Mantan Bos BEI Sebut Pasar Saham Songsong November Ceria, Begini Ulasannya
JAKARTA, investortrust.id – Mantan Direktur Utama Bursa Efek Jakarta Tahun 1991-1996, Hasan Zein Mahmud, menilai, penguatan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sebesar 0,44% ke level 6.788,850 sepekan terakhir merupakan awal memupus pesimistis di pasar saham.
“IHSG nampaknya pelan-pelan mau menghapus trend negatif 2,9% selama setahun terakhir, memulai minggu pertama November dengan kenaikan. Ini peluang menyongsong November ceria di bursa saham,” papar Hasan dikutip dari pesan singkat, Sabtu (4/11/2023).
Sebagaimana diketahui, pada periode 30 Oktober – 3 November 2023, pasar keuangan ditutup dengan beberapa indikator pasar yang ramah. The Fed beristirahat "mempermainkan" tingkat bunga, walau tetap membuka peluang pada sidang FOMC Desember dan Januari mendatang.
Baca Juga
Top 10 Broker Sepekan, Mansek Juara dengan Nilai Transaksi Rp 12,08 Triliun
Indeks USD - DXY - menurun tajam. Ditutup pada 105.07, dari 106.12 sehari sebelumnya. Dari 112.99, rekor tertingginya selama 52 minggu terakhir. Begitu juga imbal hasil treasury, ditutup menjauh dari angka 5%, pada 4,419%, turun dari 4.519% sehari sebelumnya. Bandingkan dengan angka 5,022%, rekor tertinggi selama setahun terakhir.
Barita bagus bagi pasar keuangan Indonesia. Sinyal yang cukup untuk menyedot kembali dana asing masuk ke SBN dan saham. Rupiah perkasa, ditutup pada Rp 15.621 Jumat kemarin. Bandingkan dengan Rp 15.942 pada 15 Oktober lalu yang merupakan titik terlemah selama setahun belakangan.
Sementara kata dia, indeks harga saham AS naik tiga hari berturut turut. DJIA ditutup pada 34.061,32. S&P, serta NASDAQ mencatat persentase kenaikan yang lebih tinggi. Padahal akhir Oktober lalu, DJIA masih bertengger di 32.417,59.
Baca Juga
Pasar Saham Marak Sepekan, Peluang Window Dressing Makin Kuat
Emas tak mau ketinggalan. Sempat menembus US$ 2.000 per onz Jumat, walaupun ditutup pada 1.992.72. Turunnya tingkat imbal hasil obligasi, cuaca ekstrim geopolitik global dan bank sentral banyak negara yang terus memborong emas, nampaknya akan melanjutkan kenaikan harga emas.
Pada sisi lain, kata Hasan, temperatur politik dalam negeri mulai meningkat. Menyimak statistik sejak pemilu langsung 2004, IHSG umumnya menurun selama kampanye dan menjelang pencoblosan, namun meningkat signifikan mulai dari pemungutan suara sampai pelantikan presiden baru di bulan Oktober.
“Ada satu catatan penting. Demo dan kerusuhan hama berbahaya bagi harga saham. Pasca pencoblosan April 2019, IHSG sempat mendekati angka 6.600. Namun demo rusuh selama bulan Mei 2019 menjadikan IHSG tampil paling buruk selama periode pemilu sejak reformasi,” urai Hasan.
Dikatakan, politik bersih dan damai, plus efisien - biaya politik di negara ini sedemikian mahal - prasyarat agar Indonesia mampu menaiki tahap demi tahap anak tangga pembangunan. Kesejahteraan meningkat bersama dengan kualitas peradaban.
“Dan kita, para investor, bisa menangguk cuan di akhir tahun,” pungkasnya.

