, rencana aksi demonstrasi di sekitar Gedung DPR/MPR menjadi perhatian pelaku pasar. Kondisi tersebut membuat sebagian investor cenderung bersikap wait and see hingga situasi politik dan keamanan lebih jelas. "Namun, saya melihat tidak tepat jika seluruh pelemahan IHSG lebih dari 1% hanya dikaitkan dengan demo," ucap Nafan.
Ia juga menilai pergerakan IHSG juga dipengaruhi sejumlah faktor lain, mulai dari teknikal, rotasi sektor, aksi ambil untung, arus dana asing, hingga sentimen makro dan global. Nafan menyampaikan, apabila aksi demonstrasi berlangsung tertib dan tidak berkembang menjadi gangguan keamanan yang signifikan, dampaknya terhadap IHSG kemungkinan hanya bersifat sementara.
Baca Juga
Arsari Group dan Indosat (ISAT) Luncurkan RAIA Grid, Bidik Infrastruktur AI Indonesia
"Selama aksi berlangsung tertib dan tidak berkembang menjadi gangguan keamanan yang signifikan, dampaknya terhadap IHSG kemungkinan lebih bersifat temporer dan berbasis sentimen, bukan perubahan fundamental," tutur Nafan.
Sebaliknya, Nafan menyebut eskalasi aksi demonstrasi dan meningkatnya ketidakpastian politik berpotensi memperbesar tekanan jual di pasar saham.
Pengamat Pasar Modal Elandry Pratama menilai pelemahan IHSG pada perdagangan hari ini lebih banyak dipengaruhi kombinasi aksi profit taking setelah penguatan indeks dalam beberapa pekan terakhir, tekanan jual pada saham-saham berkapitalisasi besar, serta sikap investor yang mulai wait and see menjelang rebalancing MSCI akhir bulan.
Baca Juga
Pemerintah Targetkan Sertifikasi Gratis 11 Juta Tanah MBR hingga 2029
Menurut Elandry, tekanan jual semakin meningkat pada sesi II seiring pelaku pasar mengurangi posisi menjelang agenda domestik pada Kamis (27/8/2026). "Perubahan arah pada sesi II menunjukkan tekanan jual meningkat ketika pelaku pasar memilih mengurangi posisi menjelang agenda domestik besok," ujar Elandry.
Ia menambahkan, rencana demonstrasi juga berpotensi menekan risk appetite investor, meski sejauh ini belum menjadi faktor utama koreksi IHSG. "Pasar akan lebih mencermati apakah aksi berlangsung kondusif atau justru mengalami eskalasi," ungkapnya.
Cenderung Volatil
Untuk perdagangan Kamis (27/8/2026), Elandry memperkirakan IHSG bergerak volatil dengan kecenderungan sideways hingga melemah terbatas pada kisaran 6.380-6.480. Level 6.400 menjadi support psikologis, sedangkan resistance berada di sekitar 6.480-6.500.
Baca Juga
Di Hadapan Prabowo, Pertamina Pamerkan PLTS Pulau Sembur Dukung PLTS 100 GWp
Menurutnya, apabila demonstrasi berlangsung tertib, tekanan terhadap pasar berpeluang mereda sehingga membuka ruang bagi technical rebound. Namun, eskalasi aksi yang disertai tekanan jual asing dapat membawa IHSG menguji level 6.350-6.380.
"Jika demonstrasi berjalan tertib, tekanan pasar berpeluang mereda dan membuka ruang technical rebound. Namun, apabila terjadi eskalasi disertai tekanan jual asing, indeks berisiko menguji area 6.350-6.380. Investor sebaiknya tetap selektif dan menjaga likuiditas sambil menunggu situasi lebih jelas," pungkas Elandry.
