Net Sell Saham Tembus Rp79 Triliun, IHSG Jadi Bursa Terlemah di ASEAN
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust — Aksi jual investor asing di pasar saham Indonesia terus berlanjut. Hingga penutupan perdagangan Jumat (24/07/2026), nilai net foreign sell secara kumulatif sepanjang tahun (year to date/YTD) telah mencapai Rp79,09 triliun atau sekitar US$4,4 miliar, setelah pada perdagangan hari itu asing kembali mencatatkan net sell Rp1,36 triliun. Arus keluar modal asing yang terus berlangsung menjadi salah satu faktor utama yang menekan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), meskipun fundamental perekonomian Indonesia dinilai tetap kuat.
Berdasarkan statistik Bursa Efek Indonesia (BEI), IHSG ditutup melemah 118,88 poin atau 1,88% ke level 6.196,430. Sepanjang sesi perdagangan, indeks sempat menyentuh level tertinggi 6.268,534 dan terendah 6.159,145. Dengan penutupan tersebut, IHSG telah terkoreksi 28,34% sejak awal Januari hingga 24 Juli 2026, menjadikannya sebagai bursa saham dengan kinerja terburuk di kawasan ASEAN dan peringkat ke-35 dari 36 bursa utama dunia yang dipantau Bursa Efek Indonesia.
Nilai transaksi saham mencapai Rp17,70 triliun dengan volume perdagangan 35,97 miliar saham dan frekuensi 2,23 juta kali. Dari sisi valuasi, rasio price earnings ratio (PER) pasar berada di 12,64 kali dengan price to book value (PBV) sebesar 1,65 kali, yang menunjukkan valuasi pasar Indonesia relatif semakin menarik dibandingkan banyak bursa berkembang lainnya.
Dominasi investor domestik masih menjadi penopang utama aktivitas perdagangan. Meski investor asing terus membukukan arus keluar dana, aktivitas transaksi tetap didominasi investor lokal, baik dari sisi frekuensi maupun nilai perdagangan. Namun, kepemilikan asing masih terkonsentrasi pada saham-saham berkapitalisasi besar dengan porsi free float tinggi yang menjadi konstituen utama IHSG. Karena itu, aksi jual asing pada saham-saham unggulan memberikan tekanan yang jauh lebih besar terhadap pergerakan indeks dibandingkan aksi jual pada saham lapis kedua maupun lapis ketiga.
Kapitalisasi pasar Bursa Efek Indonesia tercatat mencapai Rp10.870,6 triliun, sedangkan kapitalisasi pasar berdasarkan free float adjusted mencapai Rp2.696,2 triliun. Emiten dengan kapitalisasi pasar terbesar masih ditempati PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) sebesar Rp766 triliun, disusul PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) Rp475 triliun, PT DCI Indonesia Tbk (DCII) Rp445 triliun, PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) Rp444 triliun, PT Bayan Resources Tbk (BYAN) Rp399 triliun, PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) Rp382 triliun, PT Mora Telematika Indonesia Tbk (MORA) Rp315 triliun, PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) Rp293 triliun, PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM) Rp261 triliun, serta PT Astra International Tbk (ASII) Rp202 triliun.
Baca Juga
IHSG Anjlok Hari Ini Dipicu Sentimen Global, Analis Prediksi Peluang Koreksi ke Area 5.880-6.000
Tekanan jual terjadi hampir di seluruh sektor. Indeks Consumer Cyclicals memimpin pelemahan dengan penurunan 3,04%, diikuti Basic Materials yang turun 3,02%, Energy melemah 2,82%, Transportation & Logistics turun 2,70%, serta Financials terkoreksi 2,00%. Sektor yang relatif lebih defensif adalah Healthcare yang hanya turun 0,26%, disusul Properties & Real Estate turun 1,16%, Technology 1,41%, Consumer Non-Cyclicals 1,45%, Industrials 1,47%, dan Infrastructures 1,63%.
Pelemahan juga tercermin pada berbagai indeks utama BEI. LQ45 turun 1,97%, IDX30 melemah 1,86%, IDX80 turun 2,27%, KOMPAS100 turun 2,28%, sedangkan Jakarta Islamic Index (JII) terkoreksi lebih dalam sebesar 2,71%. Secara kumulatif sepanjang tahun, LQ45 telah melemah 27,38%, sementara IDX80 turun 30,20%, mencerminkan tekanan yang masih meluas pada saham-saham berkapitalisasi besar maupun menengah.
Dibandingkan negara-negara lain, kinerja pasar saham Indonesia masih tertinggal. Dengan penurunan 28,34% sepanjang tahun, IHSG menjadi bursa dengan performa terburuk di ASEAN. Sebaliknya, Thailand masih membukukan kenaikan 30,54%, Singapura menguat 20,28%, Filipina naik 3,77%, dan Malaysia bertambah 1,24%, sedangkan Vietnam hanya melemah 4,77%. Di kawasan Asia Pasifik, IHSG juga tertinggal jauh dari Korea Selatan yang melonjak 58,76%, Taiwan 50,72%, dan Jepang 28,35%. Secara global, berdasarkan perbandingan 36 bursa anggota World Federation of Exchanges yang dihimpun BEI, IHSG berada di peringkat ke-35, hanya lebih baik dibanding satu bursa lainnya.
Meski tekanan jual asing belum mereda, sejumlah pelaku pasar menilai kondisi saat ini sekaligus membuka peluang bagi investor jangka panjang. Valuasi saham Indonesia yang relatif murah, fundamental ekonomi yang tetap solid, serta besarnya kapitalisasi pasar diyakini menjadi modal penting bagi pemulihan pasar apabila arus modal asing kembali masuk seiring meningkatnya kepercayaan investor terhadap prospek ekonomi nasional.
