BEI: Fundamental Ekonomi dan Reformasi Pasar Modal Perkuat Daya Tarik Investasi Indonesia
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Bursa Efek Indonesia (BEI) menilai Indonesia tetap menjadi salah satu destinasi investasi jangka panjang yang menarik di tengah ketidakpastian pasar keuangan global. Fundamental ekonomi yang solid, dominasi investor domestik, serta reformasi transparansi di pasar modal menjadi penopang utama kepercayaan investor.
Direktur Utama BEI Jeffrey Hendrik mengatakan, kondisi pasar perlu dilihat secara komprehensif, tidak hanya dari pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Menurut dia, kekuatan fundamental ekonomi dan kinerja emiten tetap menjadi faktor utama yang mendukung prospek investasi Indonesia.
"Berbagai langkah reformasi yang dilakukan regulator dan SRO merupakan bagian dari komitmen untuk meningkatkan transparansi, memperkuat tata kelola, dan membangun pasar modal yang semakin kredibel," kata Jeffrey dalam keterangan tertulis, Sabtu (11/7/2026).
Dia optimistis pasar modal Indonesia akan terus menjadi pilihan investasi bagi investor domestik maupun global. Optimisme tersebut didukung oleh fundamental ekonomi nasional dan korporasi yang dinilai tetap kuat.
Indonesia juga memiliki keunggulan struktural sebagai ekonomi terbesar di Asia Tenggara dengan populasi lebih dari 284 juta jiwa, bonus demografi, serta kekayaan sumber daya alam strategis. Posisi Indonesia sebagai anggota G20, BRICS, dan salah satu pendiri ASEAN turut memperkuat daya tarik investasi jangka panjang.
Pada kuartal I 2026, ekonomi Indonesia tumbuh 5,61% yang ditopang konsumsi rumah tangga, belanja pemerintah, dan investasi. Aktivitas manufaktur yang masih ekspansif, surplus neraca perdagangan, serta realisasi investasi yang terus meningkat turut mencerminkan ketahanan ekonomi nasional.
Di pasar modal, meski IHSG sempat mengalami koreksi sepanjang 2026, aktivitas perdagangan tetap terjaga. Koreksi tersebut justru membuat valuasi saham Indonesia semakin menarik, dengan Price Earnings Ratio (PER) sekitar 12,85 kali per 8 Juni 2026 dan sebanyak 434 saham diperdagangkan pada Price to Book Value (PBV) di bawah satu kali.
Baca Juga
BEI Evaluasi Target 50 IPO Saham di 2026, Utamakan Kualitas Emiten Baru
Fundamental emiten juga tetap solid. Dari 810 perusahaan tercatat yang telah menyampaikan laporan keuangan per 31 Maret 2026, sebanyak 595 perusahaan atau 73,46% membukukan laba bersih, sementara 221 emiten membagikan dividen tunai sepanjang tahun ini.
Kepercayaan investor domestik pun terus meningkat. Berdasarkan data Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) per 30 Juni 2026, jumlah investor pasar modal mencapai 28,9 juta Single Investor Identification (SID), dengan investor saham meningkat 15,1% menjadi 9,9 juta SID dibandingkan akhir 2025.
Investor domestik kini menguasai 61% kepemilikan saham di pasar modal Indonesia dan berkontribusi 65,5% terhadap total nilai transaksi di BEI. Kondisi tersebut dinilai memperkuat stabilitas pasar di tengah tingginya volatilitas global.
Untuk meningkatkan kepercayaan investor, BEI bersama Kliring Penjaminan Efek Indonesia (KPEI), KSEI, dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) terus mempercepat reformasi pasar modal. Langkah yang ditempuh meliputi peningkatan persyaratan free float menjadi 15%, publikasi data kepemilikan saham di atas 1%, penerapan mekanisme High Shareholding Concentration (HSC), serta perluasan keterbukaan informasi melalui berbagai layanan publik.
Menurut BEI, kombinasi fundamental ekonomi yang kuat, kinerja emiten yang resilien, pertumbuhan investor domestik, dan reformasi transparansi menjadi fondasi penting untuk memperkuat daya saing pasar modal Indonesia. Hal tersebut diyakini mampu menjaga daya tarik Indonesia sebagai salah satu tujuan investasi utama di kawasan maupun di tingkat global.
Baca Juga
BEI: Potensi Dana Asing Keluar Akibat ‘Watchlist’ S&P Sekitar Rp 4 Triliun
