Hadapi Bonus Demografi, Ketua Asosiasi Emiten Wanti-Wanti Masalah Kualitas SDM
JAKARTA, investortrust.id - Pemerintah mencanangkan visi Indonesia Emas 2045, mengingat adanya potensi negara ini memperoleh bonus demografi di tahun tersebut.
Meski begitu, Ketua Umum Asosiasi Emiten Indonesia (AEI) sekaligus Wakil Presiden Direktur PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), Armand Wahyudi Hartono mengingatkan ada hal penting yang perlu dikhawatirkan.
Armand menyebut kualitas sumber daya manusia (SDM) harus sangat diperhatikan dalam menghadapi bonus demografi ini. Karena itu menurut dia, akan percuma jika jumlah masyarakat usia produktif banyak, tetapi tidak punya kualitas yang layak.
Baca Juga
Sarana Menara (TOWR) Sabet Best Stock Awards, Siap Pacu Ekspansi di 2024
“Negara seperti Jepang sejak Perang Dunia II, mereka surplus demografi, mereka fokus pada food and protein supaya IQ orang Jepang itu meningkat. Sehingga generasi berikutnya IQ-nya lebih tinggi dari generasi sebelumnya,” kata Armand Hartono saat menyampaikan sambutan dalam acara The Best Stock Awards 2024 yang digelar oleh investortrust di Jakarta, Kamis (25/1/2024).
Armand Hartono memaparkan, rata-rata IQ masyarakat Jepang di angka 100-an. Sementara itu, rata-rata IQ masyarakat Singapura 105. Sedangkan Indonesia sendiri rata-rata IQ masyarakatnya berada di angka 78,5.
“Jadi hati-hati, karena ini surplus. Tapi kalau IQ-nya masih rendah ya hanya tetap jadi tukang. Maaf kalau diminta ada industri AI (artificial intelligence), ya tidak sampai,” sebut Armand Hartono.
Baca Juga
Maka dari itu, Armand Hartono meminta para stakeholder untuk mengkaji ulang jika ingin menyamakan kurikulum pendidikan di Indonesia dengan negara-negara maju. Sebab, Indonesia harus memiliki SDM dengan kualitas yang memadai untuk bisa menerima kurikulum tersebut.
“Kemarin saya jadi pembicara. Dengan Kadin kami menangani kurikulum pemerintah, maaf saya mau angkat tangan. Kalau bahan-bahannya, memang IQ rata-rata masih kurang makan, masih stunting, tapi kurikulumnya canggih seperti negara maju, ini gak klop,” terang dia.
Menurut Armand, ini sebenarnya bisa menjadi peluang bagi para pengusaha. Pasalnya, mereka bisa menjual produk barang atau jasa yang dibutuhkan oleh masyarakat Indonesia untuk meningkatkan kualitas diri.
“Jadi masih banyak challenge. Tapi opportunity-nya karena di sini ada beberapa yang emiten di bidang makanan dan agri. Artinya orang masih butuh ayam, butuh telur. Dan kenapa IQ rendah selain kurang protein dan kurang gizi? banyak penyakit. Artinya ini opportunity bagi emiten-emiten di bidang kesehatan,” tukas Armand.

