Saham dan Rupiah Amblas, ‘Trust’ Lebih Penting dari Angka
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Kejatuhan pasar keuangan Indonesia bukan sekadar persoalan angka. Di balik anjloknya indeks saham, amblasnya rupiah, dan terbangnya dana asing dari pasar domestik terdapat persoalan yang jauh lebih mendasar, yakni hilangnya kepercayaan (trust) investor terhadap arah kebijakan dan tata kelola ekonomi nasional. Trust lebih penting dari angka-angka.
“Fenomena yang terjadi akhir-akhir ini menunjukkan bahwa persoalan utama yang dihadapi saat ini bukan semata-mata kinerja ekonomi makro. Justru yang sedang dipertanyakan pasar adalah tingkat kepercayaan terhadap kebijakan dan institusi negara,” kata Ekonom Senior Institute for Development of Economics and Finance (Indef) yang juga Rektor Universitas Paramadina, Prof Didik J Rachbini dalam keterangan resmi, Sabtu (6/6/2026).
Menurut Didik, terkikisnya kepercayaan investor tecermin pada koreksi tajam pasar modal yang telah mendekati tekanan pada era krisis finansial global 2008. Indeks saham yang sempat berada di kisaran 9.200 merosot hingga level 5.900, sejalan dengan kejatuhan saham-saham perbankan berkapitalisasi besar (big cap).
Baca Juga
OJK: Investor Asing Catat Net Sell Rp4,1 Triliun di Pasar Saham pada Mei 2026
“Bahkan, nilai saham bank terbesar, seperti BCA, anjlok lebih dari 50% dari puncaknya, seiring keluarnya investor asing dari pasar Indonesia,” ujar dia.
Prof Didik mengakui, Bank Indonesia (BI) telah menggelontorkan berbagai instrumen moneter dan menguras cadangan devisa untuk menjaga stabilitas pasar. Namun, langkah tersebut belum mampu membalikkan sentimen. “Pasar saham tetap tertekan dan nilai tukar rupiah terus melemah,” tutur dia.
Situasi itu menjadi bukti bahwa dalam kondisi tertentu, trust jauh lebih penting daripada angka-angka ekonomi. Pertumbuhan ekonomi Indonesia masih relatif terjaga, demikian pula sejumlah indikator perdagangan. “Namun ketika kepercayaan menurun, investor tetap memilih pergi,” ucap Didik.
Sebaliknya, kata Didik Rachbini, tidak sedikit negara yang memiliki defisit anggaran besar atau tingkat utang tinggi, tetapi mata uang dan pasar keuangannya tetap kuat. Itu terjadi karena investor percaya terhadap kredibilitas pemerintah dan institusi yang mengelolanya.
“Karena itu, sudah saatnya pemerintah memiliki sense of crisis yang lebih kuat untuk memulihkan kepercayaan pasar,” tegas dia.
Prof Didik mengungkapkan, pasar kini menunggu jawaban terhadap sejumlah pertanyaan mendasar. “Apakah kebijakan ekonomi akan dijalankan secara konsisten dan tidak berubah-ubah? Apakah keputusan strategis bebas dari pengaruh kepentingan politik jangka pendek? Apakah pengelolaan fiskal dilakukan secara hati-hati dan disiplin?” ujar dia.
Baca Juga
Terburuk di Dunia, IHSG Ambles 8,69% dan Market Cap Susut Rp 922 Triliun dalam 4 Hari
Selain itu, menurut Didik, investor mencermati kualitas institusi negara. Prinsip getting institutions right (memastikan institusi berfungsi secara benar, akuntabel, dan transparan) menjadi perhatian utama pasar, termasuk bagaimana lembaga-lembaga independen menjalankan fungsi dan menjaga kredibilitasnya.
Didik Rachbini menambahkan, kepastian hukum juga menjadi faktor krusial. Investor ingin memastikan hak kepemilikan dan investasi mendapatkan perlindungan yang kuat. Ketika keraguan muncul terhadap aspek-aspek tersebut, premi risiko Indonesia meningkat. Alhasil, investor meminta imbal hasil (yield) lebih tinggi atau memilih menarik dananya dari pasar.
