Kinerja Rupiah Terburuk di Antara Emerging Market
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id — Nilai tukar rupiah terus berada dalam tekanan terhadap dolar Amerika Serikat. Pada Kamis (04/06/2026), dolar AS menembus level Rp18.000, menandai pelemahan rupiah yang semakin dalam di tengah tekanan pasar keuangan global dan faktor domestik.
Berdasarkan Monthly Economic Update Edisi Mei 2026 yang disusun Office of Chief Economist Group BRI, Macroeconomics & Financial Market Analytics Department, dan diterbitkan di Jakarta pada 3 Juni 2026, rupiah menjadi mata uang dengan kinerja terburuk di antara mata uang emerging market (EM) sepanjang Mei 2026.
Laporan tersebut mencatat, Indeks Dolar AS atau DXY menguat 0,90% secara bulanan atau month to month (mtm) ke level 98,94 pada Mei 2026. Penguatan dolar AS tersebut sejalan dengan ekspektasi pasar bahwa The Federal Reserve masih akan mempertahankan stance kebijakan moneter ketat hingga akhir 2026.
Di tengah kenaikan DXY, pergerakan mata uang EM cenderung beragam. Kondisi ini menunjukkan bahwa tekanan nilai tukar tidak hanya dipengaruhi faktor global, tetapi juga ditentukan oleh kondisi domestik masing-masing negara.
Rupiah tercatat melemah signifikan sebesar 2,91% mtm dan menjadi mata uang dengan kinerja terburuk di antara EM peers. Pelemahan ini terjadi meskipun Bank Indonesia telah menaikkan BI-Rate sebesar 50 basis poin menjadi 5,25% dalam Rapat Dewan Gubernur Mei 2026.
Baca Juga
Rupiah Sentuh Rp 18.041 per US$, Istana: Fundamental Ekonomi Kita Cukup Kuat
Tekanan terhadap rupiah juga tercermin dari kenaikan rata-rata nilai non-deliverable forward (NDF) pada seluruh tenor. Kenaikan NDF mengindikasikan ekspektasi pasar bahwa tekanan terhadap rupiah masih berpotensi berlanjut.
Untuk menjaga stabilitas rupiah, Bank Indonesia melanjutkan operasi moneter melalui kenaikan yield Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) di seluruh tenor. Nilai outstanding SRBI meningkat menjadi Rp939,88 triliun pada akhir Mei 2026.
Di tengah kenaikan yield SRBI, investor asing kembali mencatatkan net inflows sebesar Rp21,81 triliun pada Mei 2026. Namun, dampaknya terhadap penguatan rupiah masih terbatas karena porsi kepemilikan asing di SRBI relatif kecil dan permintaan domestik masih lebih dominan.
BRI menilai kondisi pasar keuangan global masih perlu diwaspadai. Meskipun volatilitas global menurun pada Mei 2026, ketidakpastian geopolitik, arah kebijakan The Fed, serta persepsi risiko domestik tetap menjadi faktor yang menekan rupiah dan pasar keuangan Indonesia.
Dengan tekanan eksternal yang masih tinggi, BI-Rate diperkirakan akan bertahan lebih lama di level tinggi atau higher for longer sepanjang 2026 guna menjaga stabilitas nilai tukar, mengendalikan inflasi, dan memperkuat ketahanan ekonomi domestik.
Sejumlah Mata EM Menguat
Pelemahan rupiah terhadap dolar AS pada Mei 2026 tidak semata-mata disebabkan oleh menguatnya mata uang Amerika Serikat. Di tengah penguatan Indeks Dolar AS (DXY), sejumlah mata uang negara berkembang (emerging market/EM) justru mampu menguat terhadap greenback. Kondisi ini membuat rupiah tercatat sebagai mata uang dengan kinerja terburuk di antara kelompok negara berkembang.
Berdasarkan BRI Monthly Economic Update Mei 2026, DXY menguat 0,90% secara bulanan menjadi 98,94 pada Mei 2026. Penguatan dolar terjadi seiring ekspektasi pasar bahwa kebijakan moneter Amerika Serikat akan tetap ketat hingga akhir 2026. Namun, penguatan dolar tidak berdampak seragam terhadap seluruh mata uang emerging market. Data BRI menunjukkan sejumlah mata uang justru mampu mencatat apresiasi terhadap dolar AS.
