Dipicu Sentimen Suku Bunga AS dan Tekanan Likuidasi, Bitcoin Kembali Terkoreksi di Bawah US$ 60.000
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrsut.id - Harga Bitcoin kembali mengalami tekanan dalam 24 jam terakhir, dipicu oleh kekhawatiran terhadap arah kebijakan suku bunga The Fed dan tekanan likuidasi.
Jika melirik data CoinMarketCap, Jumat (26/6/2026), harga Bitcoin berada di level US$ 59.417 pada pukul 18.35 WIB, atau turun 2,89% dalam 24 jam terakhir. Bitcoin kembali berada di bawah level psikologis US$ 60.000 setelah menyentuh area terendah harian di kisaran US$ 58.000.
Analis Tokocrypto Fyqieh Fachrur mengungkapkan, pelemahan tersebut dipicu oleh meningkatnya kekhawatiran pasar setelah data inflasi Amerika Serikat (AS) menunjukkan kenaikan. Indeks Personal Consumption Expenditures (PCE) AS pada Mei tercatat tumbuh 4,1% secara tahunan, menjadi level tertinggi dalam tiga tahun terakhir.
Kondisi itu, memperkuat ekspektasi bahwa The Fed akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama, bahkan membuka peluang kenaikan suku bunga lanjutan apabila tekanan inflasi belum mereda.
”Ketika inflasi AS kembali panas, ekspektasi pemangkasan suku bunga menjadi semakin kecil. Kondisi ini membuat investor cenderung mengurangi eksposur pada aset berisiko, termasuk kripo,” ujarnya, dalam keterangan pers, Jumat (26/6/2026).
Pergerakan Bitcoin, lanjut Fyqieh, kini semakin sensitif terhadap dinamika pasar keuangan global. Tingginya korelasi Bitcoin dengan indeks saham seperti S&P 500 menunjukkan bahwa aset kripto terbesar itu masih diperlakukan sebagai aset berisiko yang sangat dipengaruhi oleh ekspektasi suku bunga dan kondisi likuiditas global.
Baca Juga
Sentimen 'Extreme Fear' Selimuti Pasar Kripto, Bitcoin Tinggalkan Level Psikologis US$ 60.000
Tekanan Likuidasi Percepat Penurunan
Selain sentimen makro, tekanan terhadap Bitcoin juga diperbesar oleh likuidasi posisi leverage di pasar derivatif. Penembusan harga di bawah level US$ 60.000 memicu gelombang likuidasi posisi long dalam jumlah besar sehingga tekanan jual semakin meningkat.
“Level US$ 60.000 merupakan area psikologis penting bagi pasar. Ketika level ini ditembus, banyak posisi leverage yang ikut tertekan. Hal ini menciptakan efek berantai berupa forced selling, sehingga penurunan harga menjadi lebih cepat,” kata Fyqieh.
Dari sisi teknikal, Bitcoin saat ini berada dalam kondisi oversold untuk jangka pendek. Meski begitu, tren bearish dinilai masih cukup dominan selama harga belum mampu resistance di kisaran US$ 61.000 hingga US$ 62.000.
Ia menilai, level US$ 58.000 menjadi area support krusial yang akan menentukan arah pergerakan Bitcoin dalam waktu dekat.
“Jika BTC mampu mempertahankan area US$ 58.000, potensi technical rebound atau short squeeze ke area US$ 61.000 masih mungkin terjadi. Namun, apabila level tersebut gagal dipertahankan, risiko koreksi lanjutan menuju US$ 55.000 perlu diantisipasi,” ucap Fyqieh.
Ia memperkirakan, volatilitas pasar juga tetap tinggi dalam jangka pendek, khususnya menjelang agenda quarterly options expiry pada 26 Juni. Jatuh tempo kontrak opsi Bitcoin dalam jumlah besar berpotensi memicu pergerakan harga yang lebih tajam, baik ke atas maupun ke bawah.
Baca Juga
Phishing dan Social Engineering Kuasai Serangan Siber Kripto, Ini Modus Terbarunya
Arus Dana Institusional Jadi Penentu
Di tengah tekanan jangka pendek, prospek Bitcoin dalam jangka menengah masih bergantung pada perkembangan kondisi makroekonomi, arus dana investor institusional, serta stabilisasi pasar derivatif.
Salah satu indikator yang perlu dicermati adalah arus dana yang diperdagangkan di bursa atau exchange traded fund (ETF) Bitcoin spot. Menurut Fyqieh, apabila tren arus keluar dana (outflow) mulai mereda dan kembali berubah menjadi arus masuk (inflow), hal tersebut dapat menjadi sinyal awal pulihnya minat investor institusional.
“Pasar saat ini berada dalam fase rapuh, tetapi bukan berarti tidak ada peluang pemulihan. Kuncinya ada pada stabilisasi sentimen makro, meredanya tekanan likuidasi, dan kembalinya arus dana institusional. Selama Bitcoin belum mampu merebut kembali area resistance utama, investor tetap perlu berhati-hati dan mengelola risiko dengan disiplin,” ucapnya.
Fyqieh mengatakan, secara keseluruhan koreksi Bitcoin saat ini mencerminkan kombinasi tekanan dari memburuknya sentimen makroekonomi, ekspektasi suku bunga tinggi yang berkepanjangan, serta proses unwinding posisi leverage di pasar kripto.
Dalam jangka pendek, pelaku pasar diperkirakan akan terus mencermati area US$ 58.000 sebagai support utama, sementara kisaran US$ 61.000 hingga US$ 62.000 menjadi resistance terdekat yang harus ditembus untuk membuka peluang pemulihan.
