Menkeu Purbaya Optimistis IHSG Kembali Menguat, Fundamental Ekonomi Masih Solid
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa masih optimistis dengan potensi kenaikan kembali indeks pasar saham Indonesia. Dia menyebut, fundamental ekonomi Indonesia masih baik.
“Saya yakin akan naik lagi karena fondasi ekonomi masih bagus,” kata Purbaya, di kompleks DPR RI, Jakarta, dikutip Kamis (4/6/2026).
Purbaya menjelaskan kondisi yang terjadi di Bursa Efek Indonesia (BEI) hanya bersifat jangka pendek. Dia yakin pondasi ekonomi masih baik karena pendapatan perpajakan diklaim masih naik.
“Ini mungkin ada short, ketakutan orang jangka pendek saja. Fondasi ekonomi bagus, nggak ada masalah,” ujar dia.
Purbaya, yang sebelumnya yakin Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencapai 10.000, kali ini enggan memprediksi level. Dia meminta investor tak takut untuk menanamkan modalnya di pasar saham. Sebab, dia menjamin bahwa ke depan tidak hanya fokus terhadap masalah fundamental ekonomi.
“Kita akan pastikan lagi semuanya lebih baik, termasuk menjaga sentimen pasar,” ujar dia.
Berdasarkan data, IHSG pada Rabu (3/6/2026) turun 4,1% ke 5.941,1. Arus keluar dana asing bersih atau foreign net outflow mencapai Rp 993,2 miliar.
Baca Juga
IHSG Anjlok Hampir 5% ke 5.651 di Intraday Hari Ini, Analis Ungkap Tekanan Ini
Penurunan ini setara -31,29% year to date dengan foreign net outflow mencapai Rp 56,4 triliun year to date.
Penurunan IHSG ini terus berlanjut. Pada pagi ini, IHSG telah jatuh 260 poin atau 4,35% menjadi 5.680 hanya dalam 40 menit transaksi. Investortrust mencatat
Penurunan dipicu atas kejatuhan seluruh sektor saham, seperti material dasar terjun 7,7%, sektor energi 5,20%, sektor industri 5%, sektor konsumer primer 3,21%, sektor infrastruktur 6,19%, dan sektor keuangan 3,24%.
Tekanan terbesar datang dari kejatuhan saham big cap, seperti BREN, AMMN, TPIA, BYAN, MORA, INTP, hingga BRPT. Bahkan saham big cap, seperti BBNI anjlok lebih dari 4%, BBCA dan BBRI anjlok lebih dari 3%, dan BMRI anjlok 2%.
Penurunan IHSG juga sejalan dengan berlanjutnya pelemahan nilai tukar rupiah sebanyak 47 poin ke level terendah baru sepanjang masa Rp 18.017. Penurunan indeks juga sejalan dengan pelemahan seluruh sektor saham global.

