Ekspansi NeutraDC dan Divestasi Jadi Katalis, Saham Telkom (TLKM) Bersiap Bangkit!
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) diprediksi mencatatkan perbaikan signifikan mulai 2026, seiring ekspansi bisnis pusat data (data center) melalui NeutraDC serta rencana divestasi 70% saham unit usaha tersebut. Aksi ini berpeluang menjadikan tren pertumbuhan kinerja keuangan dan harga saham.
Hal ini mendorong BRI Danareksa Sekuritas untuk mempertahankan rekomendasi beli saham TLKM dengan target harga Rp 3.750. Target harga ini mencerminkan potensi kenaikan (upside) sekitar 48,8% dari harga terakhir Rp 2.520. Target harga tersebut juga mencerminkan kebangkitan kinerja keuangan perseroan mulai tahun ini.
Baca Juga
Biaya Spektrum Turun, Prospek Saham ISAT, EXCL, dan TLKM Makin Cerah, Ini Target Harganya
Sedangkan pendapatan Telkom tahun ini diharapkan naik menjadi Rp 150,30 triliun pada 2026, dibandingkan realisasi 2025 sebesar Rp 146,74 triliun. EBITDA diproyeksikan tumbuh 1,4% menjadi Rp73,25 triliun. Laba bersih juga diestimasi meningkat sebanyak 8,4% menjadi Rp 19,30 triliun. Pertumbuhan kinerja diperkirakan berlanjut pada 2027 dengan target pendapatan Rp 155,92 triliun, EBITDA sebesar Rp 77,99 triliun, dan laba bersih senilai Rp 21,94 triliun.
Analis BRI Danareksa Sekuritas Erindra Krisnawan dan Kafi Ananta mengatakan, salah satu katalis utama TLKM berasal dari pengembangan bisnis data center NeutraDC yang masih berada pada tahap awal ekspansi. Perseroan memiliki fasilitas JKT-1 di Cikarang dengan kapasitas desain 21,5 megawatt (MW). Namun, saat ini kapasitas yang telah beroperasi baru mencapai 3,5 MW dan sekitar 18 MW lainnya telah selesai dibangun serta seluruhnya telah dikontrak oleh pelanggan, namun masih menunggu proses penyesuaian (tenant customization).
“Ke depan, kawasan tersebut akan dikembangkan menjadi Campus 2 dengan teknologi liquid-cooling rack, sehingga total kapasitas di Cikarang ditargetkan mencapai 120 MW. Perseroan memperkirakan kebutuhan belanja modal pembangunan data center sekitar US$ 10-12 juta per MW. Secara keseluruhan, NeutraDC menargetkan kapasitas data center mencapai 300 MW pada 2030,” tulisnya.
Baca Juga
Telkom (TLKM) Luncurkan AIcosystem, Perkuat Ekosistem AI Terintegrasi di Indonesia
Selain Cikarang, NeutraDC juga mengembangkan fasilitas hyperscale di Batam berkapasitas 18 MW yang ditargetkan siap beroperasi (ready for service/RFS) pada 2026 dan telah sepenuhnya dikontrak oleh Gorilla Technology selaku penyewa utama. Sementara itu, fasilitas di Singapura dengan kapasitas 17,4 MW telah beroperasi penuh. “NeutraDC juga tidak hanya mengembangkan bisnis colocation, tetapi memperluas layanan ke connectivity, GPU-as-a-Service (GPUaaS), dan managed services, sehingga memperkuat posisi Telkom di bisnis infrastruktur digital,” tulisnya.
Selain itu, bisnis konektivitas Telkom, terutama Telin dan Infranexia, diperkirakan ikut menikmati peningkatan permintaan data center, khususnya di Batam, berkat infrastruktur jaringan yang telah dimiliki perseroan. BRI Danareksa Sekuritas menyebutkan bahwa kontribusi NeutraDC terhadap pendapatan Telkom masih sekitar 1,1% pada kuartal I-2026. Namun, kontribusi tersebut ditargetkan meningkat menjadi 3-5% dalam jangka menengah.
Telkom juga sedang menjalankan proses divestasi 70% saham NeutraDC dengan target valuasi sekitar US$ 1,0-1,5 miliar. Manajemen membidik operator data center global sebagai mitra strategis guna memperkuat kemampuan operasional, khususnya dalam melayani pelanggan hyperscale. “Masuknya mitra strategis global berpotensi menjadi katalis yang membuka nilai (value unlocking) bagi Telkom, terutama untuk mendukung ekspansi kapasitas data center ke depan,” tulisnya.
