Chandra Asri (TPIA): Penurunan Laba Semester I-2026 Dipicu Faktor Akuntansi, Bukan Pelemahan Operasional
JAKARTA, investortrust.id – PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) mengungkap bahwa penurunan laba periode berjalan pada semester I-2026 perlu dipahami dalam konteks faktor akuntansi yang bersifat non-recurring atau satu kali pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Berdasarkan laporan kinerja keuangan TPIA diungkap laba periode berjalan sebesar US$ 371,18 juta pada semester I-2026, turun lebih dari 77% dibandingkan semester I-2025 yang mencapai US$1,62 miliar, meskipun pendapatan meningkat dari US$2,91 miliar menjadi US$5,34 miliar.
Manajemen dalam penjelasan yang diterima Investortrust menjelaskan, laba bersih semester I-2025 mencakup keuntungan pembelian dengan harga murah (bargain purchase gain atau negative goodwill) yang timbul dari penyelesaian akuisisi Aster Chemicals and Energy.
Baca Juga
Laba Bersih Chandra Asri (TPIA) Tergerus 77% di Semester I-2026, Meski Pendapatan Melesat
“Keuntungan tersebut merupakan pencatatan akuntansi yang bersifat non-recurring dan tidak berasal dari aktivitas operasional yang berulang. Keberadaan komponen tersebut menjadikan semester I-2025 sebagai basis perbandingan yang sangat tinggi (high base effect),” tulisnya.
Oleh karena itu, Manajemen TPIA menyebutkan bahwa perbandingan laba bersih semester I-2026 terhadap periode yang sama tahun sebelumnya perlu dipahami dalam konteks tersebut agar memberikan gambaran yang lebih utuh mengenai kinerja perseroan.
Emiten yang dikendalikan Prajogo Pangestu ini menyatakan, apabila dampak negative goodwill tersebut dikecualikan, Chandra Asri (TPIA) tetap membukukan kinerja operasional yang kuat. Hal ini ditunjukkan EBITDA sebesar US$ 802,6 juta dan laba bersih sebesar US$ 371,2 juta.
Baca Juga
Chandra Asri (TPIA) Buka Suara Soal Keterlibatan Anak Usaha di Proyek PSEL Danantara
Pencapaian tersebut sebagai cerminan kontribusi berkelanjutan dari platform bisnis energi, kimia, dan infrastruktur yang terintegrasi. Kinerja tersebut juga didukung margin yang lebih kondusif di tengah volatilitas pasar yang dipengaruhi perkembangan geopolitik di Timur Tengah.
TPIA menyebutkan bahwa indikator, seperti underlying earnings, EBITDA, dan kinerja operasional, memberikan gambaran yang lebih representatif mengenai fundamental bisnis.
“Tanpa memperhitungkan komponen yang bersifat non-recurring tersebut, TPIA menegaskan tetap menunjukkan kinerja operasional dan keuangan yang solid, sekaligus mencerminkan ketahanan serta kekuatan fundamental bisnisnya,” tulisnya.
