Hati-hati! Ada Modus Penipuan Kripto Berkedok Tiket Piala Dunia 2026
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Perusahaan inteiljen blockchain TRM Labs mengungkap sejumlah modus penipuan berbasis cryptocurrency yang menargetkan penggemar Piala Dunia 2026. Penipuan tersebut mencakup situs penjualan tiket palsu hingga skema taruhan pertandingan yang diklaim sudah diatur hasilnya.
Melansir BeInCrypto, Senin (15/6/2026), TRM Labs mengidentifikasi empat alamat dompet kripto yang terkait dengan operasi penipuan tersebut. Meski dana yang berhasil dikumpulkan sejauh ini masih relatif kecil, yaitu kurang dari US$ 1.700 secara keseluruhan, perusahaan memperingatkan bahwa volume dan frekuensi penipuan berpotensi meningkat seiring berlangsungnya turnamen di Amerika Utara.
Menurut TRM Labs, ajang olahraga terbesar seperti Piala Dunia selalu menciptakan lonjakan permintaan tiket, perjalanan, dan merchandise dalam waktu singkat. Kondisi ini kerap dimanfaatkan pelaku kejahatan siber dengan membangun infrastruktur penipuan sejak beberapa minggu sebelum pertandingan dimulai, kemudian meningkatkan promosi menjelang laga berlangsung.
Baca Juga
Keluarga Trump Dilaporkan Raup US$ 2,3 Miliar dari Bisnis Kripto, Investor Justru Rugi
Risiko tersebut semakin besar mengingat skala ekonomi Piala Dunia 2026 yang sangat masif. Berdasarkan studi FIFA-WTO, turnamen tersebut diperkirakan akan menarik sekitar 6,5 juta pengunjung dan berkontribusi hingga US$ 40,9 miliar terhadap produk domestik bruto (PDB) global.
Sebelumnya, sejumlah lembaga juga telah memperingatkan potensi maraknya penipuan menjelang turnamen. FBI pada Mei lalu mengingatkan masyarakat terkait kemunculan situs palsu yang menyerupai laman resmi FIFA untuk mencuri data pribadi maupun penjualan tiket palsu. Peringatan serupa juga disampaikan Better Business Bureau (BBB).
CEO BBB of Central Ontario Angela Dennis mengatakan, tingginya permintaan masyarakat terhadap tiket dan berbagai kebutuhan terkait Piala Dunia menjadi peluang yang sangat menarik bagi para penipu.
“Ketika terdapat permintaan yang sangat besar, para penipu menjadi sangat antusias karena banyak orang akhirnya mempercayai informasi yang mereka kirimkan, baik melalui email, pesan phishing, maupun tautan ke situs palsu yang meminta data pribadi atau informasi pembayaran,” ujarnya.
Baca Juga
Saudara Beda Negara, Piala Dunia 2026 Hadirkan Kisah Unik Empat Pasang Kakak Beradik
TRM Labs menemukan beberapa jenis penipuan yang beroperasi menggunakan aset kripto. Modus utama adalah situs penjualan tiket palsu yang mengaku sebagai penjual resmi dan menawarkan tiket pertandingan populer dengan pembayaran menggunakan kripto.
Salah satu dompet di jaringan Polygon tercatat menerima sekitar US$ 1.562, hampir seluruhnya pada 1 April 2026. Sementara itu, operasi lain yang menggunakan alamat Bitcoin masih mempertahankan situs phising-nya secara aktif, meskipun belum tercatat menerima pembayaran.
Selain itu, TRM Labs juga menemukan skema taruhan pertandingan yang diklaim telah diatur hasilnya (fixed match betting). Dalam modus ini, korban diminta membayar biaya awal untuk memperoleh informasi hasil pertandingan yang disebut berasal dari sumber internal. Dana yang diterima kemudian dialihkan ke akun kustodian guna menyamarkan aliran transaksi.
Penipuan juga muncul melalui penerbitan token bertema Piala Dunia. Salah satu yag disorot adalah token $WORLDCUP yang diperdagangkan di bursa kripto LBank. Token itu dipasarkan sebagai proyek peringatan buatan penggemar dan tak memiliki afiliasi resmi dengan FIFA.
TRM Labs menilai, investor perlu berhati-hati terhadap aset semacam itu karena berisiko mengalami kerugian yang lazim terjadi pada token meme dengan kualitas rendah, terutama jika pengembang proyek meninggalkan pasar secara tiba-tiba.
“Nilai dana yang terlibat dalam kasus-kasus ini memang masih relatif kecil, tapi pola pergerakan dananya sangat mirip dengan karakteristik umum penipuan kripto yang menargetkan konsumen, tulis TRM Labs dalam laporannya.
Untuk menyulitkan pelacakan transaksi, pelaku juga memanfaatkan layanan bridge blockchain guna memindahkan aset antarjaringan. TRM Labs mencatat, sekitar US$ 1,9 miliar dana hasil penipuan telah melewati layanan bridge dalam berbagai aktivitas yang mereka pantau.
Ke depan, TRM Labs memperkirakan akan muncul lebih banyak variasi penipuan selama Piala Dunia 2026 berlangsung, termasuk promosi perjudian ilegal, penggunaan teknologi deepfake yang meniru tokoh-tokoh FIFA, hingga situs streaming pertandingan palsu yang bertujuan mencuri data maupun dana korban.
