Krisis Pasokan Listrik, Rusia Pertimbangkan Larangan Mining Bitcoin di 19 Wilayah
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Pemerintah Rusia tengah mempertimbangkan perluasan pembatasan aktivitas penambangan (mining) Bitcoin di 19 wilayah yang terhubung dengan sistem kelistrikan pusat negara tersebut. Langkah ini diambil di tengah lonjakan permintaan listrik, pesatnya ekspansi pusat data (data center), serta kekhawatiran terhadap stabilitas pasokan energi nasional.
Mengutip laporan Kommersant, pemerintah Rusia mengkaji usulan pelarangan aktivitas penambangan mata uang kripto di wilayah yang terhubung dengan sistem energi terpadu Moskow. Wilayah yang terdampak mencakup Moskow dan sekitarnya, serta 17 wilayah lain di Rusia bagian tengah, seperti Bryansk, Kaluga, Tula, Yaroslavl, dan Voronezh.
Apabila disetujui, kebijakan tersebut akan membatasi aktivitas penambangan kripto di sebagian besar wilayah Rusia tengah, yang selama ini menjadi salah satu pusat kegiatan industri tersebut.
Selain opsi pelarangan penuh, Kementerian Energi Rusia juga mempertimbangkan penerapan regulasi yang lebih ketat terhadap koneksi listrik bagi fasilitas penambangan baru. Dalam skema yang tengah dibahas, perusahaan penambangan hanya dapat memperoleh akses jaringan melalui kategori keandalan tingkat empat, sehingga menjadi kelompok pertama yang akan diputus aliran listrik ketika terjadi kekurangan pasokan.
Baca Juga
Bangkrut Sejak 2022, Bursa Kripto FTX Kembalikan Dana Kreditur Rp 179,42 Triliun Secara Bertahap
Kebijakan tersebut muncul setelah sistem kelistrikan Rusia mencatat rekor permintaan listrik sebesar 43,3 gigawatt (GW) pada musim gugur dan musim dingin lalu, atau meningkat sekitar 2,3 GW dibandingkan rekor sebelumnya. Khusus wilayah Moskow dan sekitarnya, beban listrik telah mencapai 21,1 GW.
Di sisi lain, pertumbuhan pusat data turut meningkatkan konsumsi energi nasional. Saat ini, pusat data diperkirakan mengonsumsi sekitar 4 GW atau sekitar 2% dari total konsumsi listrik Rusia. Kementerian Pengembangan Digital Rusia memperkirakan kebutuhan listrik sektor tersebut masih akan bertambah sekitar 2 GW hingga 2030.
Baca Juga
Morgan Stanley Luncurkan Perdagangan Spot Kripto Lewat E*TRADE
Sejumlah perusahaan teknologi menjadi konsumen listrik terbesar, di antaranya Yandex dengan konsumsi sekitar 660 megawatt (MW) dan Sberbank sekitar 1,2 GW, disertai puluhan proyek pusat data baru yang masih menunggu sambungan jaringan listrik.
Meski demikian, sejumlah pelaku industri menilai pelarangan menyeluruh berpotensi mendorong perpindahan operasi penambangan ke wilayah lain maupun meningkatkan praktik penambangan ilegal melalui sambungan listrik tidak resmi. Mereka menilai regulasi yang terlalu ketat dapat menyulitkan pengawasan konsumsi energi sekaligus memperbesar aktivitas penambangan bawah tanah.
Pemerintah Rusia sendiri terus memperketat regulasi industri penambangan kripto seiring meningkatnya kebutuhan listrik untuk pengembangan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI), pusat data, dan infrastruktur digital strategis. Dalam jangka panjang, prioritas pasokan listrik diperkirakan akan lebih difokuskan pada sektor-sektor tersebut dibandingkan aktivitas penambangan mata uang kripto.
