OJK Minta Investor mulai Fokus pada Fundamental Emiten, Hindari Investasi Berdasar Emosi
JAKARTA, investortrust.id – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyebut pelemahan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dalam beberapa hari terakhir dipengaruhi kombinasi sentimen domestik dan global, termasuk aksi penyesuaian portofolio investor setelah perubahan komposisi indeks oleh penyedia indeks global.
Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK, Hasan Fawzi, mengatakan salah satu faktor yang menekan pergerakan IHSG adalah proses rebalancing portofolio yang dilakukan investor menyusul pengumuman penghuni indeks oleh penyedia indeks global.
Baca Juga
Net Sell Jumbo Rp 3,73 Triliun, Saham BBCA dan TPIA Dibuang Asing
“Memang faktor tersebut di antaranya adalah penyesuaian portofolio atau rebalancing portofolio dari para investor yang terkait dengan proses rebalancing akibat adanya keputusan dari pengumuman penghuni indeks dari para penyedia indeks global. Namun terdapat juga perkembangan berbagai indikator dan sentimen ekonomi baik domestik maupun global,” kata Hasan menjawab pertanyaan investortrust.id dalam konferensi pers RDKB Mei 2026 secara daring, Jumat (5/6/2026).
Hasan mengimbau investor untuk tetap mencermati perkembangan pasar secara objektif dan tidak mengambil keputusan investasi berdasarkan emosi. Menurutnya, analisis terhadap fundamental perusahaan tetap menjadi faktor penting dalam menentukan strategi investasi di tengah tingginya volatilitas pasar.
“Ini penting agar dalam setiap pengambilan keputusan investasi dapat dilakukan sesuai dengan hasil analisis dimaksud di tengah-tengah kondisi pasar yang bervolatilitas tinggi maupun memiliki dinamika dan tekanan saat ini,” ujar Hasan.
Fundamental Pasar
Meski pasar mengalami tekanan, Hasan menilai fundamental pasar modal Indonesia masih berada dalam kondisi yang solid. Hal tersebut tercermin dari kinerja emiten yang tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI).
Secara agregat, laba bersih emiten pada kuartal I-2026 tumbuh 21%. Menurut Hasan, data historis dan proyeksi kinerja emiten ke depan perlu menjadi pertimbangan rasional bagi investor dalam menyusun strategi investasi.
Baca Juga
OJK Siapkan Tiga Strategi Komprehensif Guna Atasi Fenomena 'Multi-Borrowing' Generasi Muda
“Tentu data historis kinerja emiten terakhir ini dan juga dengan terus mencermati proyeksi dan perhitungan konsensus kinerjanya ke depan, tentu dengan mempertimbangkan berbagai risiko yang berkembang, sebagai dampak dari berbagai faktor yang terjadi, ini yang kita harapkan terus menjadi bagian pertimbangan rasional untuk strategi investasi para investor ke depannya,” katanya.
Sementara itu, IHSG pada perdagangan Jumat (5/6/2026) ditutup turun 245 poin atau 4,20% ke level 5.594, yang merupakan level terendah baru dalam hampir enam tahun terakhir.
Tekanan terbesar terhadap indeks berasal dari pelemahan sejumlah saham berkapitalisasi besar. Saham BBCA turun 6,45% menjadi Rp5.075. Selain itu, saham BREN melemah 10,25% menjadi Rp3.590, DCII turun 5,46% menjadi Rp180.250, serta pelemahan juga terjadi pada saham PANI, CBDK, BRPT, TPIA, dan BBNI.