Dia menjelaskan, pengalaman masa lalu menunjukkan bahwa pemulihan kepercayaan dapat memberikan dampak besar terhadap perekonomian. Saat pemerintahan Presiden BJ Habibie menjalankan berbagai reformasi pascakrisis, kepercayaan pasar berangsur pulih. Hasilnya, nilai tukar rupiah menguat dari sekitar Rp16.800 menjadi Rp6.500 per dolar AS.
“Waktu itu, Pak Habibie menjalankan berbagai reformasi pascakrisis, dari penguatan demokrasi, pembebasan tahanan politik, pembentukan bank sentral yang independent, hingga lahirnya regulasi antimonopoly,” papar dia.
Dalam konteks itulah, menurut Prof Didik, pandangan Presiden ke-6 RI, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) layak mendapat perhatian. Selama bertahun-tahun, SBY dikenal menjaga etika politik dengan tidak mencampuri kebijakan pemerintah yang sedang berkuasa.
“Namun kali ini, SBY memilih menyampaikan pesan yang sederhana tetapi mendasar, yaitu pulihkan kepercayaan pasar,” tutur dia.
Didik mengemukakan, SBY berulang kali menegaskan bahwa ekonomi tidak hanya ditentukan oleh indikator fiskal dan moneter. Yang lebih penting adalah persepsi pelaku pasar terhadap kepastian hukum, konsistensi kebijakan, kualitas tata kelola pemerintahan, serta kredibilitas komunikasi pemerintah.
Jika faktor-faktor tersebut membaik, kepercayaan akan kembali tumbuh dan modal bakal kembali masuk. Sebaliknya, ketika trust terus menurun, arus modal akan cenderung keluar, permintaan valuta asing meningkat, dan tekanan terhadap rupiah semakin besar. “Gejala itu terlihat jelas saat ini. Rupiah terus tergerus, sementara pasar saham belum mampu keluar dari tekanan,” tegas dia.
Didik Rachbini menekankan, selain faktor institusional, pasar memberi perhatian besar pada kebijakan fiskal. Bagi investor, APBN pada dasarnya merupakan dokumen kepercayaan. Cara pemerintah mengelola anggaran akan membentuk persepsi pasar terhadap kesehatan ekonomi nasional.
Baca Juga
Purbaya Masih Tak Khawatir Rupiah Tembus Rp 18.000 per Dolar AS, Ini Alasannya
“Jika belanja negara meningkat tanpa kendali, berbagai program baru diluncurkan tanpa evaluasi yang memadai, sementara fungsi pengawasan politik berjalan lemah, maka kepercayaan investor akan menurun,” tandas dia.
Sebaliknya, kata Prof Didik, pasar akan merespons positif apabila APBN dikelola secara terukur, defisit tetap terkendali, penerimaan negara realistis, serta seluruh proses penganggaran berlangsung secara transparan dan kredibel. “Pada akhirnya, persoalan yang sedang dihadapi Indonesia saat ini bermuara pada satu kata, yaitu trust,” tandas dia.
Didik Rachbini mengingatkan, kendati tekanan awal dipicu gejolak ekonomi global, respons investor asing menunjukkan bahwa faktor kepercayaan menjadi penentu utama arah pasar. Ketika risiko meningkat dan prospek ke depan dianggap tidak pasti, investor memilih untuk mengurangi eksposur mereka di Indonesia.
“Akibatnya, indeks saham terjun bebas, permintaan dolar meningkat, dan rupiah semakin tertekan,” ucap dia.
Itu sebabnya, Prof Didik memandang upaya memulihkan kepercayaan tidak bisa ditunda. “Sebab tanpa trust, berbagai indikator ekonomi yang terlihat baik sekalipun tidak akan cukup untuk menahan investor tetap berada di pasar Indonesia,” tegas dia.

