Estika Tata Tiara (BEEF) Fokus ke Daging Impor, SimInvest Nilai Prospek Pertumbuhan Makin Kuat
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Pergeseran fokus PT Estika Tata Tiara Tbk (BEEF) ke perdagangan daging beku impor dinilai mampu mempercepat pemulihan kinerja sekaligus memperkuat fondasi pertumbuhan jangka panjang di tengah meningkatnya kebutuhan protein hewani nasional.
Analis PT Sinarmas Sekuritas (SimInvest) Yosua Zisokhi menyebut transformasi tersebut telah mengubah struktur bisnis perseroan secara signifikan. Pada 2025, segmen perdagangan daging beku impor berkontribusi sekitar 94,5% terhadap total pendapatan dan menjadi motor utama pertumbuhan perusahaan.
“Pemulihan kinerja BEEF semakin terlihat, didukung oleh keberhasilan perseroan mengalihkan fokus bisnisnya ke perdagangan daging beku impor,” tulis Yosua dalam risetnya, Jumat (19/6/2026).
Baca Juga
Menurut SimInvest, prospek bisnis BEEF ditopang oleh kondisi pasar domestik yang masih mengalami defisit pasokan daging sapi dan kerbau. Konsumsi daging sapi nasional terus meningkat hingga mencapai sekitar 2,7 kilogram per kapita pada 2025, sementara produksi dalam negeri belum mampu memenuhi kebutuhan pasar.
Selain itu, perseroan dinilai telah memperkuat kesiapan operasional melalui ekspansi fasilitas cold storage dengan kapasitas lebih dari 26 ribu ton. Infrastruktur tersebut memberikan ruang bagi BEEF untuk meningkatkan volume perdagangan sekaligus menjaga efisiensi distribusi.
Di luar bisnis perdagangan daging impor, perseroan juga memperbesar kontribusi segmen penggemukan sapi dan mengembangkan bisnis dairy yang memiliki marjin lebih tinggi. Perubahan bauran bisnis ini diperkirakan menjadi pendorong peningkatan profitabilitas dalam jangka menengah.
Baca Juga
Impor 250 Sapi Perah Australia, Estika Tata Tiara (BEEF) Ekspansi Bisnis Susu
Yosua memperkirakan pendapatan dan laba perseroan dapat tumbuh secara konsisten dalam beberapa tahun ke depan, didukung ekspansi usaha, perbaikan struktur bisnis, serta penguatan arus kas operasional dan permodalan.
Dalam jangka panjang, agenda ketahanan pangan pemerintah dan tren peningkatan konsumsi protein hewani nasional dinilai menjadi katalis positif bagi industri. Namun, investor tetap perlu mencermati sejumlah risiko seperti volatilitas harga daging global, persaingan usaha yang semakin ketat, serta potensi perubahan kebijakan pemerintah terkait impor dan sektor pangan.
Berdasarkan prospek tersebut, Yosua menginisiasi cakupan terhadap saham BEEF dengan rekomendasi buy dan target harga Rp 235 per saham. Target tersebut mencerminkan valuasi sekitar 11,1 kali estimasi laba 2026 dan 10 kali estimasi laba 2027.
