Bitcoin Bertahan di US$ 63.500 di Akhir Pekan, Standard Chartered Sebut Musim Dingin Kripto Berakhir
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Harga Bitcoin (BTC) bertahan di atas level US$ 63.500 pada perdagangan Sabtu (13/6/2026) pagi waktu Asia, seiring munculnya optimisme bahwa pasar kripto telah melewati fase terburuk dari siklus penurunannya.
Berdasarkan data CoinMarketCap, pukul 10.20 WIB Bitcoin diperdagangkan di level US$ 63.542,24, menguat tipis 0,28% dalam 24 jam terakhir. Kapitalisasi pasar aset kripto terbesar di dunia itu mencapai US$ 1,27 triliun, sementara nilai transaksi harian tercatat US$ 25,77 miliar, turun 11,77% dibandingkan periode sebelumnya.
Meski aktivitas perdagangan melambat, sejumlah analis menilai pasar kripto mulai memasuki fase pemulihan. Analis Standard Chartered, Geoffrey Kendrick, menyebut titik terendah siklus Bitcoin telah terbentuk setelah aset digital tersebut sempat menyentuh level sekitar US$ 59.000 pada awal Juni.
Dalam riset terbarunya, Kendrick menyatakan harga Bitcoin telah mencapai dasar siklus di kisaran US$59.000, atau terkoreksi sekitar 53% dari rekor tertinggi sepanjang masa di level US$ 126.000 yang dicapai pada Oktober tahun lalu. "Musim dingin telah berakhir. Selamat datang kembali di musim semi kripto," ujar Kendrick, dikutip dari Cointelegraph, Sabtu (13/6/2026).
Baca Juga
Bitcoin Tembus US$ 63.000, Sinyal Menuju US$ 65.000 Makin Terbuka?
Data pasar menunjukkan Bitcoin sempat menyentuh level US$ 59.375 pada 5 Juni sebelum kembali pulih ke kisaran US$64.000. Secara intraday, pergerakan harga dalam 24 jam terakhir juga relatif terbatas. Bitcoin sempat turun ke bawah US$ 63.000 sebelum menguat mendekati US$ 64.250, namun belum mampu mempertahankan momentum kenaikan tersebut.
Menurut Kendrick, terdapat dua faktor utama yang berpotensi mendukung pemulihan pasar kripto. Pertama, tekanan jual dari investor ETF Bitcoin spot diperkirakan mulai mereda setelah beberapa pekan terakhir mencatat arus keluar dana yang cukup besar.
Sejak pertengahan Mei, total dana yang keluar dari ETF Bitcoin spot mencapai lebih dari US$ 5,7 miliar. Sebagian investor disebut mengalihkan dana dari pasar kripto untuk berpartisipasi dalam penawaran umum perdana (IPO) perusahaan antariksa SpaceX.
Setelah IPO SpaceX mulai diperdagangkan di Nasdaq pada Jumat (12/6/2026), tekanan likuiditas terhadap pasar kripto diperkirakan berkurang sehingga dapat membuka ruang bagi kembalinya aliran dana ke aset digital.
Faktor kedua berasal dari perkembangan geopolitik global. Potensi kesepakatan antara Amerika Serikat dan Iran dinilai dapat menekan harga minyak dunia, yang pada akhirnya berpotensi menurunkan imbal hasil obligasi pemerintah AS dan mengurangi tekanan terhadap aset berisiko, termasuk kripto.
Harga minyak Brent tercatat berada di kisaran US$ 87 per barel, sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) diperdagangkan di sekitar US$85 per barel. Namun, ketidakpastian masih membayangi setelah Presiden AS Donald Trump memberikan sinyal yang berbeda terkait peluang tercapainya kesepakatan dengan Iran.
Baca Juga
Nilai Transaksi Bitcoin Anjlok 30%, Analis Waspadai Pola Crash 2022
Di tengah sentimen tersebut, pelaku pasar kini mencermati sejumlah indikator penting, termasuk potensi pembelian Bitcoin tambahan oleh Strategy (MSTR) milik Michael Saylor, kembalinya arus masuk dana ke ETF Bitcoin spot AS, serta stabilisasi harga energi global.
Secara teknikal, analis menilai level US$ 63.000 menjadi area support jangka pendek yang perlu dipertahankan. Sementara itu, area US$ 64.000 hingga US$ 64.250 menjadi zona resistensi terdekat yang harus ditembus untuk membuka peluang penguatan lebih lanjut.
Standard Chartered tetap mempertahankan proyeksi harga Bitcoin mencapai US$ 100.000 pada akhir 2026. Sementara itu, harga Ether diperkirakan dapat menembus level US$ 4.000 seiring membaiknya sentimen pasar kripto global.
