Nyemplung ke Bisnis Permen, Akasha Wira International (ADES) Proyeksikan 'Net Profit' Bisa Terkerek 800%
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id -- PT Akasha Wira International Tbk (ADES), produsen air minum dalam kemasan melaporkan rencananya untuk terjun ke bisnis permen gummy. Dalam laporan keterbukaan ke otoritas bursa pada Sabtu (13/6/2026), perseroan diproyeksikan bakal menikmati net profit yang menggelembung hingga 800-an persen setelah fasilitas produksi permen gummy beroperasi secara penuh tahun ini.
“Dengan adanya pengeluaran investasi untuk kegiatan usaha baru, Perseroan akan memperoleh peningkatan pendapatan, mengalami peningkatan beban dan peningkatan laba,” kata Direktur perseroan Fany Soegiarto dalam laporan keterbukaan yang disampaikan Sabtu (13/6/2026).
Fany memaparkan, setelah fasiltias produksi permen gummy beroperasi di tahun ini, maka net profit perusahaan akan terus berkembang dari forecast Rp 12,19 miliar di tahun ini, menjadi Rp 52,15 miliar di tahun 2027, lalu kembali membengkak menjadi Rp 83,76 miliar, dan pada akhirnya diproyeksi menjadi Rp 110,27 miliar di tahun 2030. Artinya, selama lima tahun yang berakhir pada 2030, laba bersih perseroan diproyeksikan bertumbuh sebesar 804,59%.
Masih menurut Fany, dengan beroperasinya secara komersial pabrik permen gummy di bawah bendera ADES, pihaknya memproyeksikan Operating Profit Margin (OPM) yang merupakan indikator efisiensi operasional akan sebesar 40,59% pada tahun 2030, sementara itu tingkat Net Profit Margin atau laba bersih final setelah semua biaya dan pajak rata-rata akan berada di kisaran31,66% di tahun yang sama.
Berikutnya perseroan juga memproyeksikan tingkat Return on Investment (ROI) akan sebesar 33,07%. Sedangkan tingkat Return on Equity (ROE) diproyeksi sebesar 34,39% pada tahun 2030.
Baca Juga
PT Akasha Wira International Tbk (ADES) Ekspansi ke Bisnis Kembang Gula, Siapkan Duit Rp 46,2 Miliar
Sebagaimana diberitakan sebelumnya, PT Akasha Wira International Tbk (ADES) memaparkan rencana perubahan kegiatan usaha melalui penambahan unit bisnis di industri kembang gula, khususnya produk permen gummy.
Manajemen memaparkan bahwa alasan mendasar di balik penambahan jenis usaha ini adalah sebagai bagian dari strategi pengembangan usaha dan diversifikasi portofolio produk perseroan untuk menangkap peluang di segmen yang lebih spesifik. Selain alasan strategis, terdapat kebutuhan administratif terkait klasifikasi kegiatan usaha karena produk permen gummy memerlukan kesesuaian dengan KBLI 10734 atau industri kembang gula sesuai regulasi Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). Oleh karena itu, penambahan unit bisnis ini dipandang perlu guna mendukung proses registrasi dan perizinan produk gummy yang akan segera diproduksi dan dipasarkan oleh perseroan secara legal dan terstruktur.
Melihat potensi pasar, manajemen optimis bahwa sektor kembang gula memiliki prospek yang sangat cerah di Indonesia karena didorong oleh peningkatan konsumsi yang pesat, terutama di kalangan kelas menengah.
Pasar gummy nasional diproyeksikan tumbuh dengan tingkat pertumbuhan tahunan majemuk atau CAGR mencapai kisaran 4,5% hingga 5,2% per tahun, dengan estimasi nilai pasar mencapai ratusan juta dolar Amerika Serikat pada tahun 2026. Perseroan menyatakan bahwa Indonesia semakin menegaskan posisinya sebagai salah satu pasar makanan dan minuman terbesar di Asia Tenggara, sehingga penetrasi produk baru diarahkan untuk menyerap potensi pertumbuhan pasar tersebut secara maksimal.
"Guna mendukung realisasi rencana besar ini, perseroan telah mengalokasikan total investasi sebesar Rp46,215 miliar yang bersumber sepenuhnya dari kas internal perusahaan tanpa melalui pendanaan eksternal," kata Direktur perseroan Fany Soegiarto dalam laporan keterbukaan tersebut.
Dana tersebut dialokasikan untuk pengadaan tanah sebesar Rp4,42 miliar, pembangunan fasilitas pabrik senilai Rp4,09 miliar, serta pembelian mesin-mesin produksi mutakhir sebesar Rp37,69 miliar yang akan berlokasi di Jalan Raya Cikande Rangkasbitung, Kabupaten Serang, Provinsi Banten.
Pembangunan fasilitas ini direncanakan terealisasi pada tahun ini, sehingga proses produksi dapat segera dimulai untuk memenuhi target pasar yang telah ditetapkan sebelumnya.
Masih berdasarkan laporan keterbukaan, terkait operasional dan sumber daya manusia, perusahaan telah merekrut tenaga ahli yang berpengalaman luas di industri gula dan kembang gula untuk memimpin pengembangan unit bisnis ini.
Perseroan berencana menggunakan total 63 tenaga kerja yang terdiri atas berbagai tingkatan mulai dari manajer hingga operator yang akan bertugas di fasilitas produksi baru tersebut.
Manajemen sangat yakin dengan ketersediaan bahan baku utama seperti sirup glukosa dan gula yang mayoritas diperoleh dari pemasok lokal, sementara penggunaan bahan baku impor hanya dibatasi sekitar 10% hingga 15% dari total kebutuhan produksi untuk menjaga kesinambungan usaha.
