Sekuritas Ini Revisi Naik Rating Saham Bank Jadi Overweight, Saatnya Berburu BBCA dan BBRI?
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Pelemahan harga saham sektor perbankan di Bursa Efek Indonesia (BEI) sepanjang year to date (ytd) dinilai sudah melampaui penurunan fundamental bisnisnya. Kondisi tersebut mendorong peningkatan rekomendasi sektor perbankan menjadi overweight dengan saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) sebagai pilihan utama.
Analis BRI Danareksa Sekuritas Naura Reyhan Muchlis dan Victor Stefano salam riset terbarunya menyebutkan, valuasi saham perbankan Indonesia saat ini telah mencerminkan premi risiko yang berlebihan dan ekspektasi pertumbuhan yang terlalu negatif. Harga saham sektor perbankan telah berada di bawah minus tiga standar deviasi (-3SD) dari rata-rata lima tahun terakhir.
Baca Juga
BBCA Jadi Buruan Asing, Harga Saham BCA Terbang 18,88% dalam 3 Hari
Penurunan harga saham sektor perbankan nasional berkisar 15-36% sejak awal tahun hingga kemarin atau (year to date/YTD). Penurunan harga tersebut merefleksikan asumsi kontraksi laba yang dalam emiten perbankan nasional untuk tahun buku 2026. Perhitungan menunjukkan harga saat ini mengindikasikan ekspektasi penurunan laba sebesar 22,8% untuk BBRI, 14,9% untuk BBCA, 12,7% untuk BMRI, dan 11,1% untuk BBNI.
“Proyeksi tersebut dinilai terlalu berlebihan, dibandingkan dengan rekam jejak pertumbuhan laba sektor perbankan dalam jangka panjang. Apalagi kinerja keuangan bank hingga April masih menunjukkan pertumbuhan kuat,” tulis riset tersebut.
Dari sisi sensitivitas return on equity (ROE), BBCA, BBRI, BTPS, dan BNGA masih memiliki posisi yang lebih baik didukung imbal hasil aset produktif lebih responsive, dibandingkan biaya pendanaan. Kondisi ini memungkinkan ekspansi margin yang positif.
Sebaliknya, BMRI dan BBTN dinilai lebih bergantung pada disiplin biaya serta pertumbuhan pendapatan berbasis komisi untuk meningkatkan ROE karena sensitivitas margin yang lebih terbatas. Pada aspek kualitas aset, BBTN disebut sebagai bank yang paling rentan terhadap penurunan kualitas kredit. Sementara itu, bank-bank swasta secara umum dinilai lebih tangguh menghadapi peningkatan biaya kredit dibandingkan bank-bank BUMN.
Kualitas Terbaik
Adapun, berdasarkan analisis tren return on assets (ROA) dan leverage, BBCA dan BMRI dinilai sebagai bank dengan kualitas waralaba terbaik di sektor perbankan nasional. BRI Danareksa Sekuritas menyebutkan, BBCA mampu untuk menghasilkan tingkat pengembalian yang tinggi tanpa meningkatkan leverage. BMRI berhasil mengonversi leverage yang lebih tinggi menjadi peningkatan imbal hasil bagi pemegang saham tanpa mengorbankan kualitas aset.
Baca Juga
BRI (BBRI) Perkuat Stress Testing dan Mitigasi Risiko di Tengah Ketidakpastian Ekonomi
Di sisi lain, BBRI, BRIS, dan BTN dinilai memiliki sensitivitas tertinggi terhadap perbaikan kondisi ekonomi. BBRI berpotensi mendapat manfaat dari normalisasi biaya kredit, BRIS dari efisiensi skala usaha yang berkelanjutan, dan BTN dari leverage operasional apabila ROA mengalami perbaikan.
“Meski risiko arus keluar dana asing dan perlambatan ekonomi domestik masih membayangi, kami justru meningkatkan rekomendasi sektor perbankan Tanah Air dari neutral menjadi overweight,” tulisnya.
BRI Danareksa Sekuritas menyebutkanbahwa koreksi harga saham yang terjadi saat ini telah melampaui penurunan fundamental industri perbankan. Oleh karena itu, BBCA tetap menjadi pilihan utama sektor perbankan, diikuti oleh BTPS. Kedua bank tersebut memiliki ROA yang kuat serta tingkat leverage yang lebih rendah, sehingga mampu meredam potensi dampak kenaikan biaya kredit.
