Buy Back Saham Mengobati Sesaat
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Wacana pembelian kembali (buyback) saham oleh emiten-emiten BUMN yang didorong Wakil Ketua DPR Sufmi Dasco Ahmad berhasil membangkitkan optimisme pasar. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia melesat 404,51 poin (7,57%) menjadi 5.746 perdagangan Selasa (09/06/2026). Sementara saham-saham unggulan, seperti BBRI, BMRI, BBNI, BBTN, BRIS, dan TLKM melesat signifikan.
Namun, sejumlah analis mengingatkan bahwa buyback hanya efektif sebagai penahan kepanikan dan penggerak reli jangka pendek. Langkah tersebut belum cukup kuat untuk membalikkan tren pelemahan pasar yang dipicu keluarnya dana asing, anjloknya valuasi saham, pelemahan rupiah, serta meningkatnya kekhawatiran investor terhadap arah kebijakan ekonomi nasional.
Wacana buyback muncul setelah Dasco bertemu dengan sejumlah direktur utama Himpunan Bank Milik Negara (Himbara), Ketua Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara Dony Oskaria, dan Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi. Menurut Dasco, pembelian kembali saham BUMN layak dipertimbangkan karena fundamental perusahaan-perusahaan pelat merah masih sangat kuat.
Baca Juga
IHSG Melejit 7,57% Ditopang Big Cap, Catat Kenaikan Harian Tertinggi Lebih dari Lima Tahun Terakhir
Pasar langsung merespons positif. Hingga pukul 11.28 WIB atau setelah pernyataan Dasco, IHSG melonjak 211 poin atau 3,96% ke level 5.552. Saham BBTN memimpin kenaikan dengan lonjakan 8,57%, diikuti TLKM 9,79%, BBNI 5,65%, BRIS 5,57%, BBRI 5,02%, dan BMRI 4,04%.
Ketua Umum Himbara Putrama Wahju Setyawan menegaskan, fundamental perbankan nasional masih sangat sehat. Pertumbuhan kredit rata-rata berada di kisaran 20%, pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) mencapai 20%-30%, rasio kredit terhadap simpanan (loan to deposit ratio/LDR) berada pada level 88%-90%, sementara rasio kredit bermasalah (non-performing loan/NPL) tetap terjaga di bawah 2%.
Meski demikian, pasar melihat persoalan yang dihadapi Indonesia saat ini jauh lebih besar dibanding sekadar kekurangan likuiditas di bursa.
Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI) per 7 Juni 2026, investor asing membukukan jual bersih (net sell) sebesar Rp 61,36 triliun secara tahun berjalan (year-to-date/ytd) hingga awal Juni 2026. Dalam periode yang sama, kapitalisasi pasar BEI menyusut menjadi Rp 9.807 triliun setelah koreksi tajam yang terjadi sepanjang tahun ini.
Baca Juga
Dasco Minta BUMN Buyback, Saham BBRI hingga BBNI Langsung Ngacir Dongkrak IHSG 4%
Data kepemilikan investor menunjukkan bahwa porsi kepemilikan asing di BEI kini berada di bawah 46% dari total kapitalisasi pasar. Dengan asumsi kapitalisasi pasar Rp 9.807 triliun, nilai saham yang masih dikuasai investor asing per 8 Juni 2026 diperkirakan berada pada kisaran Rp4.400 triliun-Rp4.500 triliun.
Angka tersebut jauh lebih rendah dibandingkan awal Januari 2026 ketika kapitalisasi pasar BEI masih berada di atas Rp13.000 triliun dan porsi kepemilikan asing diperkirakan mendekati 48-49%. Dengan asumsi tersebut, nilai portofolio saham investor asing pada awal tahun diperkirakan berada di kisaran Rp 6.300-6.500 triliun.
Artinya, dalam lima bulan pertama 2026, nilai portofolio investor asing di pasar saham Indonesia diperkirakan telah menyusut lebih dari Rp 2.000 triliun. Bahkan, jika menggunakan asumsi kapitalisasi pasar awal tahun sekitar Rp 13.200 triliun dan kepemilikan asing 48,5%, nilai penyusutan portofolio asing dapat mencapai sekitar Rp 2.300 triliun.
