Bagikan

Prajogo Pangestu Bukan Lagi Terkaya Indonesia Usai Saham Grup Barito Rontok hingga 74%

Poin Penting

Kekayaan Prajogo Pangestu turun menjadi US$ 15,1 miliar usai saham Grup Barito anjlok.
Saham CUAN, BREN, hingga TPIA terkoreksi tajam dalam kisaran 46%-74% sepanjang 2026.
Low Tuck Kwong kini menjadi orang terkaya Indonesia setelah menyalip Prajogo Pangestu.

JAKARTA, investortrust.idTaipan Prajogo Pangestu, pendiri Barito Group, terdepak dari posisi orang terkaya nomor satu di Indonesia menjadi peringkat tiga setelah saham-saham emiten yang dikendalikannya mengalami penurunan drastic sepanjang year to date (ytd).

Berdasarkan data Forbes real time, Kamis (21/5/2026), nilai kekayaan Prajogo Pangestu turun menjadi US$ 15,1 miliar. Penurunan tersebut membuat posisinya tergeser dari peringkat teratas orang terkaya di Indonesia.

Posisi orang terkaya di Indonesia kini akhirnya kembali direbut Low Tuck Kwong, pengendali PT Bayan Resources Tbk (BYAN), dengan nilai kekayaan mencapai US$ 15,9 miliar. Sementara posisi kedua ditempati R Budi Hartono, pengendali PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) dan Djarum Group.

Baca Juga

Free Float Saham 956 Emiten Diumumkan, Saham Prajogo hingga Sinarmas Ini Jadi Sorotan

Penurunan seluruh saham emiten tersebut menjadikan total kapitalisasi pasar (market cap) emiten milik Prajogo Pangestu tergerus menjadi Rp 871,27 triliun. Dengan demikian grup Barito kini hanya menyumbang 7,9% terhadap total market cap BEI senilai Rp 10.963 triliun hingga penutupan kemarin. Penurunan drastis saham Prajogo terjadi setelah MSCI mendepak sahamnya, seperti BREN dan TPIA.

Berdasarkan data perdagangan Bursa Efek Indonesia (BEI), enam saham emiten yang dikendalikan Prajogo Pangestu tercatat turun drastis dalam kisaran 46% hingga 74% sepanjang year to date (ytd).

Instalasi energi terbarukan milik PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN). Foto: Istimewa

Penurunan terdalam dialami saham PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN) yang ambles 74% menjadi Rp590. Penurunan tersebut membuat kapitalisasi pasar emiten turun menjadi Rp6,32 triliun.

Saham PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) juga merosot 71% menjadi Rp2.790. Koreksi tersebut membuat kapitalisasi pasar emiten panas bumi ini turun menjadi Rp373 triliun, dibandingkan posisi tertinggi yang sempat berada di atas Rp1.200 triliun.

Baca Juga

Harga Emas Naik 1%, Harapan Damai Iran Redakan Tekanan Inflasi

BREN kini menempati posisi emiten dengan kapitalisasi pasar terbesar keenam di BEI, turun drastis dibandingkan sebulan lalu yang masih berada di posisi pertama.

Selanjutnya, saham PT Petrosea Tbk (PTRO) turun 64,29% menjadi Rp4.000 sepanjang ytd. Kapitalisasi pasar emiten tersebut menyusut menjadi Rp40,34 triliun hingga penutupan perdagangan saham kemarin.

Pelemahan juga terjadi pada saham PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) yang turun lebih dari 62,67% menjadi Rp2.660. Kapitalisasi pasar TPIA turun menjadi Rp230,11 triliun dan membuat peringkatnya di BEI merosot menjadi emiten terbesar nomor sembilan, dari sebelumnya peringkat tiga.

Baca Juga

Hadiah Ultah ke-82 Prajogo, Saham Didepak MSCI hingga Kekayaan Tergerus

Sementara itu, saham PT Chandra Daya Investasi Tbk (CDIA) turun 53,94% menjadi Rp790. Kapitalisasi pasar emiten yang melantai di BEI sejak tahun lalu tersebut tersisa Rp98,61 triliun.

Adapun saham PT Barito Pacific Tbk (BRPT) menjadi emiten dengan penurunan paling rendah di grup Prajogo Pangestu, yakni 46% menjadi Rp1.720 sepanjang year to date. Kapitalisasi pasar saham BRPT turun menjadi Rp161,24 triliun.

Grafik Saham Emiten Prajogo

The Convergence Indonesia, lantai 5. Kawasan Rasuna Epicentrum, Jl. HR Rasuna Said, Karet, Kuningan, Setiabudi, Jakarta Pusat, 12940.

FOLLOW US

logo white investortrust
Telah diverifikasi oleh Dewan Pers
Sertifikat Nomor1188/DP-Verifikasi/K/III/2024