Menkeu Berpolemik dengan para Ekonom, Pasar Melihat Fakta Lapangan
Poin Penting
|
Oleh: Hari Prabowo *)
INVESTORTRUST.ID - Gejolak nilai tukar rupiah terhadap dolar AS dan indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) belakangan ini menjadi alarm yang sulit diabaikan.
Sejak awal 2026 hingga Kamis (28/2026) pagi ini, rupiah tercatat melemah sekitar 7% terhadap dolar AS, sementara IHSG terkoreksi lebih dari 29%. Angka-angka ini bukan sekadar statistik pasar, melainkan sinyal bahwa ada kegelisahan yang sedang dirasakan pelaku ekonomi.
Di tengah situasi tersebut, publik disuguhi perdebatan antara pemerintah dan para ekonom mengenai kondisi ekonomi nasional. Pemerintah, melalui Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa, menegaskan fundamental ekonomi Indonesia masih kuat. Pertumbuhan ekonomi kuartal I-2026 yang mencapai 5,61% (year on year/yoy) dijadikan bukti bahwa perekonomian tetap berada di jalur positif.
Namun, para ekonom melihat sisi lain yang tidak kalah penting, yakni kondisi fiskal negara. Defisit APBN yang mencapai Rp240 triliun atau sekitar 0,93% terhadap produk domestik bruto (PDB) dipandang sebagai tanda adanya tekanan yang perlu diwaspadai.
Di sinilah muncul pertanyaan besar: jika ekonomi benar-benar kuat, mengapa tekanan terhadap rupiah dan pasar saham justru semakin dalam?
Pasar pada dasarnya memiliki cara sendiri dalam membaca keadaan. Pelaku pasar tidak hanya mendengar pernyataan pejabat atau membaca data pertumbuhan ekonomi di atas kertas. Mereka melihat kondisi nyata di lapangan, menghitung risiko, memproyeksikan keuntungan, lalu mengambil keputusan berdasarkan keyakinan mereka sendiri. Dari situlah harga terbentuk.
Itu sebabnya, pasar sering kali dianggap sebagai cermin paling jujur. Tidak ada yang bisa memaksa pasar untuk percaya. Intervensi mungkin saja dilakukan, tetapi biasanya hanya bersifat sementara. Pada akhirnya, harga akan kembali mencerminkan persepsi riil terhadap kondisi ekonomi.
Pelemahan rupiah dan tekanan pada IHSG saat ini menunjukkan bahwa kepercayaan pasar sedang mengalami ujian. Investor tidak hanya menilai apa yang dikatakan pemerintah, tetapi juga membandingkannya dengan realitas yang mereka lihat sehari-hari. Ketika ada ketidaksesuaian antara narasi dan kenyataan, pasar biasanya bereaksi cepat.
Yang perlu dipahami, dampak pelemahan rupiah jauh lebih luas dibandingkan sekadar penurunan harga saham. Jika IHSG terutama memengaruhi investor pasar modal, maka nilai tukar rupiah menyentuh hampir seluruh aspek kehidupan masyarakat. Mulai dari harga barang impor, biaya produksi industri, inflasi, hingga daya beli masyarakat dapat terkena imbasnya.
Karena itu, situasi ini seharusnya tidak dianggap sebagai gejolak biasa. Pasar membutuhkan lebih dari sekadar pernyataan optimistis. Yang dibutuhkan saat ini adalah langkah konkret yang mampu memulihkan kepercayaan publik.
Pemerintah perlu menunjukkan prioritas yang jelas, terutama dalam pengelolaan anggaran negara. Ketika pendapatan negara belum mampu meningkat signifikan sementara defisit masih terjadi, maka efisiensi belanja menjadi pilihan yang sulit dihindari. Pengeluaran yang tidak mendesak, proyek berbiaya besar yang manfaatnya belum dapat dirasakan dalam waktu dekat, hingga kebijakan yang berpotensi membebani fiskal sebaiknya dievaluasi ulang.
Lebih penting lagi, semua langkah tersebut harus dilakukan secara cepat dan transparan. Pasar sangat sensitif terhadap ketidakpastian. Pernyataan yang terlalu optimistis tanpa dukungan fakta justru berisiko memperbesar keraguan investor.
Di sisi lain, kritik dari ekonom dan pengamat seharusnya tidak dipandang sebagai serangan terhadap pemerintah. Kritik merupakan bentuk kepedulian agar situasi tidak semakin memburuk. Dalam kondisi seperti sekarang, pemerintah justru perlu membuka ruang dialog dan menjadikan berbagai masukan sebagai bahan evaluasi.
Pada akhirnya, stabilitas pasar sangat bergantung pada kepercayaan. Ketika pemerintah mampu menunjukkan kebijakan yang realistis, disiplin fiskal yang kuat, dan komunikasi yang jujur kepada publik, pasar perlahan akan merespons positif.
Di pihak lain, investor lokal juga perlu menjaga rasionalitas. Kepanikan yang berlebihan hanya akan memperdalam tekanan pasar. Dalam situasi sulit, yang paling dibutuhkan adalah kepercayaan, kehati-hatian, dan kemampuan membaca kondisi secara jernih.
Sebab pada akhirnya, pasar mungkin bisa dipengaruhi untuk sementara waktu, tetapi tidak pernah bisa dibohongi terlalu lama. ***
*) Ketua Lembaga Pendidikan dan Pelatihan Pasar Modal (LP3M) Investa dan pengamat pasar modal.

