Intip Target Harga Saham Telkom (TLKM) Ini, Rekomendasi Beli Tetap Dipertahankan
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id –Sejumlah perusahaan sekuritas tetap mempertahankan rekomendasi beli saham PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM), meski kinerja keuangan kuartal I-2026 operator telekomunikasi terbesar di Indonesia ini di bawah ekspektasi.
BRI Danareksa Sekuritas mempertahankan rekomendasi beli saham TLKM dengan target harga dipangkas menjadi Rp 3.750 per saham. Sedangkan Sucor Sekuritas mempertahankan rekomendasi beli saham TLKM dengan target harga Rp 3.520 per saham.
Hingga kuartal I-2026, TLKM mencatatkan penurunan laba bersih dari Rp 5,54 triliun emnjadi Rp 4,34 triliun. Pendapatan operasional naik dari Rp 36,63 triliun tahun lalu menjadi Rp 37,18 triliun pada kuartal I-2026. EBITDA juga turun dari Rp 18,23 triliun menjadi Rp 17,97 triliun.
Baca Juga
Telkom (TLKM) Luncurkan AIcosystem, Perkuat Ekosistem AI Terintegrasi di Indonesia
Analis BRI Danareksa Sekuritas Kafi Ananta dan Erindra Krisnawan mengatakan bahwa kinerja keuangan kuartal I-2026 Telkom belum memenuhi ekspektasi analis setelah margin EBITDA berada di bawah panduan manajemen. Meski demikian, membaiknya average revenue per user (ARPU) layanan seluler menjadi sentimen positif terhadap saham TLKM.
BRI Danareksa Sekuritas menyebutkan bahwa realisasi pendapatan senilai Rp 37,19 triliun baru mencapai 24,5% dari proyeksi pendapatan sepanjang 2026. EBITDA Telkom dinilai mengecewakan akibat penurunan margin menjadi 48,3%, dibandingkan ekspektasi analis sebesar 50,7% dan konsensus pasar 50,1%, serta berada di bawah panduan manajemen di atas 50%.
Tekanan margin terutama berasal dari meningkatnya kontribusi penjualan voucher gim yang memiliki margin keuntungan kotor (gross profit margin/GPM) tipis, hanya sekitar 5-6%. Bisnis ini menghasilkan pendapatan sekitar Rp 1,2 triliun per kuartal. Manajemen memperkirakan penjualan produk digital tersebut masih tumbuh pada kuartal-kuartal berikutnya, meski dengan laju yang lebih moderat dan fokus produk bergeser ke layanan musik, kecerdasan buatan (AI), dan pendidikan.
Baca Juga
Pendapatan Telkom (TLKM) Naik 1,5% di Kuartal I-2026, Transformasi TLKM 30 Mulai Berbuah
Telkom juga mengalokasikan anggaran Rp 1-1,2 triliun untuk pelaksanaan fase kedua program ERP pada semester II-2026. Program ini menyasar karyawan di tingkat anak usaha sebagai bagian dari upaya penyederhanaan bisnis non-inti. Tambahan biaya tersebut diperkirakan menjadi tekanan operasional jangka pendek dan membuat margin EBITDA 2026 diproyeksikan berada di level 48,7%.
“Penurunan target harga saham TLKM mencerminkan pemangkasan proyeksi EBITDA 2026-2028 sebesar 3,7%-5,4%. Meski demikian, pandangan jangka pendek masih netral karena adanya potensi pelemahan musiman bisnis seluler pada kuartal II-2026 dan kemungkinan kenaikan belanja modal (capex) dari panduan saat ini sebesar 17-19% dari pendapatan,” tulisnya.
Secara terpisah, Sucor Sekuritas tetap mempertahankan rekomendasi belisaham TLKM dengan target harga Rp 3.520 per saham. Target harga ini mempertimbangkan proyeksi pendapatan Telkom (TLKM) mencapai Rp 149 triliun pada 2026 dan naik menjadi Rp 152 triliun pada 2027. Laba bersih diperkirakan mencapai Rp 19 triliun pada 2026 dan tetap berada di kisaran Rp 19 triliun pada 2027.
Baca Juga
Divestasi AdMedika Group ke Fullerton Health Tuntas, TelkomGroup Fokus Bisnis Inti
EBITDA diproyeksikan mencapai Rp 74 triliun pada 2026 dan meningkat menjadi Rp 75 triliun pada 2027. Sementara rata-rata free cash flow to firm (FCFF) diperkirakan mencapai Rp 33 triliun selama periode 2026-2027. Asumsi pertumbuhan ARPU sebesar 6% per tahun pada 2026-2027. Jumlah pelanggan diperkirakan relatif stabil di level 153 juta pelanggan pada 2026 dan 150 juta pelanggan pada 2027.
“Meski TLKM berhasil mencatatkan perbaikan ARPU seluler, tantangan makroekonomi masih menjadi faktor yang perlu diperhatikan terkait laju saham TLKM. Pelemahan rupiah berpotensi meningkatkan kebutuhan belanja modal dan biaya investasi jaringan. Selain itu, potensi nilai yang dapat dihasilkan dari divestasi sebagian bisnis pusat data serta spin-off aset fiber masih perlu dibuktikan lebih lanjut,” tulis riset tersebut.

