IHSG Bergerak Fluktuatif Usai Pidato Prabowo, Pasar Cermati BI Rate dan Badan Ekspor
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia bergerak fluktuatif pada perdagangan Rabu (20/5/2026) usai pidato Presiden Prabowo Subianto dalam rapat paripurna DPR RI.
Berdasarkan data penutupan sesi I perdagangan Rabu (20/5/2026), IHSG terkoreksi 0,60% ke level 6.332,17. Namun memasuki awal sesi II kembali ke zona hijau, tetapi indeks kemudian berbalik melemah setelah satu jam transaksi.
Pelemahan indeks dipengaruhi kombinasi sentimen domestik mulai dari arah kebijakan pemerintah, keputusan suku bunga Bank Indonesia, hingga isu pembentukan badan khusus ekspor komoditas strategis.
Baca Juga
Pengamat pasar modal Elandry Pratama menilai pelaku pasar saat ini masih mencermati sejumlah katalis utama yang memengaruhi arah pergerakan IHSG dalam jangka pendek.
“Menurut saya, pergerakan IHSG hari ini cukup dipengaruhi kombinasi beberapa sentimen besar, mulai dari pidato Presiden, keputusan suku bunga Bank Indonesia, hingga isu pembentukan badan khusus ekspor komoditas strategis,” kata Elandry saat dihubungi investortrust.id, Rabu (20/5/2026).
Menurutnya, pasar saat ini fokus terhadap arah kebijakan pemerintah, terutama terkait penguatan fiskal, stabilitas rupiah, serta strategi menjaga pertumbuhan ekonomi di tengah tekanan global.
Baca Juga
Selain itu, pelaku pasar menunggu hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia terkait BI Rate karena dinilai akan memengaruhi arus dana asing, nilai tukar rupiah, dan sentimen pasar saham domestik.
“Konsensus pasar sebelumnya memperkirakan BI Rate berpotensi naik ke 5% untuk menjaga stabilitas rupiah,” jelasnya.
Di sisi lain, isu pembentukan badan khusus ekspor komoditas strategis turut memberi tekanan terhadap saham-saham berbasis komoditas seperti batu bara, crude palm oil (CPO), dan mineral.
“Pasar khawatir apabila nantinya ada mekanisme pengaturan satu pintu atau intervensi harga yang berpotensi menekan margin laba emiten komoditas. Sentimen inilah yang sebelumnya sempat memicu tekanan jual cukup besar di sektor energi dan basic materials,” ujar Elandry.
Baca Juga
Meski demikian, ia melihat masih terdapat sentimen positif dari sisi fiskal, terutama terkait kabar efisiensi program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Menurut Elandry, pagu program MBG disebut turun dari Rp335 triliun menjadi sekitar Rp268 triliun. Langkah tersebut dipandang pasar sebagai upaya menjaga disiplin APBN agar defisit tetap terkendali dan tekanan terhadap rupiah lebih stabil.
“Hal ini dinilai cukup positif bagi persepsi investor terhadap keberlanjutan fiskal Indonesia,” ungkapnya.
Saham Big Caps
Elandry menilai IHSG masih berpotensi bergerak volatil dalam jangka pendek karena pasar masih mencerna arah kebijakan pemerintah dan Bank Indonesia.
Baca Juga
Prabowo Ancam Koruptor Pakai Teknologi Mutakhir untuk Cari Bunker-Bunker Tersembunyi
“Namun apabila stabilitas fiskal, rupiah, dan kepercayaan investor tetap terjaga, maka peluang rebound IHSG masih cukup terbuka, terutama pada saham-saham big caps dan sektor domestik yang fundamentalnya masih solid,” tuturnya.
Sementara itu, Analis MNC Sekuritas Herditya Wicaksana atau Didit mengatakan secara teknikal IHSG berpeluang mengalami technical rebound dalam jangka pendek, meski risiko koreksi masih perlu diwaspadai.
“Secara besarnya kami masih mencermati adanya koreksi dari IHSG untuk menguji area 6.197 atau worst case-nya menutup gap di 6.092,” kata Didit.

