IHSG Diproyeksi ‘Sideways’, Sentimen Geopolitik dan The Fed Jadi Penentu Arah Pasar
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) diperkirakan masih bergerak dalam rentang terbatas (sideways) dengan tingkat volatilitas yang cukup tinggi dalam jangka pendek. Sentimen geopolitik dan kebijakan suku bunga The Fed akan menjadi penentu arah pasar.
Analis pasar modal yang juga Founder Republik Investor, Hendra Wardana mengungkapkan, dari sisi global, meningkatnya kembali ketegangan antara AS dan Iran telah mendorong kenaikan premi risiko di pasar keuangan. Risiko tersebut berpotensi semakin besar apabila konflik meluas hingga mengganggu jalur pasokan energi dunia melalui Selat Hormuz.
“Namun sejauh ini respons pasar global relatif terukur karena pelaku pasar masih menilai konflik tersebut belum mengganggu aktivitas ekonomi secara luas. Di saat yang sama, investor juga memilih bersikap hati-hati menantikan data inflasi AS yang akan menjadi acuan arah kebijakan suku bunga The Fed,” kata Hendra kepada investortrust.id, Minggu (12/7/2026).
Baca Juga
BBRI-BBCA Topang IHSG Naik 0,83% Pekan Ini, Net Sell Asing Tembus Rp76,15 Triliun Ytd
Di dalam negeri, menurut Hendra, likuiditas perdagangan yang masih relatif tipis menunjukkan bahwa investor belum memiliki keyakinan kuat untuk meningkatkan exposure risiko. Alhasil, penguatan IHSG cenderung terbatas dan lebih banyak ditopang oleh saham-saham yang memiliki katalis fundamental.
“Selama tidak muncul eskalasi geopolitik yang lebih besar maupun kejutan dari kebijakan moneter global, IHSG diperkirakan masih mampu bertahan dengan pola konsolidasi sambil menunggu sentimen baru,” ujar dia.
Hendra Wardana menyoroti eskalasi geopolitik dan arah kebijakan Bank Sentral AS, The Fed, sebagai dua faktor utama yang akan menentukan aliran dana asing ke pasar negara berkembang, termasuk Indonesia.
“Ketika ketidakpastian global meningkat, investor asing umumnya mengalihkan dana ke aset yang lebih aman, seperti dolar AS dan obligasi pemerintah AS, sehingga memicu tekanan terhadap rupiah dan meningkatkan potensi arus keluar dana asing dari pasar saham domestik,” terang dia.
Ekspektasi Kebijakan Moneter
Sebaliknya, kata Hendra, apabila data inflasi AS menunjukkan tren yang lebih rendah sehingga membuka peluang penurunan suku bunga The Fed dalam beberapa bulan ke depan, maka minat investor terhadap aset berisiko berpotensi kembali meningkat dan membuka peluang masuknya kembali dana asing ke pasar Indonesia.
“Karena itu, volatilitas IHSG dalam beberapa pekan ke depan masih akan sangat dipengaruhi oleh perubahan ekspektasi terhadap kebijakan moneter global serta perkembangan situasi geopolitik,” tutur Hendra.
Ia menegaskan, di tengah likuiditas pasar yang masih terbatas, penopang utama IHSG tetap berasal dari fundamental ekonomi domestik yang relatif solid. Proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia yang masih berada di kisaran 5%, inflasi yang terjaga, stabilitas sektor perbankan, serta prospek belanja pemerintah menjadi faktor yang menjaga optimisme investor jangka menengah.
Selain itu, menurut dia, harga beberapa komoditas energi masih berada pada level yang cukup baik sehingga menopang kinerja emiten berbasis sumber daya alam. Namun, sentimen itu masih diimbangi sejumlah faktor pemberat, seperti pelemahan rupiah, masih berlanjutnya aksi jual investor asing, rendahnya aktivitas transaksi harian, serta tingginya ketidakpastian global.
“Kondisi tersebut membuat pergerakan IHSG lebih bersifat selektif, dengan aliran dana yang terkonsentrasi pada saham-saham berkapitalisasi besar dan memiliki fundamental yang kuat,” kata dia.
Hendra Wardana menjelaskan, dalam kondisi seperti ini, sektor yang cenderung defensive, seperti perbankan besar, telekomunikasi, dan barang konsumsi, masih layak menjadi pilihan karena memiliki fundamental yang stabil dan relatif tahan terhadap perlambatan ekonomi.
Di sisi lain, kata dia, sektor energi masih berpeluang menjadi outperform apabila ketegangan geopolitik menjaga harga minyak dan energi tetap tinggi. Saham seperti ADRO, PGEO, dan PGAS berpotensi memperoleh sentimen positif seiring prospek sektor energi yang masih menarik, sedangkan TINS dapat diuntungkan apabila harga logam kembali menguat.
Baca Juga
Daftar Top Gainers Pekan Ini: NTBK Terbang 112%, 10 Saham Cetak Kenaikan Double Digit
“Bagi investor, strategi yang paling tepat saat ini adalah melakukan akumulasi secara bertahap pada saham-saham berfundamental baik sambil tetap disiplin menerapkan manajemen risiko,” tandas dia.
Untuk jangka pendek, Hendra menyarankan investor memanfaatkan momentum perdagangan melalui strategi trading buy pada ADRO dengan target harga Rp 2.500, PGEO di level Rp 1.100, PGAS di posisi Rp 1.575, serta TINS di level Rp 3.750.
