Usai Sempat Melonjak, IHSG Berbalik Turun, Ini Penyebab Menurut Analis
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) ditutup mendadak melemah pada perdagangan Kamis (23/7/2026), setelah sempat bergerak fluktuatif di tengah aksi ambil untung (profit taking) investor.
Berdasarkan data BEI, IHSG ditutup turun 19 poin atau 0,3% ke level 6.315,31. Nilai transaksi tercatat sebesar Rp23,94 triliun dengan volume perdagangan mencapai 63,31 miliar saham. Padahal, IHSG awal sesi II sempat menguat hingga 1,85%.
Baca Juga
IHSG Ditutup Berbalik Turun 0,30% Terseret Saham TPIA hingga BBCA
Pengamat Pasar Modal Elandry Pratama menilai pelemahan IHSG lebih dipengaruhi aksi profit taking setelah indeks menguat cukup signifikan dalam beberapa hari terakhir. "Menurut saya pelemahan IHSG sore ini lebih karena profit taking. Setelah naik cukup kencang dalam beberapa hari terakhir, wajar kalau sebagian investor memilih mengamankan keuntungan. Apalagi indeks tadi sempat mendekati area resistance, sehingga tekanan jual meningkat," kata Elandry kepada investortrust.id, Kamis (23/7/2026).
Menurut Elandry, menjelang akhir pekan sebagian pelaku pasar juga cenderung mengurangi posisi (risk-off) untuk mengantisipasi potensi sentimen yang muncul saat pasar tutup. "Selama belum ada sentimen negatif baru dan arus dana asing masih cukup terjaga, saya melihat ini masih sebatas koreksi yang wajar dalam fase technical rebound, belum mengubah tren jangka pendek," ujarnya.
Baca Juga
Laba Bank Mandiri (BMRI) Tembus Rp 30,4 Triliun, Kredit Tumbuh 19,9% pada Semester I 2026
Sementara itu, riset Phintraco Sekuritas menyebut IHSG sempat bergerak fluktuatif dan menyentuh level 6.454, melanjutkan rebound dari koreksi pada perdagangan sebelumnya. Penguatan tersebut ditopang optimisme terhadap prospek ekonomi Indonesia yang dinilai masih solid.
Meski demikian, Phintraco menilai kenaikan harga minyak mentah ke level tertinggi dalam enam pekan terakhir membuat pelaku pasar lebih berhati-hati dan cenderung melakukan perdagangan jangka pendek.
Harga minyak mentah menguat lebih dari 3%, dengan minyak West Texas Intermediate (WTI) dan Brent masing-masing berada di atas US$89 per barel dan US$97 per barel, seiring meningkatnya eskalasi konflik Amerika Serikat dan Iran.