Penting dicatat, penyusutan tersebut bukan berarti seluruh dana keluar dari Indonesia. Dari total penurunan tersebut, hanya sekitar Rp 61,36 triliun yang merupakan dana yang benar-benar keluar melalui aksi jual bersih (net sell). Sisanya merupakan kerugian nilai (mark-to-market loss) akibat anjloknya harga saham dan menyusutnya kapitalisasi pasar.
Baca Juga
BI Keluarkan Aneka Jurus Tarik Modal Asing dan Perkuat Rupiah
Data BEI menunjukkan kapitalisasi pasar merosot 8,59% hanya dalam sepekan menjadi Rp 9.807 triliun dari Rp10.729 triliun pada pekan sebelumnya. Pada periode yang sama, IHSG terkoreksi 8,69%. Sejak awal tahun, IHSG bahkan telah kehilangan lebih dari sepertiga nilainya dan sempat turun sekitar 41% dari posisi tertinggi yang dicapai pada Januari 2026.
Fenomena tersebut menunjukkan bahwa investor global sedang melakukan penilaian ulang terhadap risiko Indonesia. Pasar tidak hanya mencermati faktor eksternal seperti penguatan dolar AS dan konflik geopolitik global, tetapi juga memperhatikan berbagai faktor domestik, mulai dari arah kebijakan ekonomi, tata kelola Danantara, rencana pembentukan Danantara Sumber Daya Indonesia (DSI), kondisi fiskal, hingga prospek pertumbuhan ekonomi jangka panjang.
Dalam kondisi seperti itu, buyback memang dapat menciptakan permintaan baru terhadap saham dan memperbaiki sentimen investor. Selain itu, buyback juga memberikan sinyal bahwa manajemen perusahaan menilai harga sahamnya sudah berada di bawah nilai wajar (undervalued). Karena itu, efeknya sering kali sangat kuat dalam jangka pendek.
Namun, sejumlah analis menilai buyback hanya berfungsi sebagai “obat penghilang rasa sakit”, bukan penyembuh penyakitnya. Pengalaman internasional menunjukkan hal yang sama. Ketika pasar saham Tiongkok mengalami tekanan hebat pada 2015 dan kembali pada 2023, berbagai perusahaan negara melakukan buyback dalam jumlah besar. Langkah tersebut berhasil menghentikan kepanikan sementara, tetapi tidak langsung mengubah tren pasar sampai investor memperoleh keyakinan bahwa prospek ekonomi dan arah kebijakan pemerintah membaik. Jepang juga mengalami pengalaman serupa pada dekade 1990-an setelah pecahnya gelembung aset.
Baca Juga
BI Rate Naik ke 5,5%, Ekonom Menilai Keputusan BI Sudah Tepat
Karena itu, apabila pemerintah ingin menjadikan buyback sebagai instrumen stabilisasi pasar, langkah tersebut perlu menjadi bagian dari paket kebijakan yang lebih komprehensif. Pasar membutuhkan kepastian mengenai desain DSI dan tata kelola ekspor komoditas, transparansi Danantara yang setara dengan sovereign wealth fund kelas dunia, disiplin fiskal yang terjaga, komunikasi yang lebih efektif dari pemerintah, Bank Indonesia (BI), dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), serta stabilitas nilai tukar rupiah.
Tekanan terhadap pasar saham juga tercermin dari pergeseran preferensi investor. Di tengah koreksi IHSG dan pelemahan rupiah, sebagian dana global memilih masuk ke Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) yang menawarkan imbal hasil sekitar 6,3-6,7% dengan risiko kredit yang sangat rendah. Hingga akhir Mei 2026, dana asing yang masuk ke SRBI tercatat mencapai hampir Rp 100 triliun.
Perkembangan tersebut menunjukkan bahwa masalah utama pasar keuangan Indonesia saat ini bukan semata-mata kekurangan likuiditas. Pasar masih memiliki dana. Yang sedang dipertanyakan adalah tingkat kepercayaan terhadap arah kebijakan dan prospek ekonomi Indonesia.
Oleh karena itu, buyback saham dapat membantu menciptakan reli jangka pendek dan membentuk dasar (bottom) pasar. Namun untuk mengembalikan IHSG ke tren naik yang berkelanjutan, Indonesia membutuhkan sesuatu yang lebih besar, yaitu pemulihan trust. Ketika kepercayaan kembali, investor asing tidak hanya berhenti menjual, tetapi mulai membeli kembali. Pada titik itulah pasar saham, rupiah, dan investasi dapat pulih secara lebih sehat dan berkelanjutan.

