Volatilitas Pasar Tinggi, Perhatikan Rilis Data-Data Penting Pekan Ini
JAKARTA, investortrust.id – Sederet agenda ekonomi diperkirakan bakal memengaruhi pergerakan pasar finansial pekan ini, 11-15 September 2023.
Untuk itu para investor diminta mencermati perkembangan terkait agenda tersebut. Dimulai pada 11 September 2023, di mana Bank Indonesia merilis indeks penjualan riil.
Selang dua hari akan ada rilis Inflasi umum dan inti CPI Amerika Serikat pada 13 September 2023.
Baca Juga
Kinerja Menurun, Rating Saham Peternakan Tumiyana (WMPP) Dipangkas
Analis Samuel Sekuritas Lionel Priyadi mengatakan data reflasi AS merupakan fokus perhatian pemodal pekan ini.
‘’Reflasi CPI AS disebabkan oleh kenaikan harga-harga barang fluktuatif dengan laju inflasi bulanan diperkirakan sebesar 0,5% mom (3,6% yoy),’’ katanya.
Sebagai catatan, reflasi merupakan keadaan di mana pertumbuhan ekonomi cukup baik, namun dibarengi tingkat inflasi yang tinggi.
Esoknya, 14 September rilis inflasi umum PPI Amerika Serikat, dan tanggal 15 September terdapat tiga agenda yaitu suku bunga fasilitas pinjaman menengah 1 tahun PBOC.
Kemudian rilis data perekonomian Cina terdiri dari produksi industri, penjualan ritel dan investasi, serta data ekspor – impor serta neraca dagang Indonesia.
Lionel Priyadi memperkirakan, sejumlah agenda yang terjadi pekan ini bakal berpengaruh pada volatilitas pasar keuangan global, termasuk pasar surat utang.
Baca Juga
Reksa Dana Saham Paling Ambles Sepekan Terakhir, Ini Penyebabnya
Menghadapinya, Lionel mempertahankan rekomendasi overweight pada surat utang pemerintah dengan tenor 2 tahun (2Y INDOGB).
Volatilitas pasar menurut dia juga akan dipengaruhi oleh tekanan terhadap Rupiah. Trading range USD/IDR menurutnya berada di level Rp 15.250-15.450 per USD.
‘’Kuatnya tekanan depresiasi terhadap Rupiah akan memicu berlanjutnya arus keluar modal asing di IHSG, yang selanjutnya membuat IHSG tertekan di area support teknikal 6.885-6.930,’’ kata dia.
Tentu tidak semua sentimen menekan pasar, rilis SRBI pada hari Jumat (15/9) dinilai akan menjadi salah satu faktor yang berdampak positif terhadap obligasi SBN tenor pendek karena rilis ini akan mengakhiri operation twist Bank Indonesia.
‘’Menurut estimasi kami, SRBI akan ditawarkan pada tingkat diskonto 6,3-6,5% yang hampir setara dengan yield INDOGB 10Y,’’ tuturnya.

