IHSG Sesi I Jatuh 1,25%, Big Bank dan Emiten Prajogo Jadi Penekan
JAKARTA, investortrust.id – Indeks harga saham gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) sesi I, Senin (22/6/2026), diututup anjlok 77,22 poin (1,25%) menjadi 6.099. Rentang pergerakan 6.052-6.226 dengan nilai transaksi Rp 7,15 triliun.
Penurunan dipicu atas kejatuhan seluruh sektor saham, seperti sektor industri, kesehatan, konsumer primer, material dasar, infrastruktur, dan energi. Sebaliknya kenaikan tipis melanda saham properti.
Baca Juga
Tekanan indeks sepanjang sesi I datang dari penurunan saham big cap, seperti BBCA, BBRI, BMRI, dan BBNI. Tekanan juga datang dari berlanjutnya kejatuhan saham emiten yang dikendalikan Prajogo Pangestu, seperti BREN, TPIA, BRPT, CUAN, hingga CDIA.
Meski IHSG terjerembab, sejumlah saham berikut cetak lompatan harga, seperti EMDE naik 28,07% menjadi Rp 73, ZONE naik 24,77% menjadi Rp 680, HDFA naik 20,24% menjadi Rp 101, DPUM menguat 19,05% menjadi Rp 125, dan MLPT naik 15,93% menjadi Rp 18.925.
Akhir pekan lalu, IHSG ditutup naik tipis 4,8 poin (0,08%) menjadi 6.177 disertai dengan investor asing mencatatkan penjualan bersih (net sell) saham senilai Rp 3,19 triliun di seluruh pasar. Meski demikian pembelian bersih (net buy) melanda saham BBCA sebanyak Rp 336,43 miliar, BBNI senilai Rp 44,04 miliar, dan MDKA sebanyak Rp 41,83 miliar.
Baca Juga
Negara Beri Perlindungan Hukum Pembelian Patriot Bond dan Merah Putih Bond
Kenaikan ditopang penguatan sejumlah sektor saham, seperti saham sektor consumer non primer, consumer primer, infrastruktur, dan transportasi. Sebaliknya tekanan melanda saham sektor teknologi, property , dan keuangan.
Adapun sejumlah saham yang berhasil torehkan lompatan harga hingga auto reject atas (ARA), yaitu saham SDMU naik 34,29% menjadi Rp 94, ZONE menguat 25% menjadi Rp 545, dan MORA naik 20% menjadi Rp 7.800. Kenaikan pesat juga melanda saham BCIC sebanyak 25% menjadi Rp 145 dan SMMT naik 20,79% menjadi Rp 2.150.
