Laba Timah (TINS) Berpotensi Tembus Rp 3,4 Triliun, Kenaikan Harga Jadi Pendorong Utama
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id – PT Timah Tbk (TINS) optimistis catatkan kinerja kuat sepanjang tahun ini, seiring dengan lompatan kinerja keuangan sepanjang kuartal I-2026. Laba bersih perseroan diprediksi tembus Rp 3,36 triliun tahun ini, dibandingkan realisasi tahun lalu Rp 1,31 triliun.
Hingga kuartal I-2026, TINS membukukan laba bersih sebesar Rp 1,5 triliun atau setara 44,6% dari proyeksi laba bersih tahun 2026 yang telah direvisi. Kinerja tersebut didukung penjualan timah olahan sebesar 6.000 ton dengan ASP mencapai US$ 49.200 per ton.
BRI Danareksa Sekuritas menyebutkan bahwa lompatan laba TINS tersebut mengonfirmasi fase infleksi pertumbuhan laba perseroan yang ditopang oleh kenaikan harga jual rata-rata (average selling price/ASP) timah, volume penjualan yang solid, serta ekspansi margin yang signifikan.
Baca Juga
Timah (TINS) Dukung PP Tata Kelola Ekspor SDA, Dampak bagi Kinerja Tengah Dipelajari
Di sisi biaya, cash cost tercatat US$21.500 per ton atau naik 3% secara tahunan. Meski demikian, TINS mampu untuk mencatatkan peningkatan profitabilitas yang terlihat dari margin laba kotor sebesar 38,6%, margin EBITDA 37,2%, dan margin laba bersih 27,5%.
“Seiring kuatnya harga timah global, proyeksi laba bersih TINS untuk 2026 dinaikkan 13,4% menjadi Rp 3,4 triliun. Revisi tersebut didorong oleh kenaikan asumsi ASP menjadi US$50.000 per ton dari sebelumnya US$40.000 per ton,” tulis analis BRI Danareksa Sekuritas Naura Reyhan Muchlis dan Andhika Audrey dalam riset yang diterbitkan di Jakarta, belum lama ini.
Meski demikian, BRI Danareksa Sekuritas menyebutkan, perseroan masih menghadapi sejumlah risiko tahun ini, seperti gangguan pengiriman akibat masa transisi regulasi ekspor dan waktu penerbitan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB). Risiko tersebut muncul setelah implementasi aturan ekspor baru serta berakhirnya relaksasi RKAB pada akhir Maret 2026. Faktor ini juga menjadi alasan penurunan proyeksi laba bersih 2027 sebesar 8,7% menjadi Rp 3,5 triliun.
Baca Juga
Royalti Tembaga, Emas, dan Timah Naik, Emiten Timah hingga Emas Dibayangi Volatilitas Jangka Pendek
Di sisi lain, terang BRI Danareksa Sekuritas, revisi tarif royalti masih menjadi faktor yang membayangi prospek saham TINS. Proyeksi dasar belum memasukkan dampak perubahan royalti, namun kebijakan tersebut dinilai menjadi risiko utama yang dapat menekan margin dan membatasi potensi kenaikan valuasi saham.
Berdasarkan analisis sensitivitas, laba bersih TINS berpotensi turun menjadi sekitar Rp1,98 triliun dari proyeksi dasar Rp 3,36 triliun, apabila skema royalti yang sebelumnya diusulkan diterapkan. Dalam berbagai skenario, laba bersih tahun 2026 diperkirakan berada pada kisaran Rp 1,46 triliun hingga Rp 2,50 triliun.

