IHSG dan Rupiah Kembali Tertekan, Mengapa Efek MSCI Belum Terasa?
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Kabar bahwa MSCI mempertahankan Indonesia dalam kelompok pasar berkembang (emerging market) ternyata belum cukup kuat untuk mengangkat sentimen pasar. Pada perdagangan Rabu (24/06/2026), rupiah kembali melemah mendekati Rp 18.000 per dolar AS dan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efekf Indonesia (BEI) anjlok sebanyak 99,13 poin (1,62%) menjadi 6.002 pada penutupan sesi I.
Pelaku pasar menilai bahwa keputusan MSCI memang menghilangkan risiko terburuk berupa penurunan status Indonesia menjadi Frontier Market. Namun, keputusan tersebut bukanlah kabar yang sepenuhnya positif karena MSCI hanya menunda keputusan final hingga November 2026, sambil menunggu bukti nyata efektivitas reformasi pasar modal Indonesia.
Dengan kata lain, ancaman downgrade belum hilang. MSCI tetap menyoroti persoalan transparansi kepemilikan saham, free float, pembentukan harga saham yang wajar (price discovery), serta indikasi coordinated trading behavior yang dianggap mengganggu kepercayaan investor global.
Baca Juga
MSCI Pertahankan Emerging Market Indonesia, Mengapa IHSG Sesi I justru Jatuh 1,62%?
Dosen Departemen Akuntansi FEB Universitas Brawijaya Noval Adib mengatakan, keputusan MSCI hari ini menjadi kabar positif bagi pasar keuangan domestik. Indonesia dinilai berhasil melewati satu tahapan penting dalam proses evaluasi, meskipun pekerjaan rumah untuk penguatan kualitas pasar modal masih cukup besar.
“Indonesia baru saja memenangkan satu babak pertempuran, namun belum memenangkan peperangan secara keseluruhan karena masih memiliki pekerjaan rumah untuk terus melakukan perbaikan hingga tenggat November 2026,” ujarnya di Jakarta, Rabu (24/6/2026).
Namun, menurut dia, keputusan MSCI yang menempatkan Indonesia tetap berada di emerging market sudah terbentuk sejak pengumuman Global Market Accessibility Review pekan lalu, sehingga sebagian besar sentimen positif dinilai sudah tercermin dalam pergerakan pasar.
Baca Juga
MSCI Pertahankan Status Emerging Market, Tapi Ancaman Turun Kelas Belum Hilang
Sementara itu, Pengamat pasar modal Elandry Pratama menilai pelemahan IHSG hari ini lebih banyak dipengaruhi tekanan jangka pendek, meskipun keputusan MSCI yang mempertahankan Indonesia dalam kategori emerging market sebagai sentimen positif.
“Menurut saya, penurunan IHSG yang cenderung melemah dalam 6 hari terakhir, khususnya hari ini, di tengah sentimen MSCI emerging market yang masih relatif positif, lebih banyak dipengaruhi kombinasi tekanan jangka pendek dari global dan domestik,” kata Elandry kepada investortrust.id, Rabu (24/6/2026).
Penurunan Rupiah
Menurut Elandry, dari sisi eksternal, penguatan dolar Amerika Serikat (AS) dan ekspektasi suku bunga The Fed yang masih bertahan tinggi membuat aliran dana cenderung keluar dari pasar negara berkembang (emerging market). Kondisi tersebut tercermin dari aksi jual bersih investor asing dan kenaikan imbal hasil (yield) US Treasury.
Berdasarkan sesi I, pemodal asing merealisasi penjualan bersih (net sell) saham mencapai Rp 976,66 miliar. Tekanan tersebut juga berdampak pada nilai tukar rupiah yang pada pagi hari sempat melemah ke sekitar Rp 18.037 per dolar AS. “Hal ini juga berdampak langsung ke rupiah yang pagi ini sempat melemah ke level sekitar Rp 18.037 per dolar AS, menandakan tekanan di pasar valas masih cukup tinggi,” ujarnya.
Baca Juga
Rupiah Lanjut Melemah terhadap Dolar AS, Didorong Permintaan Safe Haven
Ia menambahkan, pelemahan rupiah turut meningkatkan risk premium Indonesia dan membuat investor asing lebih defensif, terutama terhadap saham-saham berkapitalisasi besar dan sektor perbankan.
Selain faktor fundamental, Elandry menilai sebagian pelemahan IHSG juga dipengaruhi faktor teknikal dan aksi ambil untung (profit taking) setelah pergerakan pasar sebelumnya.
“Selain itu, sebagian pelemahan IHSG juga bersifat teknikal dan profit taking setelah beberapa periode pergerakan sebelumnya, di mana pasar cenderung melanjutkan koreksi karena level support tertekan,” jelasnya.
Bukti Reformasi Pasar
Sementara itu, Analis MNC Sekuritas Herditya Wicaksana atau Didit mengatakan, keputusan MSCI yang tetap mempertahankan Indonesia dalam indeks emerging market belum mampu untuk menjadi katalis positif yang signifikan bagi pasar. Pasalnya, MSCI masih memberikan sejumlah catatan, termasuk terkait transparansi pasar.
Baca Juga
Prabowo Beri Peringatan: Saya Tahu Siapa yang Bayar Demo-Demo Itu
MSCI dalam MSCI 2026 Market Classification Review yang dirilis semalam menyebutkan bahwa pelaku pasar disebut masih menyampaikan kekhawatiran mendalam terkait aspek investabilitas pasar modal Indonesia. MSCI mengakui adanya reformasi transparansi yang baru-baru ini diumumkan oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK), PT Bursa Efek Indonesia (BEI), dan PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI).
Reformasi tersebut mencakup peningkatan keterbukaan informasi pemegang saham dengan kepemilikan di atas 1%, klasifikasi investor yang lebih rinci, penerapan kerangka High Shareholding Concentration (HSC), serta peta jalan untuk meningkatkan persyaratan minimum free float menjadi 15%.
Menurut MSCI, berbagai langkah tersebut merupakan perkembangan yang mengarah ke perbaikan. Namun, bagi investor institusi internasional, faktor yang lebih penting adalah implementasi yang konsisten dan dampak yang berkelanjutan dari kebijakan tersebut di seluruh pasar.