Rubel Rusia menjadi mata uang dengan kinerja terbaik setelah menguat 5,80% terhadap dolar AS. Penguatan juga terjadi pada rand Afrika Selatan yang naik 2,75%, sol Peru 2,74%, dan forint Hungaria 2,38%. Di kawasan Asia, dolar Taiwan menguat 1,06%, yuan China naik 0,91%, ringgit Malaysia 0,18%, dan baht Thailand 0,17%.
Sebaliknya, beberapa mata uang memang mengalami pelemahan, seperti won Korea Selatan yang turun 1,80%, leu Rumania 1,75%, real Brasil 1,60%, lira Turki 1,45%, serta peso Kolombia 1,34%. Namun pelemahan tersebut masih jauh lebih kecil dibandingkan rupiah yang terdepresiasi hingga 2,91% dalam satu bulan.
“Di tengah kenaikan DXY, mata uang emerging market bergerak mixed, menandakan bahwa pergerakan nilai tukar turut dipengaruhi oleh faktor domestik pada masing-masing negara,” tulis BRI dalam laporannya.
Pelemahan rupiah yang lebih dalam dibandingkan negara-negara lain menunjukkan bahwa pasar tidak hanya merespons faktor global, tetapi juga mencermati perkembangan ekonomi dan kebijakan domestik Indonesia.
Tekanan terhadap rupiah terjadi meskipun Bank Indonesia telah menaikkan BI-Rate sebesar 50 basis poin menjadi 5,25% pada Rapat Dewan Gubernur Mei 2026. Langkah pengetatan moneter tersebut bahkan diikuti kenaikan yield Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) di seluruh tenor dan peningkatan outstanding SRBI menjadi Rp939,88 triliun.
Bank Indonesia juga berhasil menarik kembali dana asing ke instrumen SRBI. Sepanjang Mei 2026, investor asing mencatatkan net inflow sebesar Rp21,81 triliun. Namun, aliran modal tersebut belum cukup kuat untuk membalikkan tekanan terhadap rupiah.
Pelaku pasar tampaknya masih mencermati sejumlah indikator eksternal Indonesia. Pada kuartal I-2026, Neraca Pembayaran Indonesia mencatat defisit sebesar US$9,15 miliar, jauh lebih besar dibandingkan pola historis pascapandemi. Di saat yang sama, cadangan devisa turun menjadi US$146,2 miliar dari US$148,2 miliar pada bulan sebelumnya akibat kebutuhan stabilisasi nilai tukar dan pembayaran utang luar negeri pemerintah.
Di pasar keuangan domestik, investor asing juga masih menunjukkan sikap hati-hati. Sepanjang Mei 2026, pasar saham Indonesia mencatat net foreign outflow Rp4,1 triliun, sementara pasar obligasi pemerintah mengalami outflow Rp2,56 triliun.
Tekanan terhadap rupiah juga muncul ketika sejumlah lembaga internasional dan investor global mulai mencermati berbagai kebijakan ekonomi nasional. Sentimen tersebut membuat premi risiko Indonesia relatif lebih tinggi dibandingkan beberapa negara emerging market lainnya.
Baca Juga
Prabowo Diam-Diam Sambangi Danantara saat Rupiah dan IHSG Kompak Merosot
Ke depan, tantangan bagi rupiah diperkirakan masih berat. Inflasi Amerika Serikat yang bertahan di level 3,8% dan kecenderungan hawkish Ketua Federal Reserve yang baru, Kevin Warsh, membuat pasar memperkirakan suku bunga AS akan tetap tinggi lebih lama. Kondisi ini berpotensi mempertahankan daya tarik aset-aset berbasis dolar AS dan menahan arus modal ke negara berkembang.
Meski demikian, Indonesia masih memiliki sejumlah penyangga fundamental. Inflasi domestik masih terkendali di level 3,08%, neraca perdagangan mencatat surplus selama 71 bulan berturut-turut, dan cadangan devisa masih setara 5,6 bulan impor serta pembayaran utang luar negeri pemerintah.
Karena itu, tantangan terbesar rupiah saat ini bukan hanya datang dari kuatnya dolar AS, melainkan juga dari kebutuhan untuk memperkuat keyakinan pasar terhadap prospek ekonomi dan arah kebijakan domestik. Fakta bahwa banyak mata uang emerging market mampu bertahan bahkan menguat ketika rupiah terpuruk menjadi sinyal bahwa faktor domestik kini memainkan peran yang semakin besar dalam menentukan arah nilai tukar Indonesia.

